Headline
Indonesia optimistis IEU-CEPA akan mengerek perdagangan hingga Rp975 triliun.
Indonesia optimistis IEU-CEPA akan mengerek perdagangan hingga Rp975 triliun.
Tiga sumber banjir Jakarta, yaitu kiriman air, curah hujan, dan rob.
Gadis pengungsi Guatemala, Jakelin Caal, 7, yang tewas pada bulan ini setelah ditahan penjaga perbatasan Amerika Serikat (AS), tidak bisa dipisahkan dari ayahnya.
Menurut ayahnya, Nery Caal, 29, dia ingin sekali mengirim uang untuk membantu keluarganya yang miskin.
Caal dan Jakelin bersama dalam satu kelompok yang terdiri atas 160 migran yang menyerahkan diri ke penjaga perbatasan AS di New Mexico pada 6 Desember 2018.
Jakelin menderita demam tinggi ketika berada di rumah tahanan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai AS. Dua hari kemudian dia meninggal dunia di rumah sakit di El Paso, Texas.
“Dia mengatakan, kalau sudah besar, akan bekerja dan mengirim uang untuk ibu dan neneknya,” kata Claudia Maquin, ibu Jakelin. Maquin yang terisak dan mengungkapkan hal itu dalam bahasa Q’eqchi Maya masih memiliki tiga anak lainnya.
“Karena tidak pernah melihat negara besar, dia sangat senang akan pergi,” kenangnya. Ia pun menerangkan bagaimana suaminya dan Jakelin pergi ke AS untuk mencari jalan keluar dari kemelaratan yang melilit kehidupan mereka.
Maquin, yang tinggal di rumah sangat sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun kelapa, mengenakan baju tradisional dan memangku bayinya berusia enam bulan.
Sekitar rumahnya dikelilingi kebun jagung. Sebuah foto keluarga di rumah itu memperlihatkan Jakelin tersenyum dan memandang kamera, mengenakan kaus bergambar tokoh film animasi Masha and the Bear.
Di sana, penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa telah membuat warga Kota Praja Raxruha yang berpenduduk 40 ribu jiwa mengalami kesulitan untuk bertani.
Menurut pejabat setempat, seperti halnya keluarga itu, mereka bergantung pada pertanian dan tinggal di Dusun San Antonio de Cortez, bagian tengah Guatemala.
Pada 1 Desember, Caal dan putrinya menempuh perjalanan sejauh 3.220 km karena ingin mencari kerja di AS. Namun, kabar yang diterima Maquin dari petugas konselor justru berita duka kematian putrinya.
Sebagai informasi, hampir 80% penduduk asli Guatemala hidup dalam kemiskinan. Setengah di antara mereka dalam keadaan melarat.
Keluarga Caal termasuk di antara yang paling miskin di desa itu. Dalam beberapa bulan terkahir, jumlah warga yang pergi ke AS melonjak setelah menjual lahan mereka untuk membayar sindikat pedagang manusia. (Ant/I-2)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved