Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Sulitnya Air Bersih di Rusun Jakbar

Yanurisa Ananta
05/12/2017 09:50
Sulitnya Air Bersih di Rusun Jakbar
(DOK MI/ANGGA YUNIAR)

MEDIO 28 September lalu, pasokan air bersih di Jakarta Barat sempat terganggu.

Penurunan pasokan air dari PDAM sektor Tangerang menjadi alasan penurunan suplai air di sebagian wilayah Jakarta Barat tersebut.

PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) menjanjikan kondisi itu hanya berlangsung tiga hari.

Berselang tiga hari kondisi dinyatakan pulih. Namun, nyatanya ketersediaan air bersih di rumah susun (rusun) terutama di Jakarta Barat masih jauh dari cukup.

Salah satunya Rusun Pemadam Kebakaran yang terletak di Jalan Rusun Pemadam Kebakaran, Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat.

Lokasi bekas rawa yang dibangun dua blok rusun untuk petugas Dinas Pemadam Kebakaran DKI itu memiliki air yang terasa asin.

Media Indonesia sempat menjajal air yang keluar dari keran di luar unit Rusun Pemadam Kebakaran.

Secara kasatmata air terlihat bening, tetapi setelah dicicipi terasa asin, seperti air segelas yang ditambah seperempat sendok makan garam.

Kondisi itu dikeluhkan Rini, 45, salah satu warga Blok F lantai dua nomor 19.

Air asin itu kerap membuat pakaian putih menjadi kuning, sementara pakaian berwarna gelap akan berbercak putih.

Serbuk-serbuk putih menempel pada gelas dan piring. Sendok dan garpu juga diakuinya sering karatan.

Bahkan, mesin cuci dan mesin pendingin ruangan menjadi cepat rusak.

"Kalau habis mandi, badan lengket, rambut kaku. Makanya kita beli air pikulan yang katanya air PAM buat bilas-bilas. Ada yang jual di dekat-dekat sini pakai gerobak lalu dipikul sampai ke lantai atas," kata Rini saat ditemui di Rusun Pemadam Kebakaran, akhir pekan lalu.

Air pikulan yang dibeli Rini tentu memberatkan. Pasalnya ada enam kepala yang menghuni unit milik Rini.

Dalam sehari ia harus membeli sampai enam jeriken yang berisi sekitar 20 liter air.

Dua jeriken Rp10 ribu, artinya Rini harus mengeluarkan kocek Rp30 ribu untuk air bersih dalam sehari atau Rp900 ribu sebulannya.

Untuk memasak, Rini memilih menggunakan air galon isi ulang ketimbang menggunakan air dari keran.

Ia dan keluarga tidak mau mengambil risiko berpenyakit.

Dikatakan Rini, memang air Rusun Pemadam Kebakaran masih menggunakan air tanah yang ditampung di toren dan air dikucurkan ke sambungan pipa unit.

Bersabar

Sherly, 35, warga Blok E Lantai lima Rusun Pemadam Kebakaran, mengakui hal yang sama.

Untuk minum, ia pun memilih pakai air galon isi ulang untuk tiga kepala lainnya yang tinggal di unitnya. Alhasil, penggunaan air harus irit.

Kondisi serupa sempat dirasakan warga Rusun Pesakih Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.

Tiga tahun yang lalu, di Blok I air dikatakan warga berbau got dan berlumut.

Namun, semenjak adanya instalasi pengolahan air PAM Jaya sejak 2015 warga sudah berani menggunakan air untuk keperluan mandi.

"Dulu kan airnya kayak air teh. Gatellah. Sekarang mendinganlah sejak ada instalasi pengolahan air dari PAM Jaya. Cuma masih tidak berani dikonsumsi," kata pria yang menghuni rusun dua tahun lalu akibat relokasi dari Kapuk Jagal RW 04, Jakarta Utara.

Seorang ibu pemilik warung yang tinggal di Blok F bahkan hingga saat ini masih merasa kondisi air kurang bersih.

Bila air digunakan untuk keramas, rambut terasa kaku dan menyebabkan rontok.

"Dulu waktu tinggal di Kapuk perasaan rambut saya tidak rontok. Sekarang rontok," katanya sambil meladeni pembeli.

Direktur Utama PAM Jaya Erlan Hidayat menyatakan pemasangan jaringan pipa di Rusun Pesakih sudah selesai dilakukan tahun ini.

Semula, pihaknya ragu untuk membangun jaringan pipa air di sana karena khawatir pasokan kurang.

Kendati demikian, Rusun Pemadam Kebakaran dikatakan Erlan belum akan tersentuh pada 2018.

Ada lima rusun prioritas yang akan dipasang jaringan pipa tahun depan, yakni Rusun Penjaringan, Rusun Rawa Bebek, Rusun BLK Pasar Rebo, Rusun Nagrak dan Rusun Polri. (J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya