Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Bertemu Rohingya, Paus Teteskan Air Mata

04/12/2017 11:45
Bertemu Rohingya, Paus Teteskan Air Mata
(Paus Fransiskus (kanan) berbincang dengan pengungsi Rohingya di Dhaka, Bangladesh. AFP/VINCENZO PINTO)

PENDERITAAN pengungsi Rohingya mengundang kesedihan mendalam, termasuk bagi Paus Fransiskus yang mengaku menangis saat bertemu pengungsi asal Myanmar itu di Bangladesh.

Pertemuan dengan para pengungsi Rohingya tersebut ialah sikap solidaritas Paus kepada minoritas muslim yang melarikan diri dari kekerasan.

"Saya tahu bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang Rohingya, tapi tidak tahu di mana dan bagaimana. Itu salah satu bagian dari perjalanan ini," ujar Paus Fransiskus.

Dalam lawatannya, Paus menempuh jalur diplomatik selama empat hari di Myanmar, menghindari referensi langsung mengenai Rohingya di depan umum.
Di Bangladesh, Paus bertemu dengan sekelompok pengungsi Rohingya dalam sebuah pertemuan emosional di Dhaka.

"Saya tidak bisa pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka. Saya menangis. Mereka juga menangis," tutur Paus.

Paus memberi tahu pengungsi Rohingya, "Atas nama semua orang yang menganiaya Anda, yang melukai Anda, dalam menghadapi ketidakpedulian dunia, saya meminta pengampunan Anda."

Sri Paus merujuk kepada pengungsi tersebut sebagai Rohingya, menggunakan istilah tersebut untuk pertama kalinya dalam tur di Bangladesh setelah Uskup Agung Yangon menasihatinya bahwa melakukan hal itu di Myanmar dapat mengobarkan ketegangan dan membahayakan orang Kristen.

Kata itu secara politis sensitif bagi sebagian warga Myanmar karena mereka menganggap Rohingya sebagai kelompok etnik yang berbeda, bukan hanya imigran asal Bangladesh.

Benar saja, media sosial Myanmar marah setelah Paus menggunakan kata Rohingya itu.

"Dia harus menjadi salesman atau broker karena menggunakan kata-kata yang berbeda meskipun dia seorang pemimpin agama," kata seorang pengguna Facebook bernama Soe Soe.

"Paus ialah orang suci, tapi dia mengatakan sesuatu di sini (di Myanmar) dan dia mengatakan berbeda di negara lain," kata pengguna Facebook lainnya, Ye Linn Maung.

"Dia seharusnya mengatakan hal yang sama jika dia mencintai kebenaran."

Meski begitu, ada juga tokoh di Myanmar yang memuji sikap Paus. Maung Thway Chun, ketua partai nasionalis tidak resmi, 135 Patriots Party, menyebut keputusan Paus itu sebagai hal yang tepat.

"Itu berarti dia menghormati Myanmar. Dia bahkan tidak sering menggunakan kata itu di Bangladesh. Saya rasa dia hanya mengucapkannya sekali. Itu pun hanya untuk memuaskan kelompok HAM," ujarnya.

Lebih dari 620 ribu orang Rohingya menyeberang ke Bangladesh sejak sebuah serangan militan terhadap pos polisi pada akhir Agustus memicu tindakan keras dari militer Myanmar. (AFP/Anastasia Arvirianty/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya