Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 173.064 warga terdampak banjir di wilayah Jabodetabek masih mengungsi. Hal itu berdasarkan data yang terkumpul per Jumat (3/1) pukul 23.00 WIB.
“Menurut pemutakhiran data penanganan banjir Jabodetabek per 3 Januari 2020 pukul 23.00, jumlah pengungsi sebanyak 173.064 orang (39.627 kepala keluarga), jumlah titik pengungsian bertambah karena sudah terverifikasi oleh petugas BPBD,” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo, dalam keterangan resmi, kemarin.
Dia merinci, jumlah pengungsi terbanyak terdapat di Kota Bekasi 149.537 orang di 97 titik pengungsian, Kabupaten Bekasi 2.800 orang, Kabupaten Bogor 2.173 orang, Kabupaten Tangerang 3.350 orang, dan Kabupaten Tanggerang Selatan 2.125 orang. Sementara itu, untuk wilayah Jakarta Timur, jumlah pengungsi mencapai 3.640 orang, Jakarta Barat 2.887 orang, Jakarta Selatan 4.209 orang, Jakarta Utara 738 orang, Kabupaten Lebak 1.500 orang, dan Kota Depok 105 orang.
Tercatat jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat banjir di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sebanyak 47 orang.
Terpisah, Kepala BNPB, Bambang Surya Putra mengimbau masyarakat dan pemerintah agar tanggap terhadap informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemerintah daerah dinilai belum tanggap terhadap informasi BMKG.
“BMKG sudah menyebarkan secara luas. Tinggal bagaimana kita menyikapi itu,” kata Bambang di Sasana Krida Karang Taruna, Bidara Cina, Jakarta Timur, kemarin. Dia mengatakan BMKG bertugas menyebarkan informasi kepada publik. Setelah itu, tanggung jawab penanganan potensi bencana ada di tangan pemerintah daerah dan BNPB bertugas mendampingi pemerintah daerah menangani bencana tersebut.
Bambang memaklumi kesulitan pemerintah daerah menangani banjir yang terjadi di awal 2020. Pasalnya, setiap pemerintah daerah hanya memiliki dua jalur telepon pengaduan masyarakat. “Dengan jumlah korban yang mencapai ratusan ribu, itu menjadi kendala tersendiri,” tutur Bambang.
Dia menegaskan pemerintah daerah harus lebih sigap menanggapi informasi BMKG. Apalagi, ketika tinggi air melebihi batas wajar. “Ini baru awal loh. Musim hujan sampai Februari mari kita persiapkan diri untuk lebih baik,” pungkasnya.
Sebelumnya, BMKG berharap informasi tentang potensi cuaca ekstrem dapat ditanggapi secara serius oleh seluruh pihak. Namun, BMKG menilai pemangku kepentingan belum tanggap terhadap informasi itu. (Rif/N-3)
BMKG memprediksi pagi hari di sebagian besar wilayah Jakarta akan diawali dengan kondisi berawan tebal.
Emiten properti PT Winner Nusantara Jaya Tbk (WINR) mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat pangsa pasar di kawasan Jabodetabek
Ia menjelaskan, perubahan tata ruang yang tidak terkendali turut memengaruhi daya tampung air di wilayah Jabodetabek.
BMKG menggelar Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah Jabodetabek mulai 16 hingga 22 Januari 2026 mitigasi menekan potensi bencana hidrometeorologi akibat tingginya curah hujan
BMKG bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta serta TNI Angkatan Udara menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta dan sekitarnya
BPBD menyebut banjir masih merendam 37 rukun tetangga (RT) dan 12 ruas jalan, Minggu (18/1) pukul 20.00 WIB di Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved