Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Jangan Ada lagi Ledekan the Power of Emak-Emak

11/12/2017 08:00
Jangan Ada lagi Ledekan the Power of Emak-Emak
(MI/BARY FATHAHILAH)

"KALAU mau belok ke kiri, lampu sein mana yang harus dinyalakan ibu-ibu?"

"Kiri..."

Begitu salah satu percakapan antara pemandu dan peserta edukasi Safety Riding bagi perempuan yang mengendarai kendaraan bermotor, baik itu sepeda motor maupun mobil, yang digagas komunitas Queenrides di Jakarta, kemarin.

Di diskusi yang seluruh pesertanya ibu-ibu tersebut, tak jarang pesertanya senyum-senyum sendiri saat membahas aneka polah kaum ibu saat mengendarai kendaraan bermotor, terutama sepeda motor.

"Misalnya saja soal lampu sein. Perilaku pengendara perempuan di jalan memang sulit ditebak. Saat lampu sein kiri dinyalakan, eh dia malah belok ke kanan," ujar pemandu tersebut yang langsung disambut derai tawa peserta diskusi.

Topik-topik yang dibahas di diskusi itu tak jarang diambil dari meme-meme ledekan yang beredar di dunia maya.

Misalnya saja meme tentang seorang ibu yang tengah bersusah payah mengeluarkan sepeda motornya dari adonan cor semen yang masih basah di sebuah jalan.

Kemudian muncul meme di media sosial dengan komentar yang menggelitik, ditambah dengan tagar #thepowerofemakemak #emakalwyasright.

Gelak tawa pun tak tertahankan.

Lalu apa yang menyebabkan perilaku berkendara perempuan kerap dijadikan ledekan dan diskriminasi pengendara di jalan?

Iim Fahima, pendiri dan CEO Queenrides, mengatakan kurangnya pengetahuan perempuan akan otomotif adalah sesuatu yang natural.

"Pemahaman perempuan berkendara memang lebih lambat daripada laki-laki. Cara terbaik ialah dengan mengedukasi mereka, bukan dengan mengecilkan," kata Iim.

Perempuan, kata Iim, saat ini semakin mandiri dalam hal berkendara. Dia menjelaskan, 80% perempuan di Indonesia mengendarai sepeda motor untuk bekerja guna membantu perekonomian keluarga.

Sayangnya, hal itu tidak diikuti perilaku yang baik. Berdasarkan data dari Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, angka kecelakaan lima tahun terakhir meningkat. Saat ini, rata-rata ada 74 orang meninggal dunia setiap harinya.

Dari jumlah itu, 49,5% kecelakaan melibatkan perempuan.

"Kalau tidak ada kepedulian, dibarengi komitmen dari beberapa pihak, bukan tidak mungkin banyak keluarga yang tidak mempunyai ibu atau ibunya cacat akibat kecelakaan," ujar Iim.

Melalui Queenrides, moto 'safety, style, and beauty' dipahami betul oleh pengendara perempuan.

Anggota Korlantas Polri Kombes Rudy Antariksa menjelaskan, kesetaraan gender tidak bisa dihindarkan di jalan raya.

Karena itu, setiap pengemudi, baik laki-laki atau perempuan, diminta tetap menaati peraturan lalu lintas yang ada.

"Penyebab kecelakaan itu bukan karena jenis kelamin, tapi karena perilaku tidak disiplin, tidak hati-hati, dan lain sebagainya," ucapnya.

Karena itu, jangan buru-buru mencap emak-emak enggak disiplin di jalan. Mereka hanya perlu diedukasi, sama halnya dengan pengemudi bapak-bapak. (Akmal Fauzi/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya