Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Gubernur Bali Sebut Program KB Bikin Punah Nyoman dan Ketut

Arnoldus Dhae
04/12/2018 17:10
Gubernur Bali Sebut Program KB Bikin Punah Nyoman dan Ketut
(MI/Ruta Suryana)

GUBERNUR Bali I Wayan Koster menegaskan program Keluarga Bencana (KB) belum perlu diterapkan di Bali. Hal ini disampaikan Koster saat membuka Kongres Kebudayaan Ketiga di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Selasa (4/12).

Menurut Koster, program KB yang menyarankan tiap keluarga hanya memiliki dua anak tidak selaras dengan adat dan kebudayaan Bali. Di Bali sudah disiapkan 4 nama dalam setiap keluarga sehingga bila hanya dua anak, sisa nama yang disiapkan akan hilang dari bumi Bali.

"Kami minta di Bali agar jangan sampai dipaksakan dengan program KB yang hanya dua anak. KB itu lebih kepada program 'keluarga berkualitas', bukan membatasi anak. Keluarga yang mampu memberdayakan anak-anaknya. Karena kalau dipaksakan maka nama Bali yakni Nyoman dan Ketut akan hilang dari Pulau Bali," ujarnya.

Menurut Koster, secara tradisi Bali, dalam setiap keluarga harus memiliki 4 anak. Namanya juga sudah disiapkan yakni Gede, Made, Nyoman dan Ketut. Bila dalam program KB hanya dua anak, nama Nyoman dan Ketut tidak akan digunakan lagi di Bali.

Dan bila ini dipertahankan maka nama Nyoman dan Ketut akan hilang dari Bali. Setiap keluarga hanya akan menamai anaknya dengan Gede dan Made karena hanya memiliki dua anak.

Menurut Koster, bukan hanya karena persoalan nama, KB itu sendiri semestinya lebih kepada membangun keluarga yang berkualitas. Pendidikannya harus berkualitas, kesehatannya harus berkualitas, hubungan sosial dan kondisi keluarga harus juga berkualitas. Belum lagi dilihat dari kondisi sosial ekonomi harus berkualitas.

"Jadi berapa pun anaknya, sejauh dia mampu membangun kehidupan keluarga yang berkualitas maka tidak menjadi masalah," ujarnya.

Koster sendiri sama sekali tidak meminta KB di Bali disetop 100%. Namun secara keseluruhan, jumlah orang Bali terus menurun.

Ia mengisahkan setelah mempelajari daftar pemilih tetap Bali untuk ajang Pileg dan Pilpres, jumlah pemilih yang asli orang Bali dengan nama Gede, Made, Nyoman, Ketut hanya mencapai 83%.

Sisanya, merupakan orang non-Bali dan bahkan non-Hindu. Jumlah ini terus menurun setiap tahunnya dan harus dipulihkan kembali dengan melarang KB. (A-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya