Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda sedang duduk santai, lalu tiba-tiba cicak jatuh di pundak kiri Anda? Kejadian ini sering membuat orang kaget dan bertanya-tanya, apa arti kejatuhan cicak di pundak kiri menurut Islam? Di masyarakat, terutama di Indonesia, banyak yang mengaitkannya dengan pertanda buruk, seperti masalah keluarga atau kesulitan rezeki. Namun, apakah pandangan Islam mendukung mitos ini? Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap berdasarkan Al-Quran dan hadits shahih dengan bahasa yang mudah dipahami.
Cicak adalah hewan kecil yang sering ditemukan di dinding atau langit-langit rumah. Karena ukurannya yang kecil dan gerakannya yang cepat, kejatuhan cicak sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa. Di berbagai budaya, terutama budaya Jawa, kejatuhan cicak di bagian tubuh tertentu, seperti pundak kiri, dianggap memiliki makna khusus. Misalnya, ada yang percaya ini pertanda masalah akan datang atau ada orang terdekat yang akan kesusahan. Tapi, benarkah arti kejatuhan cicak di pundak kiri menurut Islam seperti yang diyakini masyarakat?
Sebelum masuk ke pandangan Islam, mari kita lihat beberapa mitos yang populer di masyarakat.
Berikut adalah beberapa kepercayaan yang sering terdengar:
Mitos-mitos ini berkembang di masyarakat dan sering diwariskan secara turun-temurun. Namun, Islam memiliki pandangan yang jelas tentang hal ini, dan kita perlu memahaminya agar tidak terjebak dalam takhayul.
Dalam Islam, mempercayai bahwa kejatuhan cicak membawa pertanda sial disebut tathayyur atau tiyarah. Ini adalah bentuk keyakinan yang dilarang karena bisa melemahkan tauhid, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang mengatur nasib kita. Percaya pada pertanda dari hewan atau kejadian tertentu bisa membuat kita lupa bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah.
Sebagai contoh, jika seseorang kejatuhan cicak di pundak kiri lalu takut akan terjadi sesuatu yang buruk, ini bisa menjauhkannya dari tawakal. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk selalu menggantungkan harapan hanya kepada Allah.
Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa semua makhluk di bumi, termasuk cicak, berada di bawah kendali Allah. Berikut adalah ayat yang relevan:
Arab: وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلًّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Latin: Wa mā min dābbatin fī l-arḍi illā ‘alā Allāhi rizquhā wa ya‘lamu mustaqarrahā wa mustawda‘ahā kullun fī kitābin mubīn.
Terjemahan: Dan tidak ada binatang pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) yang nyata.
(QS. Hud: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa cicak hanyalah makhluk biasa yang hidup atas kehendak Allah. Kejatuhannya di pundak kiri bukanlah tanda apa pun, melainkan hanya kejadian alamiah.
Rasulullah SAW juga melarang kita percaya pada takhayul. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:
Arab: لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
Latin: Lā ‘adwā wa lā ṭiyarata wa lā hāmata wa lā ṣafara.
Terjemahan: Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada tiyarah (takhayul), tidak ada hama (keyakinan buruk tentang burung hantu), dan tidak ada safar (anggapan buruk tentang bulan Safar).
(HR. Bukhari, no. 5757; Muslim, no. 2220)
Hadits ini menegaskan bahwa kejatuhan cicak tidak boleh dianggap sebagai pertanda. Sebaliknya, kita harus memperkuat iman dan tawakal kepada Allah.
Islam memang menyebutkan cicak dalam beberapa hadits, tetapi tidak dalam konteks pertanda sial. Cicak dianggap sebagai hewan yang bisa mengganggu, sehingga boleh dibunuh untuk menjaga kebersihan atau kenyamanan. Berikut adalah hadits shahih yang relevan:
Arab: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا
Latin: Anna an-Nabiyya shallallāhu ‘alayhi wa sallam amara bi qatli al-wazaghi wa sammāhu fuwaysiqā.
Terjemahan: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak (tokek), dan beliau menyebutnya sebagai fuwaysiq (hewan fasik kecil).
(HR. Muslim, no. 2238)
Ada juga hadits yang menyebutkan pahala bagi yang membunuh cicak karena mengganggu:
Arab: مَنْ قَتَلَ الْوَزَغَ فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ فَلَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِي الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِي الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ
Latin: Man qatala al-wazgha fī awwali ḍarbatin falahu mi’atu ḥasanatin wa fī ath-thāniyati dūna dhālika wa fī ath-thālithati dūna dhālika.
Terjemahan: Barang siapa membunuh cicak pada pukulan pertama, baginya seratus kebaikan. Pada pukulan kedua kurang dari itu, dan pada pukulan ketiga lebih kurang lagi.
(HR. Muslim, no. 2240)
Hadits ini menunjukkan bahwa cicak dianggap sebagai hewan pengganggu, bukan pembawa pertanda. Jadi, jika cicak jatuh di pundak kiri, cukup usir dengan hati-hati tanpa perlu khawatir berlebihan.
Jika Anda kejatuhan cicak di pundak kiri, berikut adalah langkah-langkah sesuai ajaran Islam:
Untuk menenangkan hati setelah kejatuhan cicak, Anda bisa membaca doa sederhana berikut:
Arab: اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ
Latin: Allāhummaḥfaẓnī min kulli sū’in wa balā’in.
Terjemahan: Ya Allah, lindungilah aku dari segala keburukan dan musibah.
Doa ini bukanlah doa khusus untuk kejatuhan cicak, tetapi bisa membantu Anda merasa lebih tenang dan kembali fokus pada Allah.
Jadi, arti kejatuhan cicak di pundak kiri menurut Islam adalah tidak ada makna khusus. Ini hanya kejadian biasa yang tidak boleh dikaitkan dengan pertanda sial atau baik. Islam mengajarkan kita untuk menjauhi takhayul, memperkuat tawakal, dan selalu menggantungkan harapan kepada Allah SWT. Jika cicak jatuh di pundak Anda, anggaplah itu sebagai pengingat untuk lebih dekat dengan Allah melalui doa dan keimanan.
Semoga artikel ini membantu Anda memahami pandangan Islam dengan lebih jelas. (Z-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved