Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Penarikan Pasukan AS Bukan Poin Kesepakatan Damai Korea

Denny Parsaulian
02/5/2018 17:04
Penarikan Pasukan AS Bukan Poin Kesepakatan Damai Korea
(AFP)

PRESIDEN Korea Selatan Moon Jae-in, pada Rabu (2/5) menepis klaim bahwa pasukan AS yang ditempatkan di negara itu harus pergi jika perjanjian damai dengan Korea Utara ditandatangani.

Seoul dan Pyongyang secara teknis masih berperang sejak 1953. Tetapi Presiden Moon dan Pemimpi Korea Utara Kim Jong Un setuju untuk membuat perjanjian perdamaian permanen untuk menggantikan perjanjian gencatan senjata 65 tahun lalu pada pertemuan pekan lalu.

"Pasukan AS Korea (USFK) adalah masalah aliansi Korea Selatan-AS. Ini tidak ada hubungannya dengan penandatanganan perjanjian damai," kata Moon mengacu pada perjanjian damai yang mungkin memasukkan 28.500 tentara AS di Selatan.

Komentar Moon ini muncul setelah seorang penasihat presiden secara terbuka mempertanyakan kehadiran tentara, pelaut, dan penerbang AS jika perjanjian perdamaian dengan Korut disetujui.

Moon Chung-in menulis di majalah Foreign Affairs bahwa akan sulit untuk membenarkan kehadiran pasukan AS di Korea Selatan setelah perjanjian perdamaian dibuat.

"The Blue House--Kantor Presiden Moon--telah memperingatkan penasihat untuk tidak menimbulkan kebingungan lagi dengan komentar seperti itu," kata juru bicara Kim Eui-kyeom.

Bantahan itu datang ketika kementerian pertahanan Seoul menegaskan bahwa beberapa jet tempur AS telah tiba di negara itu untuk mengambil bagian dalam latihan gabungan reguler.

Jet tempur siluman F-22 Raptor terakhir datang ke Selatan pada Desember ketika Seoul dan Washington melakukan latihan udara bersama terbesar mereka. Ini beberapa hari setelah Korea Utara melakukan uji coba misil yang diyakini mampu mencapai daratan AS.

Media setempat melaporkan delapan jet F-22 telah tiba Minggu (29/4) di sebuah pangkalan udara di kota selatan Gwangju.

Korea Utara biasanya marah terhadap kehadiran pesawat tempur siluman Amerika. Ini dikhawatirkan dapat digunakan untuk serangan terhadap kepemimpinan dan fasilitas strategis mereka.

Namun, Kim Jong Un baru-baru ini menunjukkan sikap yang lebih damai. Dia memberi tahu utusan Seoul Chung Eui-yong pada Maret bahwa ia memahami perlunya latihan gabungan AS-Korea Selatan.

Latihan bertajuk 'Max Thunder' akan dimulai pada 11 Mei selama dua minggu. Sebanyak 100 pesawat dua negara bakal berpartisipasi. Kementerian Pertahanan mendesak media untuk menahan diri dari memproduksi berita spekulatif tentang latihan ini.

Permintaan itu muncul setelah harian konservatif Chosun Ilbo mengklaim bahwa penempatan pesawat itu dapat dimaksudkan untuk menumpuk tekanan pada Pyongyang menjelang KTT yang direncanakan antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump.

"Max Thunder adalah latihan rutin yang telah ada di dalam daftar jauh sebelum pertemuan puncak AS-Korea Utara yang direncanakan," kata Kementerian Pertahanan dalam sebuah pernyataan.

Desa gencatan senjata Panmunjom di zona demiliterisasi (DMZ) antara Utara dan Selatan, tempat pertemuan antar-Korea pekan lalu diadakan, muncul sebagai tempat yang memungkinkan untuk pertemuan Kim-Trump.

Harian Chosun Ilbo mengatakan kedatangan jet F-22 juga bisa ditujukan untuk memperkuat keamanan jika pertemuan puncak Korea Utara-AS berlangsung di Panmunjom. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya