PENGOLAHAN air bersih di Jakarta, khususnya wilayah timur, sepenuhnya mengandalkan pasokan air baku dari Waduk Jatiluhur. Namun, suplai air yang melimpah tidak menjamin ketersediaan air baku kepada operator air bersih bisa maksimal. Direktur Operasi PT Aetra Air Jakarta Lintong Hutasoit mengatakan kesulitan air baku terus-menerus dialami oleh perusahaan yang menangani wilayah Jakarta bagian timur, selatan, pusat, dan utara bagian timur tersebut sejak pertama menyalurkan air pada 1998. Menurutnya, penyebab utama kurangnya pasokan air baku ialah pencurian air yang terjadi pada saluran air baku sepanjang 70 km dari Waduk Jatiluhur menuju instalasi pengolahan air di Kalimalang, Jakarta Timur.
Pencurian terjadi akibat saluran air baku tersebut masih terbuka. Sementara itu, infrastruktur berupa pipa hingga kini belum dibangun oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PU-PR). Dalam keadaan suplai maksimal, ujarnya, air baku yang dibutuhkan pada proses produksi di Aetra mencapai 9.600 liter per detik. Sementara itu, air yang bisa dihasilkan hanya 9.000 liter per detik. Perbedaan antara volume air baku yang masuk dan volume air yang dihasilkan bisa disebabkan proses pegolahan air. Akan tetapi, kata Lintong, pasokan air baku tidak selalu maksimal, sebab sering kali volume air baku berkurang 10% hingga terbanyak pada 9 November lalu yang berkurang hingga 31%.
Dengan demikian, tuturnya, pasokan air baku yang masuk ke instalasi pengolah air perusahaan itu hanya 5.700 liter per detik. Kondisi tersebut tentu saja sangat berpengaruh pada volume air bersih yang disalurkan kepada masyarakat. "Karena sistem penyaluran masih terbuka. Padahal, di luar negeri (penyaluran air baku) tertutup. Ini harus menjadi perhatian kita," kata Lintong dalam Seminar Peduli Air Baku, Selamatkan Jakarta, di Jakarta, pekan lalu.
Pencemaran parah Akibat penyaluran yang masih terbuka pula, tuturnya, kualitas air baku yang dipasok menjadi tercemar. Padahal, kualitas awal air dari Jatiluhur sudah memprihatinkan akibat limbah pakan ikan dari keramba milik warga yang mengalami pembusukan di dasar waduk, sehingga air mengandung kadar asam tinggi. Pencemaran itu, menurutnya, ditambah oleh perilaku tidak disiplin warga dengan membangun permukiman liar di bibir sungai dan membuang limbah rumah tangga ke sungai. Tidak hanya itu, adanya duagaan pembiaran oleh pemerintah daerah setempat memperparah kondisi pencemaran air baku.
"Dari Jatiluhur saja sudah tercemar. Meski begitu, airnya tidak keruh dan tidak bau. Namun, sampai di Kalimalang, airnya menjadi kecokelatan dan bau. Belum lagi selalu ada saja sampah yang ikut terbawa. Pemerintah Provinsi DKI sudah tegas, tapi tetangganya belum," jelas Lintong. Untuk mengatasi masalah tersebut, ujarnya, Aetra bekerja sama dengan Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta II membangun penyaring atau syphon pada titik-titik tertentu di saluran air baku. Namun, syphon sudah tidak bisa optimal lagi dalam menyaring sampah karena banyaknya sampah yang terbawa oleh air justru menyumbat saluran air baku.
Sementara itu, mulai awal Desember mendatang, PT Multi Artha Pratama, pengelola kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), akan mengoperasikan sumber air baku yang baru bagi Kompleks Bukit Golf Mediterania (BGM), PIK. Dengan demikian, mulai Januari 2016, seluruh warga kompleks itu bisa menikmati kembali air bersih seperti semula. Direktur Residential Estate BGM-PIK Restu Mahesa, kemarin, mengatakan itu saat menanggapi keluhan warga mengenai pelayanan penyediaan air bersih di kawasan BGM-PIK. Keluhan muncul bersamaan dengan menurunnya debit dan kualitas sumber air baku akibat kemarau dan intrusi air laut sejauh 8 km dari muara sungai ke arah hulu. Kondisi tersebut juga membuat kualitas air yang dikelola BGM-PIK fluktuatif, sehingga tidak dapat diminum sementara.