Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta memastikan proyek pengerjaan jalur bawah tanah (underground) tidak terkena banjir. Hal tersebut telah dipelajari pihak MRT dari pengalaman sebelumnya saat jalur bawah tanah Stasiun Senayan, Jakarta Selatan terkena limpasan air hujan.
"Stasiun Senayan pernah kemasukan air beberapa bulan yang lalu sebelum musim hujan saat ini. Belajar dari situ, musim hujan yang sekarang sudah kita antisipasi," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, Rabu (20/12).
Untuk menghindari pengalaman serupa, pihaknya telah memperbaiki saluran-saluran air atau drainase yang berpotensi meluapkan air. Kawasan di satu lokasi proyek dalam radius tertentu dicek saluran airnya agar air tidak meluber ke bawah proyek MRT.
Sementara, untung pengerjaan jalur layang, pihaknya pun sudah memastikan tidak ada material-material yang berpotensi jadi penghambat aliran air.
"Jadi, kawasan-kawasan di sekitar stasiun pun harus kita benahi. Seperti di Dukuh Atas juga kita antisipasi," imbuhnya.
Saat ini, telah tersedia generator set untuk memompa air apabila bagian underground terkena banjir. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi banjir dalam jangka waktu singkat di mana air bisa dipompa ke atas.
Di sisi lain, sebagai upaya permanen nantinya akan terbangun saluran lubang untuk menampung air atau cairan yang melimpas lainnya (sump pit). Dari lubang tersebut nantinya air akan dipompa ke atas.
"Dipompa ke atas kemudian kita tutup entrance dengan pintu khusus yang terbuat dari besi atau baja. Itu kalau pengerjaan konstruksi selesai dan operasional sudah berjalan," katanya.
Beragam upaya itu dilakukan MRT untuk menghindari kerugian luar biasa bila terjadi banjir di sektor underground. Pasalnya, sistem listrik akan rusak seluruhnya bila air masuk. Pihaknya pun sudah mengingatkan kepada kontraktor untuk memitigasi bila air masuk sesegera mungkin.
"Jangan sampai menghambat. Termasuk galian bisa sebabkan longsor juga. Kalau sampai air masuk kerugian luar biasa buat MRT," imbuhnya.
Pengerjaan proyek transportasi massal ini kini sudah mencapai 88,5%. Capaian tersebut terhitung per 15 Desember lalu. Rinciannya pengerjaan konstruksi layang (elevated) sebesar 82,5% dan konstruksi bawah tanah (underground) 94,5%.
William Sabandar menargetkan pengerjaan konstruksi capai 90% pada 25 Desember mendatang. Sementara, di bagian underground sedang dilakukan pemasangan aliran listrik sehingga tidak diperbolehkan lagi dibuka untuk kunjungan.
"Kunjungan sudah tidak lagi diperbolehkan karena terlalu berbahaya. Sudah dipasang track, listrik dan lain-lain. Progress sudah finishing," kata William.
William menyebut, pengerjaan konstruksi paling cepat dilakukan di Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Dalam satu tahun progress yang dicapai melebihi 30%. Dengan pencapaian demikian, artinya MRT tinggal masuk ke proses finishing pada tahun depan. Selanjutnya, pihaknya akan fokus pada persiapan operasional.
"Sekarang sedang pengerjaan mechanical eletrical dan finishing touch, persiapan teknis dan aspek arsitektur. Sehingga di akhir tahun depan persiapan sudah 98%," ujar William yang menyebut Februari 2019 konstruksi akan rampung 100%.
Sementara, di 2018 pihaknya akan fokus pada pengerjaan stasiun, persiapan sistem dan menanti datangnya kereta pertama dari Jepang di bulan Maret. Di bulan Agustus, kereta dengan jumlah enam gerbong itu akan dilakukan pengetesan di atas rel dengan aliran listrik yang sudah terpasang. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved