Minggu 29 Desember 2019, 09:38 WIB

Rutin Membersihkan Rumah Meminimalisir Masuknya Ular

Antara | Nusantara
Rutin Membersihkan Rumah Meminimalisir Masuknya Ular

Antara
Petugas menunjukkan tangkapan ular kobra. Membersihkan rumah bisa meminimalisir masuknya ular ke rumah.

 

BULAN Oktober hingga Januari merupakan musim tetas reptil. Masyarakat harus mewaspadai dan harus bisa meminimalisir masuknya ular ke dalam rumah. Komunitas pecinta satwa Kampung Satwa Yogyakarta menyebutkan bahwa membersihkan rumah secara rutin dalam meminimalisir masuknya ular termasuk ular kobra ke area tempat tinggal.

"Upaya untuk menghindari masuknya ular, termasuk kobra ke rumah-rumah, dapat dilakukan dengan membersihkan area rumah secara rutin," kata Sekretaris Kampung Satwa Hanif Kurniawan di Yogyakarta, Minggu (29/12/2019).    

Menurut dia, pada Oktober hingga Januari memang merupakan musim tetas reptil.    

"Jadi fenomena kemunculan anak ular di beberapa daerah ini sebenarnya hal yang wajar," lanjut Hanif.

Ia mengatakan kemunculan ular kobra di permukiman itu karena dulunya sebelum menjadi kawasan perumahan, lokasi tersebut merupakan habitat asli kobra. Apalagi kawasan perumahan dulunya sawah yang banyak ditumbuhi pepohonan.   

Hanif menambahkan jika ditemukan kobra di area rumah, agar diusir menggunakan sapu.    

"Sebisa mungkin jangan sampai dibunuh," katanya.    

Apabila ada warga tergigit ular, maka penanganan pertama sesuai dengan standar WHO. Yakni dengan cara imobilisasi atau membuat bagian tubuh yang digigit ular itu tidak bergerak.   

"Cara termudah dengan menggunakan dua bilah kayu, bambu atau kardus serta bahan-bahan lain yang bersifat rigid atau kaku," katanya.    

Ada dua metode imobilisasi, yakni metode imobilisasi dengan elastic band atau perban elastis. Metode ini khusus untuk kasus gigitan ular dengan bisa neurotoksin yang kuat.    

"Imobilisasi untuk neurotoksin yang sifatnya cepat menyebabkan gagal napas dan gagal jantung dengan hitungan detik hingga menit, disarankan menggunakan elastic band," terang Hanif. Metode perban elastis harus dilakukan dengan tenaga terlatih seperti perawat. Tindakan ini tidak disarankan untuk dilakukan oleh masyarakat awam. Imobilisasi dilakukan dalam kurun waktu 24 jam sampai 48 jam.

Selanjutnya, ada metode imobilisasi yang tidak menggunakan elastic band. Menurutnya, metode ini digunakan untuk menangani pasien-pasien yang tergigit ular yang sifatnya hematotoksin sehingga menyebabkan pembengkakan.    

"Kalau diperban elastis justru membuat kondisinya lebih jelek. Contohnya saat digigit ular tanah, ular kobra, king kobra. Itu bengkak dan menimbulkan sebuah pembengkakan atau nekrosis. Meskipun kobra dan king kobra sebenarnya juga ada sifat neurotoksinnya. Tetapi karena ada pembekakan, jadi tidak bisa menggunakan perban elastis," tambahnya.

Setelah dilakukan penanganan awal tersebut, korban segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter yang menangani tidak boleh sembarangan dalam memberikan antibisa.

Inspektur Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman Heru Sapto Priyono mencatat dalam kurun waktu tiga bulan terakhir sudah ada tujuh ular kobra yang diamankan. Ada yang masih anakan kobra, ada juga yang sudah berukuran
satu meter lebih.    

"Ular kobra tersebut ada yang kembali dilepasliarkan, ada juga yang terpaksa dibunuh. Karena dianggap sudah membahayakan kalau dilepaskan," jelas Heru.

Ia menambahkan pelepasliaran kobra masih berupa anakan kobra. Lokasi pelepasliarannya juga di areal persawahan yang jauh dari rumah warga.   

"Selain itu, pertimbangannya yakni di lokasi persawahan yang banyak tikusnya. Lokasinya sudah disurvei teman-teman dan pasti aman," ujarnya.

Heru mengatakan lokasi yang sering ditemukan ular kobra yakni di kompleks perumahan yang berdekatan dengan sawah atau sungai. Dari kejadian di Ngemplak, Sleman, dan Godean beberapa waktu yang lalu selain di kompleks perumahan juga ada yang masuk kantor.  Hingga saat ini belum ada korban gigitan kobra. Fenomena ular kobra ini baru terjadi pada 2019. Tahun lalu, pihaknya kebanyakan melakukan evakuasi untuk ular piton. Sehingga belum banyak personel yang tangkas dalam menangani ular berbisa masih dalam tahapan pelatihan. (OL-3)

 

Baca Juga

ANTARA

Gelombang Tinggi dan Banjir Rob Ancam Pesisir Indramayu

👤Nurul Hidayah 🕔Rabu 27 Januari 2021, 21:18 WIB
Masyarakat dan nelayan di pesisir Indramayu, Jawa Barat diimbau untuk mewaspadai gelombang tinggi dan banjir...
Antara

Pemkab OKI Target Tingkatkan Investasi Daerah

👤Dwi Apriani 🕔Rabu 27 Januari 2021, 21:10 WIB
Ogan Komering Ilir akan memaksimalkan peluang kehadiran Tol Trans Sumatera untuk meningkatkan...
MI/Mohammad Ghazi

Komplotan Remaja Pencoleng Kotak Amal Masjid Dibekuk

👤Mohammad Ghazi 🕔Rabu 27 Januari 2021, 20:50 WIB
10 tersangka pencoleng ini masih remaja yang biasa mencuri kotak amal di sejumlah masjid di wilayah Kabupaten...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya