LAIN benua, lain pula motifnya. Hal itulah yang diungkapkan Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, menanggapi motif yang mendasari orang-orang yang memutuskan bergabung dengan kelompok radikal Islamic State (IS).
Menurutnya, di Indonesia, masyarakat yang memutuskan bergabung dengan IS sebagian besar telah mengerti benar dengan paham radikalisme sebelum benar-benar pergi ke Suriah.
"Mereka bergabung karena tertarik. Mereka ingin berada di sebuah negara Islam ketika dunia berakhir," ujar Jones dalam diskusi internasional bertajuk Radikalisasi dan Deradikalisasi di Jakarta, kemarin.
Adapun di Eropa, Jones memaparkan, orang-orang yang bergabung dengan IS ialah mereka yang menjadi korban ketidakadilan dan diskriminasi.
"Mereka berubah karena keadaan yang menimpa mereka."
Menurut riset yang dilakukan timnya, sekitar 100 warga Indonesia telah mencoba bergabung dengan kelompok ekstremis yang berbasis di Suriah dan Irak itu.
Saat ini, semuanya telah dideportasi dan berada di tempat asal mereka masing-masing.
"Mereka mencoba pergi dan memasuki Suriah. Mereka bahkan sampai rela menjual harta benda, rumah, dan tanah milik mereka untuk bisa membiayai penerbangan dan perjalanan ke Suriah," papar Jones.
Namun, dari semuanya, hanya sepuluh yang benar-benar telah berhasil bergabung.
"Yang lainnya sudah terlebih dahulu tertangkap di perbatasan sebelum bergabung," lanjutnya.
Menurut Jones, orang-orang yang pernah memutuskan untuk pergi ke Suriah juga bisa menjadi ancaman di Indonesia.
"Karena mereka telah paham radikalisme. Maka dari itu, sangat penting bagi pemerintah dan seluruh masyarakat untuk membantu dan memberikan mereka pemahaman terkait langkah yang mereka lakukan," ucapnya.
Pemberian pemahaman tersebut penting untuk mengobati kekecewaan mereka yang gagal bergabung dengan IS sehingga tidak mendorong mereka untuk membentuk kelompok radikal lainnya di dalam negeri.