Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Tiga Tahun Terakhir, Ratusan Jiwa Melayang Akibat Cuaca Ekstrem di Babel

Rendy Ferdiansyah
03/5/2018 15:06
Tiga Tahun Terakhir, Ratusan Jiwa Melayang Akibat Cuaca Ekstrem di Babel
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

RATUSAN orang tewas akibat cuaca Ektrem yang melanda seluruh perairan di Provinsi Bangka Belitung (Babel) dalam tiga tahun terakhir. Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Provinsi Bangka Belitung (Babel) Mikron Antariksa mengatakan, 110 orang tewas akibat tertimbun longsor, sambar petir, dan tenggelam. Menurutnya, dari jumlah tersebut, tenggelam menjadi penyebab paling utama korban jiwa yakni sebanyak 60 orang tewas, baik tenggelam di laut maupun sungai.

"Itu dari data yang ada sejak 2015 hingga 9 April 2018, jumlah korban 183 orang, dimana 110 orang di antaranya tewas, nah yang paling banyak korban tewas tenggelam mencapai 60 orang," kata Mikron.

Mengingat tingginya korban tewas akibat cuaca ektrem tersebut, Mikron menghimbau agar para pekerja tambang, nelayan, wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaanya.

"Kalau cuaca hujan, petir dan angin, jangan menambang berhenti dulu, hal ini untuk meminimalisi supaya tidak terjadinya Laka tambang," tutur Mikron.

"Sedangkan wisatawan kita himbau untuk tidak bermain air atau berenang terlalu jauh, sebab kondisi gelombang dan kedalam air khusus di pantai di wilayah Sungailiat Bangka sangat berbahaya dan selalu menimbulkan korban jiwa," sambungnya.

Ia membeberkan untuk korban jiwa tertimbun longsor tahun 2015 dari 34 jiwa meninggal 17 jiwa, pada 2016 dari 20 korban, 10 diantara tewas. Sedangkan pada 2017 dari 16 korban, meninggal 2 orang, pada 2019 hingga 9 April dari 16 korban 2 orang meninggal.

"Untuk korban tertimbun longsor ini seluruh kecelakaan tambang pasir timah akibat, pekerja tidak menghiraukan cuaca ektrem, total ada 35 tewas dari 81 korban"ungkap dia.

Sedangkan untuk korban tewas tenggelam, lanjut Mikron, pada 2015 dari 83 korban 23 tewas, 2016 dari 24 korban, tewas 9 orang, 2017 dari 45 korban meninggal 17 orang, pada 2018 hingga April dari 31 korban meninggal 3 orang.

"Untuk korban tewas tenggelam ini totalnya ada 60 orang dari 183 korban, rata-rata nelayan dan wisatawan saat mandi dipantai khususnya di wilayah Sungailiat Bangka,"ucap Mikron.

Sembari menyebutkan untuk di sungai ada sekitar 4 korban tewas tapi hanya pada 2015 dan 2016. Mikron mengaku Wilayan Babel potensi petir sangat tinggi sekali, sehingga setiap tahun selalu ada korban tewas tersambar petir, seperti 2015 dari 21 korban 3 tewas, pada 2016 dari 33 korban 3 tewas, pada 2017 dari 25 korban 1 tewas.

"Untuk di tahun 2018 hingga 9 April lalu, sudah ada 4 tewas dari 7 korban, total ada 11 tewas dari 86 korban," terangnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya