PRESIDEN Prancis Francois Hollande dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (26/11) waktu setempat, sepakat mengoordinasikan serangan terhadap kelompok teroris Islamic State (IS). Namun, keduanya masih berselisih soal masa depan Suriah yang berkaitan dengan rezim Presiden Bashar al-Assad. Putin mengindikasikan Prancis dan Rusia akan bekerja sama dalam pertukaran data dan informasi untuk membantu mengidentifikasi target IS di Suriah. Paris terlibat dalam koalisi internasional anti-IS pimpinan Amerika Serikat (AS) di Suriah dan Irak serta menyokong pejuang moderat anti-Assad.
"Serangan terhadap IS akan ditingkatkan dan menjadi objek koordinasi," kata Hollande setelah pertemuan selama 90 menit di Kremlin. Kesepakatan untuk berfokus menggempur IS merupakan kemajuan paling konkret dalam upaya maraton Hollande mendorong aksi luas memberangus IS. Tekad itu dipicu serangan yang melantakkan Paris pada 13 November lalu, yang menewaskan 130 orang dan diklaim IS. Meskipun Rusia dan koalisi AS sama-sama menentang IS, Washington dan sekutunya menuding operasi militer Moskow di Suriah menargetkan pejuang moderat antirezim Damaskus yang mereka sokong, ketimbang menargetkan IS.
Sebelum kunjungannya ke Moskow, Hollande mendapat dukungan dari Inggris. Perdana Menteri David Cameron pun menetapkan langkah untuk menggalakkan serangan udara terhadap IS di Suriah. Di Berlin, Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen menyatakan Jerman bisa menawari Prancis jet pengintai Tornado, kapal angkatan laut, citra satelit, dan pengisian bahan bakar udara untuk mendukung perjuangan melawan IS. Kemarin, Kremlin menyatakan kekuatan Barat tidak siap untuk membentuk koalisi dengan Rusia dalam melawan IS di Suriah. "Pada saat ini, sayangnya, para mitra kami tidak siap untuk bekerja dalam format koalisi tunggal," kata juru bicara Putin, Dmitry Peskov. Namun, dia menambahkan, "Rusia tetap terbuka untuk bekerja sama dalam format apa pun yang dirasa siap oleh mitra kami."