DIKA Irawan, 20, tiba-tiba memperlambat laju sepeda motornya saat melintasi Jalan Galunggung menuju Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, kemarin siang.
Ia harus melakukan itu sebab permukaan jalan yang dilaluinya tidak rata bekas dikupas.
Alur-alur memanjang tidak beraturan memenuhi jalan sepanjang sekitar 50 meter itu.
Menurut Dika, jika tidak mengurangi kecepatan, ia bisa jatuh.
"Kalau saya jatuh, orang lain bisa celaka," katanya.
Pengupasan jalan seperti di Jalan Galunggung bisa dijumpai di banyak tempat di Jakarta belakangan ini.
Misalnya di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur, di lampu merah Jalan Arteri Permata Hijau dekat RS Medika Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan di Jalan Puri Kembangan, Jakarta Barat.
Perbaikan seperti dikejar target justru ketika musim hujan mulai tiba.
Selain tidak rata, perbedaan ketinggian permukaan jalan yang belum dihancurkan cukup signifikan, bisa di atas 5 cm.
Akibatnya banyak pengendara motor terjatuh.
Dika heran karena ada beberapa proyek pengelupasan yang lama dikerjakan.
Ketua Komisi D Bidang Pembangunan DPRD DKI Jakarta Ahmad Sanusi mengatakan perbaikan jalan dengan metode pengelupasan seharusnya tidak butuh waktu lama.
Setelah dikelupas, jalan sudah harus diaspal paling lama dua hari.
Politikus Partai Gerindra itu menambahkan, pengerjaannya pun seharusnya malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas.
Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan DKI Jakarta Suko Wibowo membenarkan seharusnya pengerjaan jalan paling lama dua hari, tetapi sering kali terkendala oleh hujan.
Pihaknya menargetkan seluruh jalan yang dikupas akan selesai diaspal paling lama pada 10 Desember.
"Kami minta maaf jika masyarakat terganggu. Mohon bersabar. Kami harus kelupas jalannya karena untuk bisa memperbaiki lapis bawah. Pak Gubernur (Basuki Tjahaja Purnama) juga tidak mau ketinggian jalan bertambah hingga sama dengan trotoar," tandas Suko.