Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN biarawan berpakaian oranye bersama dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menggelar upacara doa sebagai bentuk perayaan perdamaian dan stabilitas di pusat kekuasaan Khmer di Angkor Wat, Kamboja, kemarin.
Mereka menyanjung 'stabilitas politik' yang terjadi di negara itu setelah partai oposisi utama dibubarkan pengadilan pada awal bulan ini sehingga kekuasaan Hun Sen semakin kuat.
Hun Sen telah memerintah Kamboja sejak 1985, menjadikannya salah satu pemimpin terlama di dunia berkat strategi politiknya yang dingin, keterampilannya dalam hubungan masyarakat, dan represif.
Saat fajar naik di atas kubah batu berjenjang Angkor Wat, Hun Sen bergabung dalam doa bersama sekitar 5.000 biksu Buddha.
Penari apsara yang anggun, dengan jari-jari yang meringkuk dalam seni tradisional itu, bergerak melewati ribuan orang yang berkumpul di kompleks Angkor yang luas, pusat kerajaan Khmer pada abad ke-9.
Hun Sen, yang telah menempatkan dirinya sebagai sosok stabil di sebuah negara yang dilanda rezim genosida Khmer Merah, berada di depan dan tengah koreografi yang hati-hati itu.
Dengan berlutut, tangan digenggam dalam sikap doa, dia mendapat berkah dari para biku yang menyanyikan mantra Buddha dan menyebar kelopak bunga.
"Kami hidup dengan damai di bawah pemerintahan Perdana Menteri. Saya senang," kata Prum Seab, 49.
Menteri Pariwisata Kamboja Thong Khon menghangatkan tema tersebut.
"Kami mengadakan upacara ini untuk kemakmuran terus-menerus. Kami berdoa untuk perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan. Kami tidak memiliki krisis, tapi ada politisi yang mengalami krisis sendiri," katanya.
Bubarkan oposisi
Analis telah memperkirakan sebuah tantangan yang kuat bagi Hun Sen pada pemilihan tahun depan, setelah pemungutan suara pada 2013 membawa Partai Reserse Nasional Kamboja (CNRP), partai oposisi, mendapat hasil pemilu terbaik mereka.
Namun, Hun Sen bangkit pada tahun-tahun berikutnya, meningkatkan profil publiknya melalui Facebook lalu secara sistematis menggunakan pengadilan kerajaan untuk menyingkirkan CNRP serta kritikus di masyarakat sipil dan media.
Partai oposisi utama Kamboja itu akhirnya bubar pada bulan ini karena tuduhan berkomplot dengan Amerika Serikat (AS) dalam sebuah plot pengkhianatan.
Kasus tersebut disanggah Washington karena tidak berdasar di saat kelompok hak asasi manusia menyebut Kamboja mempercepat turunnya negara tersebut menjadi negara satu partai secara de facto.
Hun Sen telah menaikkan retorika anti-AS untuk membenarkan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya termasuk menutup media yang kritis pada tuduhan pajak palsu atau menangkap wartawan dengan dugaan mata-mata.
Pada langkahnya, Hun Sen telah memperdalam hubungan Kamboja dengan pemain kelas berat regional, Tiongkok.
Dalam kerja sama itu, Tiongkok memberikan pinjaman suku bunga rendah dan skema infrastrukturnya dapat mendorong kesejahteraan di salah satu negara termiskin di Asia Tenggara itu.
Tiongkok saat ini merupakan investor asing terbesar di Kamboja, dengan investasi senilai US$16,2 miliar per Agustus 2017. (AFP/khmertimeskh/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved