Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
SABTU (2/12) sore, seorang ibu di Rusun Pemadam Kebakaran, Jakarta Barat, bercerita dengan semangat tentang asal muasal air asin yang ada di sana.
Dengan menggebu ia berkisah seorang kakek tua yang mengutuk kawasan tersebut menjadi air asin. Lantaran dia ditolak dengan kasar oleh seorang pemuda untuk mengambil air di kawasan itu.
"Ada penampakan gaib seorang kakek, beberapa warga pernah melihatnya. katanya dia yang nyumpahin supaya air di sini rasanya asin gara-gara enggak di kasih air sama orang sini. Lokasi sini juga dulu kan rawa. Kalau ke ujung serem," katanya.
Rosita nama ibu itu, menunjuk pemukiman warga di sekitar Rusun Pemadam Kebakaran yang air tanahnya tidak asin.
Padahal, jaraknya hanya 100 meter dari lokasi rusun.
Ibu paruh baya itu pun menyebut, masih sambil dengan gaya merinding, tempat penampungan air berwarna oranye di rusun ada penunggunya.
"Saya belum melihat penunggunya, hanya katanya sih. Takut saya mah, mitosnya begitu. Ada yang pernah lihat kakek-kakek itu," tambahnya.
Mitos tersebut berkembang dari mulut ke mulut, dari telinga ke telinga. Entah benar atau tidak cerita tersebut, warga Kadung memercayainya.
Bagi pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriyatna, asinnya air di rusun tersebut disebabkan intrusi air laut di Jakarta yang kian meluas.
Ia pun mematahkan persepsi bahwa air asin dan air yang tidak bersih di Jakarta disebabkan DKI dulunya area rawa.
Bahkan, intrusi air laut di Jakarta sudah sampai ke Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Pemakaian air tanah terus-menerus menyebabkan terbentuknya rongga pori-pori di dalam tanah sehingga air dari laut mengisi rongga tersebut.
"Air asin di Jakarta itu disebabkan intrusi air laut. Di Jakarta ini intrusi air lautnya sudah hampir sampai Monas. Sampai ke Jakarta Pusat, ke Thamrin. Coba saja cuci muka di Stasiun Juanda, airnya asin, "jelas Yayat saat dihubungi, akhir pekan lalu.
Kondisi yang demikian dinilai mengkhawatirkan bagi kesehatan warga.
Selain tidak layak konsumsi, air laut sudah terkena limbah.
Belum lagi kadar garam yang tinggi tidak baik untuk kesehatan. Bakteri E colli pun terkandung dalam air tersebut.
"Mengancam warga sekali airnya. Tidak bisa dikonsumsi. Artinya, Jakarta itu sudah krisis air baku untuk minum. PAM Jaya berapa kemampuan pelayanannya? Kedua, bocorannya juga tinggi. Ketiga, distribusi pipanya juga belum merata," imbuhnya.
Untuk itu, menurut Yayat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI melalui Dinas Perindustrian dan Energi harus segera membangun ground tank atau tangki bawah tanah.
Di sana ditampung air di bawah untuk kemudian didistribusikan.
Adapun air harus bisa di sediakan pemerintah. (Aya/J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved