Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Kriminolog Jelaskan Maraknya Kasus Pembunuhan Sadis

Haufan Hasyim Salengke
22/11/2018 20:35
Kriminolog Jelaskan Maraknya Kasus Pembunuhan Sadis
(Thinkstock)

DALAM dua pekan terakhir terjadi tiga kasus pembunuhan besar di wilayah Jabodetabek yang menyita perhatian publik nasional. Terungkap sejumlah alasan dan motivasi pelaku tega menghabisi korban secara sadis.

Kriminolog Universitas Gajah Mada (UGM) Suprapto mengatakan ada banyak faktor penyebab yang mendorong pelaku berbuat hal tersebut. Tiap kasus memiliki penyebab yang berbeda.

Untuk kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat, tersangka Haris Simamora menghabisi Diperum Nainggolan, istri, dan kedua anaknya karena sakit hati lantaran sering dihina oleh korban.

"Kasus Bekasi dinyatakan pelaku sebagai wujud balas dendam," ujar Suprapto saat dihubungi, Kamis (22/11).

Kasus pembunuhan eks jurnalis Abdullah Fithri Setiawan, lanjut Suprapto, bisa karena pelaku sakit hati atas tidak didapatkannya hak yang sesuai harapan. Hingga kini, polisi belum mengungkap motif pembunuhan tersebut.

Sementara itu, kasus pembunuhan perempuan yang mayatnya dimasukkan dalam lemari di Mampang, Jakarta Selatan, merupakan akibat konflik internal laten yang terakumulasi dan tidak terbendung.

"Inti dari ketiga kasus tersebut adalah merupakan indikasi tidak memiliki kemampuan pengendalian diri oleh pelaku, sebagai salah satu level dari kecerdasan emosional (EQ)," terang Suprapto.

Menurutnya, banyak di antara masyarakat yang tidak tahu bahwa seseorang harus bisa mencapai level 4 untuk EQ . Pertama, mampu memahami diri sendiri. Kedua, mampu mengendalikan diri sendiri. Ketiga, mampu memahami orang lain. Keempat, mampu mengendalikan orang lain.

Setiap orang, kata Suprapto, harusnya bisa berempati pada keluh kesah seseorang dan memiliki tenggang rasa dan empati. Jika tidak, akumulasi sakit hati bisa berubah menjadi dendam. Selanjutnya, bila terlepas dari kontrol sosial dan ada kesempatan, terjadilah tindak kekerasan tersebut.

Soal kenapa wujud tindak kriminal semakin sadis, Suprapto mengatakan hal itu juga bisa disebabkan aspek pengaruh, seperti peer group (kelompok teman sebaya) serta tayangan dan bacaan yang tidak mendidik. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya