Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut banjir yang kemarin melanda sejumlah titik di Jakarta dipicu anomali cuaca, sehingga tak bisa dilawan karena merupakan kehendak alam.
"Kita enggak bisa melawan alam, kualat kalau melawan alam. Jangan bilang ini pasti surut, atau banjirnya cuma segini, enggak. Ini adalah fenomena alam. Allah lagi ngirimin hujan. Kalau kita punya sistem yang baik, hujan itu justru menjadi berkah bagi kita," ucap Sandiaga di Balai Kota, kemarin.
Ia meminta agar jajarannya all out mengambil tindakan pencegahan banjir.
"Kalau bicara penyebabnya, ya volume air yang luar biasa banyaknya," kata Sandiaga.
Dia mengatakan sejauh ini pihaknya belum menerima laporan dari dinas terkait tapi ia tetap memantau wilayah yang terkena banjir melalui aplikasi Jakarta Smart City.
Dia juga mengatakan tak mau merepotkan anak buahnya untuk melapor soal situasi terkini daerah mana saja yang dilanda banjir karena ia bisa memantau sendiri melalui aplikasi.
"Tidak usah khawatir teman-teman SKPD. Sekarang ini saya tidak mau merepotkan mereka untuk membuat laporan ke saya. Yang penting pelayanan kepada publik all out," jelasnya.
Ia meminta agar jajarannya memastikan seluruh pompa air beroperasi maksimal, mempersiapkan karung pasir, hingga membersihkan saluran-saluran air dan drainase.
Ia menyebut normalisasi sungai akan tetap berjalan sesuai yang telah dianggarkan di APBD 2018.
Berdasarkan data banjir yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, titik banjir terbanyak berada di wilayah Jakarta Selatan, yakni sebanyak 17 titik dengan ketinggian 10 sentimeter-60 sentimeter (cm).
Di Jakarta Pusat ada enam titik banjir dengan ketinggian 10 cm-30 cm, di Jakarta Utara ada tiga titik banjir dengan ketinggian 10 cm-30 cm, di Jakarta Barat ada satu titik banjir dengan ketinggian 10 cm-20 cm, serta di Jakarta Timur ada empat titik banjir dengan ketinggian 20 cm- 40 cm.
Naturalisasi sungai
Pada aplikasi Pantau Banjir milik Pemprov DKI, saat diakses pukul 20.30 WIB, ada 77 mesin pompa air yang mati dan 15 mesin pompa air yang hidup.
Namun, angka tersebut bukan total dari seluruh mesin pompa yang ada di Jakarta, melainkan berasal dari laporan di beberapa pintu air.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, kemarin sore, memantau ke rumah pompa underpass Dukuh Atas.
Banjir juga terjadi di titik itu dengan ketinggian 20 cm-30 cm.
Dari situ, ia menemukan ada pompa penyedot air yang tidak berfungsi. Padahal, kerusakan itu telah dilaporkan sejak 22 Oktober lalu.
Ia mengancam akan memberikan sanksi pada jajarannya yang tidak bertindak cepat.
"Dilaporkan tanggal 22 (Oktober) oleh operator dan belum ada action sama sekali. Sekarang sudah bulan Desember, sudah hampir dua bulan, kita akan tindak tegas," kata Anies.
Lebih jauh, ia menyebut Pemprov DKI akan melakukan naturalisasi sungai. Alih-alih menggunakan istilah normalisasi, ia memilih istilah naturalisasi sungai.
Namun, ia enggan menjelaskan perbedaan antara naturalisasi sungai dan normalisasi sungai. (J-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved