Senin 10 Januari 2022, 05:15 WIB

Tetaplah Waspada Covid-19

Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Guru Besar FKUI, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes | Kolom Pakar
Tetaplah Waspada Covid-19

MI/Seno

 

DALAM beberapa hari terakhir ini, media massa banyak memberitakan proyeksi kasus covid-19 di negara kita yang dibuat Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) University of Washington, Amerika Serikat. Angka perkiraannya cukup mencengangkan dan diduga berhubungan dengan kenaikan kasus akibat varian omikron yang memang lebih mudah menular.

Sebagaimana proyeksi pada umumnya, tentu di satu sisi mereka mendasari pada data yang sudah ada tersedia dan membuat asumsi tentang kejadian di waktu mendatang. Tentu saja proyeksi dapat tepat atau mendekati tepat dan dapat juga tidak tepat. Itu disebabkan ada berbagai variabel terkait yang belum diketahui pasti apa dan bagaimana terjadinya.

Menurut proyeksi IHME yang dikeluarkan awal Januari 2022, penambahan kasus harian covid-19 di Indonesia akan tembus 387.850 per hari pada April 2022. Penambahan kasus harian di atas 30 ribu diperkirakan mulai terjadi pada 20 Januari. Pada akhir Januari 2022, diprediksi kasus covid-19 akan naik hingga mencapai 53 ribu kasus. Pada akhir Februari 2022, kasus covid-19 melonjak lebih dari 185 ribu kasus dan di pertengahan Maret 2022 IHME memperkirakan angkanya mencapai lebih dari 275 ribu kasus.

Pada 1 April 2022, kasus covid-19 diperkirakan IHME lebih dari 387 ribu kasus per hari. IHME juga memprediksi kasus kematian pada 1 April mencapai 144 kasus per hari. Menanggapi prediksi IHME ini, pihak Kementerian Kesehatan menilai kasus di Tanah Air tidak akan mencapai angka tersebut. Menurut berita di media, juru bicara vaksin covid-19 Kementerian Kesehatan sejauh ini memperkirakan kasus covid-19 akan mencapai 20 ribu-25 ribu kasus per hari.

Sebenarnya, sebelum yang sekarang ini IHME juga sudah pernah membuat proyeksi serupa dan memang disebutkan akan dilakukan secara berkala dan tentunya angkanya akan di-update dari waktu ke waktu. Proyeksi pertama dikeluarkan pada 14 Juli 2021, yang diolah pada 13 Juli 2021 berdasar data sampai 12 Juli 2021, dan dibuat proyeksi hingga apa yang diperkirakan akan terjadi sampai 1 November 2021.

Pada proyeksi 14 Juli 2021, IHME membagi menjadi dua kemungkinan proyeksi, reference scenario yang mereka pikir paling mungkin akan terjadi dan worse scenario yang merupakan skenario yang buruk kalau situasi menjadi tidak terkendali.

Tentu saja kita ketahui dan sangat bersyukur bahwa yang terjadi di negara kita berbeda dengan proyeksi IHME pada awal Juli 2021 itu. Kita tahu bahwa kasus harian tertinggi pada 2021 ialah 56.757 orang yang terjadi pada 15 Juli 2021 dan jumlah kematian harian tertinggi 2.069 pada 27 Juli 2021, jadi jauh di bawah perkiraan IHME sebelumnya.

Proyeksi IHME University of Washington ini menyebutkan kematian pada 12 Agustus 2021 akan menjadi 2.330. Kenyataan yang terjadi ialah 1.466 kematian. Dalam worse scenario IHME angka kematian per hari dapat meningkat menjadi 2.490 orang pada 16 Agustus 2021. Kenyataan yang terjadi juga tidaklah demikian. Jumlah warga kita yang wafat pada 16 Agustus ialah 1.245. Tentu kita amat berduka, semoga arwah para pasien covid-19 yang meninggal mendapat tempat mulia di sisi Allah SWT/Tuhan YME.

Proyeksi IHME pada 14 Juli 2021 juga menyatakan pada suatu waktu antara Juli dan 1 November 2021 maka tempat tidur RS dan kapasitas ICU akan menjadi amat penuh dan kewalahan. Mereka menggunakan istilah high or extreme stress. Kita ketahui bahwa memang pada Juni-Juli 2021 pelayanan kesehatan kita mendapat tekanan yang amat besar. Jumlah kasus amat tinggi dan rumah sakit banyak yang terisi penuh.

Seperti disampaikan di atas, maka proyeksi seperti ini dibuat berdasar modelling yang ada, yang tentu akan banyak sekali variabel yang akan menentukan, apakah angkanya benar akan terjadi atau tidak. Namun, bagaimanapun informasi seperti ini mungkin dapat dipakai sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menilai situasi mendatang dan kebijakan yang mungkin perlu dilakukan.

 

Situasi covid-19 di dunia

Kita tahu bahwa angka covid-19 di dunia juga memang sedang terus meningkat tajam. Pada 7 Desember 2021, penambahan kasus covid-19 per hari di dunia ialah 692.577 dan ini melonjak tinggi menjadi penambahan 2.879.121 kasus sehari pada 7 Januari 2022, beda jarak sebulan saja.

Amerika Serikat, pada 3 Januari 2022 mencatat 1.082.549 tambahan kasus dalam sehari, tembus angka sejuta. Padahal, sebulan sebelumnya pada 3 Desember 2021 penambahan kasus hariannya hanyalah 153.245 orang. Melonjaknya kasus covid-19 di Amerika terjadi di tengah penyebaran varian omikron yang terus meluas.

Inggris juga mengalami lonjakan kasus harian yang amat tinggi. Kasus baru covid-19 per hari pada 4 Desember 2021 ialah 41.457 orang, yang dalam sebulan melonjak menjadi 218.705 kasus baru pada 4 Januari 2022. Australia juga mengalami hal yang sama. Pada 6 Desember 2021 kasus sehari covid-19 di Australia ialah 1.279 orang, yang dalam sebulan naik tajam menjadi 72.121 sehari pada 6 Januari 2022.

Beberapa negara Asia juga mengalami kenaikan kasus dalam sebulan terakhir ini. Jumlah kasus baru covid-19 di Jepang pada 7 Januari 2022 ialah 6.070 orang. Sementara itu, sebulan sebelumnya pada 7 Desember 2021 kasus seharinya hanya ada 99 orang.

Mungkin baik juga kita melihat situasi di India. Pada waktu kenaikan kasus kita di Juni dan Juli 2021, sekitar 2 bulan sebelumnya juga ada kenaikan kasus di India dengan segala masalahnya. Seperti kita ketahui bahwa India pernah mengalami kasus covid-19 yang amat tinggi, sampai sekitar 400 ribu sehari di seluruh negara dan sekitar 15 ribu sehari di Kota New Delhi saja.

Angka itu kemudian menurun amat tajam dan kasus menjadi landai selama beberapa bulan, sekitar 7.000 sehari di India dan bahkan pernah kurang dari 100 orang sehari di New Delhi. Artinya, India memang pernah tinggi, lalu turun dengan cepat, dan lalu landai selama beberapa bulan. Hal itu kurang lebih pola yang sama dengan di negara kita, yang kasus pernah sekitar 50 ribu sehari. Lalu, turun dengan cepat dan lalu landai sampai hanya beberapa ratus sehari.

Dalam minggu-minggu terakhir ini, kasus di India kemudian meningkat tajam. Pada 21 Desember 2021 kasus sehari di India ialah 6.317 orang, lalu melonjak menjadi sekitar 90.928 ribu sehari pada 5 Januari 2022, dan bahkan menjadi 159.632 pada 8 Januari 2022.

Khusus untuk New Delhi, pada 4 Januari 2022, pemerintah setempat mengeluarkan aturan pembatasan sosial ketat. Termasuk aturan kerja di kantor, pembatasan penumpang transportasi umum, pembatasan bioskop, sarana kebugaran, dll. Bahkan, New Delhi ada dalam kondisi jam malam (curfew) pada akhir pekan yang lalu, mulai pukul 22.00 pada Jumat 7 Januari 2022 sampai pukul 05.00 hari ini.

Toko, pasar, mal, dan berbagai tempat umum ditutup untuk publik. Artinya, penduduk New Delhi yang lebih dari 20 juta orang akan sangat merasakan dampak pengetatan ini di akhir pekan. Mereka praktis sepenuhnya di rumah saja, kecuali ada keperluan mendesak.

Di sisi lain, kerabat petugas kesehatan di New Delhi juga menyampaikan bahwa walaupun kasus meningkat berlipat-lipat kali, peningkatan rumah sakit (bed occupancy) sampai hari-hari ini baru meningkat sekitar dua kali lipat, jadi situasi pelayanan kesehatan relatif masih terkendali.

 

Omikron

Peningkatan kasus di berbagai belahan dunia ini dihubungkan dengan varian baru omikron yang memang lebih mudah menular sehingga kasus terus meningkat. Ada pula pendapat bahwa masa inkubasi infeksi akibat varian omikron lebih pendek, yang turut berperan pada lebih cepatnya penularan terjadi. Penelitian yang dilakukan Center for Disease Control (CDC) Amerika Serikat yang dipublikasikan pada 31 Desember 2021 menunjukkan bahwa median antara paparan varian omikron dan timbulnya gejala ialah tiga hari.

Pendeknya masa inkubasi omikron ini juga sejalan dengan analisis yang dilakukan otoritas kesehatan di Inggris, UK Health Security Agency. Data sebelumnya menunjukkan bahwa masa inkubasi varian alfa ialah lima hari dan varian delta empat hari. Jadi, masa inkubasi omikron memang lebih cepat.

Tentang pendapat umum bahwa sebagian kasus covid-19 akibat varian omikron ialah ringan saja, maka Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan penjelasan pada 6 Januari 2022. Dr Tedros menjelaskan walaupun gejala akibat omikron memang tampaknya tidaklah berat ketimbang delta, khususnya pada mereka yang sudah di vaksin, tetap secara umum tidak dapat dikategorikan sebagai ringan saja. Yang pasti, pasien yang terinfeksi omikron dengan kondisi tertentu dapat perlu dirawat di rumah sakit dan bahkan mungkin meninggal dunia.

Dirjen WHO juga menyatakan tsunami kasus covid-19 menjadi besar dengan cepat dan mungkin saja membuat pelayanan kesehatan di berbagai negara menjadi terbebani cukup besar. Disebutkan Dr Tedros bahwa dapat saja rumah sakit menjadi penuh, petugas kesehatan kewalahan, dan memberi beban tidak hanya pada penanganan pasien covid-19, tetapi juga penanganan pasien sakit lain yang membutuhkan penanganan di rumah sakit.

Khusus tentang kematian akibat varian omikron, sampai 31 Desember 2021 Inggris sudah melaporkan 75 kematian akibat varian ini. Negara-negara lain yang juga sudah melaporkan kematian akibat varian omikron antara lain Amerika Serikat, Jerman, Australia, Israel, dan India.

Sementara itu, European Centre for Disease Prevention and Control pada 7 Januari 2022 menyajikan, setidaknya tiga laporan. Pertama dari The United Kingdom Health Security Agency yang menyampaikan bahwa orang yang terinfeksi omikron punya risiko 50% lebih rendah untuk harus masuk rumah sakit bila dibandingkan dengan terinfeksi varian delta. Mereka juga melaporkan bahwa risiko masuk rumah sakit turun 65% pada mereka yang sudah divaksin dua kali dan turun 81% pada yang sudah divaksin 3 kali jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapat vaksin sama sekali.

Kedua, penelitian dari Skotlandia, menunjukkan penurunan angka masuk rumah sakit pada varian omikron jika dibandingkan dengan delta, hanya saja kemungkinan infeksi ulang pada omikron ialah 10 kali lebih tinggi daripada mereka yang terinfeksi delta. Data dari Skotlandia ini juga menunjukkan bahwa mereka yang sudah mendapat vaksinasi dosis ketiga/booster punya risiko 57% lebih rendah untuk menunjukkan gejala-gejala sesudah terinfeksi omikron.

Laporan ketiga ialah dari Kanada, yang mengonfirmasi rendahnya angka masuk rumah sakit (0,3%) dan angka fatalitas (<0,1%) pada varian omikron. Tentu saja, jumlah kasus banyak sekali walaupun persentase relatifnya rendah. Namun, angka mutlak bisa jadi cukup menimbulkan masalah pula.

 

Waspada

Untuk kita di Indonesia, data menunjukkan bahwa kasus omikron pertama dilaporkan pada 16 Desember 2021. Data terakhir, pada 7 Januari 2022--hanya 22 hari sesudah kasus pertama--sudah ada total konfirmasi omikron sebanyak 318 orang. Rinciannya ialah 23 orang transmisi lokal dan 295 kasus dari pelaku perjalanan luar negeri.

Kebanyakan kasus konfirmasi omikron ialah mereka yang sudah lengkap vaksinasi covid-19. Sebanyak 99% kasus omikron yang diisolasi, memiliki gejala ringan atau tanpa gejala. Selanjutnya, sebanyak 4,3% kasus memiliki komorbid, seperti diabetes melitus dan hipertensi, serta 1% kasus membutuhkan terapi oksigen.

Untuk kasus covid-19 secara keseluruhan, setelah cukup lama jumlah kasus harian kita berkisar antara 100 orang dan 200 orang, pada 6 Januari 2022 kasus tercatat 533 orang. Terus terang tidak mudah untuk kita memprediksi bagaimana perkembangan penambahan kasus di hari-hari mendatang ini.

Tentu kita berharap agar prediksi IHME di awal tulisan ini tidak akan menjadi kenyataan. Namun, bagaimanapun jumlah kasus tampaknya akan dapat meningkat. Karena itu, yang perlu kita lakukan sekarang ialah tetap waspada, setidaknya dalam lima aspek. Pertama, kita semua anggota masyarakat memang masih harus menjalankan protokol kesehatan, 3M, dan 5M. Kebiasaan-kebiasaan baru itu, yang selama ini kita kenal sebagai new normal baik sekarang kita ubah huruf ‘e’ nya menjadi huruf ‘o’. Jadi, bukan new normal lagi, melainkan sudah menjadi now normal atau dapat disebutkan sebagai perilaku sehat zaman now.

Kedua, kalau di antara kita ada yang curiga tertular, baik karena ada gejala maupun ada kontak dari mereka yang baru pulang dari negara terjangkit, segeralah melakukan tes untuk tahu sakit atau tidak. Nah, dalam hal ini, aspek kewaspadaan ketiga memang sesuai dengan anjuran pemerintah bahwa di saat-saat ini, jangan keluar negeri dulu, kecuali kalau memang benar-benar dirasa amat perlu sekali. Hal ini penting untuk menghindari kemungkinan tertular di luar negeri dan kemudian menulari orang lain di dalam negeri kita.

Aspek keempat, kalau toh ada yang datang dari luar negeri, harus melakukan karantina dan isolasi sesuai dengan aturan yang berlaku. Ingat, bisa saja memang mereka yang datang tidak ada gejala. Namun, kalau ada omikron di tubuhnya, dapat saja menulari anggota keluarganya, yang kalau kebetulan ialah warga lansia atau ada komorbid maka bukan tidak mungkin punya dampak yang lebih berat.

Aspek kelima ialah pentingnya vaksinasi. Data sampai 9 Januari 2022 menunjukkan, masih ada 44% penduduk kita yang belum mendapat vaksinasi memadai sebanyak 2 kali dan bahkan masih lebih 56% warga lansia kita belum terlindungi dengan vaksinasi yang memadai. Angka itu jelas harus dikejar secara cepat. Pengumuman bahwa pemberian vaksin booster akan dimulai dalam waktu dekat, juga perlu dimanfaatkan dengan optimal. Setidaknya, di awali untuk kelompok risiko tinggi yang rentan terinfeksi covid-19 seperti usia lanjut. Mereka dengan penyakit komorbid dan kelompok immunocompromised utamanya yang sedang dan berat.

Dalam hal lima aspek kewaspadaan di atas, peran pemerintah sebagai penentu kebijakan publik tentu amatlah vital. Untuk yang pertama tentang pendekatan now normal, maka upaya penyuluhan kesehatan yang masif dan terstruktur perlu terus digiatkan.

Untuk yang kedua, tentang tes, maka ketersediaan tes serta peningkatan jumlah tes di lapangan harus terus dilakukan di semua kabupaten/kota, jangan hanya berpegang pada angka nasional. Tentang aspek ketiga dan keempat, yang berhubungan dengan ke dan datang dari luar negeri, aturan harus jelas di buat berdasar bukti ilmiah yang sahih dan diterapkan secara tegas pada siapa pun untuk mencegah penularan berkepanjangan.

Selain itu, untuk kasus yang sudah jelas transmisi lokal harus dicari sumber penularnya, bukan hanya dicari menularkan ke siapa saja. Hanya dengan menemukan sumber penular, mata rantai penularan di masyarakat benar-benar dapat dikendalikan. Untuk aspek kelima tentang vaksinasi, maka tentu diharapkan pemerintah menyediakan vaksin yang mudah dijangkau masyarakat luas.

Selain itu, ada tiga hal lain yang perlu disiapkan dan dilakukan. Pertama, sistem surveilans yang akurat, dapat menjadi dasar ilmiah yang tepat kalau diperlukan pengetatan pembatasan sosial dalam bentuk PPKM sesuai dengan levelnya.

Kedua, komunikasi risiko yang juga harus terus dilakukan, dengan amat intensif, informasi yang jelas dan transparan, serta menggabungkan pendekatan proaktif menyampaikan informasi yang dianggap perlu dan dengan cepat pula memberi penjelasan atas isu-isu yang berkembang di masyarakat.

Hal ketiga, kesiapan pelayanan kesehatan yang benar-benar harus tertata dengan baik sejak sekarang ini, baik pelayanan primer di puskesmas dan klinik maupun pelayanan rujukan di rumah sakit sampai tingkat tertinggi.

Kesiapan pelayanan kesehatan perlu mencakup setidaknya tujuh hal, ruang pelayaran dan perawatan pasien dengan tempat tidurnya, alat kesehatan seperti oksigen dan ventilator, beragam obat yang diperlukan baik yang spesifik untuk covid-19 maupun keadaan penyerta lainnya, alat pelindung diri (APD) yang memadai.

Selanjutnya, situasi lingkungan yang aman dari penularan, sistem manajemen pelayanan di dalam rumah sakit, sistem rujukan yang cepat dan lancar, serta yang paling penting ialah tenaga Kesehatan, baik jumlahnya, keterampilannya, perlindungan terhadap tertular, maupun pengaturan waktu kerjanya yang wajar.

Baca Juga

MI/Seno

Investasi Inklusif untuk Masa Depan Indonesia

👤Teguh Dartanto Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia 🕔Senin 17 Januari 2022, 05:20 WIB
TAHUN Baru bukan hanya lintasan waktu atau angka yang bertambah...
MI/Seno

Memasuki 2022 dengan Memacu Riset Nasional

👤Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair 🕔Senin 03 Januari 2022, 05:10 WIB
BARU saja kita meninggalkan 2021 dan memasuki...
MI/Seno

Pandemi 2022, Varian Vs Vaksin

👤Iqbal Mochtar Dokter dan Doktor Bidang Kedokteran dan Kesehatan, Ketua Perhimpunan Dokter Indonesia Timur-Tengah 🕔Senin 27 Desember 2021, 05:00 WIB
SAAT awal, tidak banyak yang menduga pandemi berlangsung selama dan seberat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya