TAK ada bau menyengat, genangan air, tumpukan sampah yang berjejalan dengan sayur atau buah yang dijual. Itulah wajah Pasar Badung, Denpasar, Bali. Pasar dengan cahaya matahari terang benderang karena sistem ventilasi yang baik itu, Selasa (17/11) pagi, beberapa kali disambangi para turis dan ekspatriat. Ada seorang ibu berpakaian sari India yang menanyakan daun salam kering, dan setelah berdiskusi dengan pedagang rempah di sana, ia membeli beberapa tangkai bumbu pengharum masakan itu dalam kondisi yang segar. Pada pagi-pagi yang lain, kata I Made Sudana, sang kepala pasar, rombongan turis yang dibawa pemandu mendatangi pasar itu sebagai pembuka acara jalan-jalan mereka.
"Mereka biasanya foto-foto, melihat-lihat suasana, mengeksplor bahan makanan segar yang ada di sini, lalu berbelanja makanan atau kerajinan," kata Sudana sambil membawa serta rombongan media yang pagi itu diajak menikmati resik dan serunya jalan-jalan di pasar milik Yayasan Pembangunan Sanur itu. Kisah pasar yang sehat, karena produk-produk yang dijualnya rutin diperiksa dinas kesehatan agar bisa terdeteksi jika mengandung bahan berbahaya, sekaligus punya sistem infrastruktur yang baik itu diceritakan dalam buku Pasar Sehat Berdaya, Wajah Baru Pasar Tradisional.
Buku itu diluncurkan Yayasan Unilever Indonesia hari itu di sana, sebagai penanda lima tahun berjalannya Program Pasar Sehat Berdaya. Unilever, produsen aneka produk kebutuhan sehari-hari mulai sabun kecap hingga margarin itu, kemudian mengupas kiprahnya yang berawal dari pemberdayaan para pedagang Pasar Piyungan Yogyakarta, Pasar Palmerah Jakarta Barat, hingga Pasar Sindu. Buku setebal 107 halaman dengan foto-foto kemeriahan pasar ini mengungkap berbagai sisi pasar tradisional, terutama dalam wajah humanisnya.
Pasar diceritakan sebagai bagian dari kehidupan desa, juga kota, yang terus bergerak sesuai perubahan yang terjadi pada masyarakat di sekitarnya. Pasar menjadi sumber penghidupan, harapan, sekaligus mencerminkan watak masyarakat. Termasuk, ketika hasrat buat mengeruk keuntungan membuat produk yang dijual di sana harus diawasi ketat agar penggunaan zat-zat berbahaya bisa dideteksi. Selain cerita tentang kiprah korporasi memberikan pendampingan, buku ini akan menguatkan alasan bagi kita untuk kembali ke pasar, karena pasar merupakan bagian dari pembentuk kultur, penguat ekonomi, dan menjadi cerminan kemandirian pengusaha kecil menengah.