Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi melaksanakan pertemuan bilateral dengan Menteri bidang Keluarga dan Layanan Sosial Turki Mahinur Ozdemir Goktas. Masih dalam rangkaian agenda Commission on the Status of Women (CSW) ke-69 di New York, AS, menteri PPPA membahas mengenai isu perlindungan dan pemberdayaan perempuan, serta tindak lanjut nota kesepahaman yang telah ditandatangani dua kementerian.
“Pada 2019, Kementerian PPPA pernah melaksanakan MoU dengan Kementerian Keluarga, Tenaga Kerja dan Layanan Sosial yang sekarang dipecah menjadi Kementerian Keluarga dan Layanan Sosial Turki. Kami berharap kedua belah pihak bisa melanjutkan kerja sama tersebut dengan program dan kegiatan untuk mendukung pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,” kata Arifah dalam keterangan resmi, Kamis (13/3).
Menteri PPPA menyampaikan Pemerintah Indonesia dan Turki sama-sama memiliki program terkait layanan pengaduan kekerasan bagi perempuan dan anak. Turki memiliki hotline Alo 183, sedangkan Indonesia memiliki Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129.
Hotline SAPA12 telah terintegrasi secara nasional dengan Unit Pelayanan Teknis Daerah Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di tingkat provinsi sebagai layanan satu pintu untuk pelaporan dan penanganan kekerasan.
“Kementerian Keluarga dan Layanan Sosial Turki memiliki layanan Alo 183 yang serupa dengan Kemen PPPA yakni layanan pengaduan SAPA 129. Kami mendiskusikan praktik baik yang ada di Turki dalam memberikan layanan yang komprehensif, terintegrasi dan inklusif bagi kelompok rentan seperti disabilitas,” kata menteri PPPA.
Pihaknya berharap Indonesia dan Turki dapat saling memberikan masukan untuk mendorong upaya perlindungan perempuan di masing-masing negara.
Usai melaksanakan pertemuan bilateral, Arifah Fauzi dan Mahinur melanjutkan pembahasan isu pemberdayaan perempuan pada CSW Side Event Turkiye Digital Trends: Women Entrepreneurs Shaping the Future Economy. Dalam kegiatan tersebut, menteri PPPA membahas potensi kerja sama dalam bidang pemberdayaan perempuan khususnya di bidang ekonomi digital.
Arifah memaparkan, pada 2024, terdapat 64% dari pelaku usaha UMKM di Indonesia digerakkan oleh perempuan. Hal itu menunjukkan bahwa wirausaha perempuan mempunyai peran dan potensi yang besar dalam pembangunan ekonomi masa depan, terutama di era digital saat ini.
“Mendukung hal tersebut, pemerintah Indonesia telah memetakan Strategi Nasional Ekonomi Digital yang diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk mendorong para perempuan dalam mengembangkan usahanya,” jelas menteri PPPA.
Upaya meningkatkan ekonomi perempuan juga diwujudkan dengan peluncuran Ruang Bersama Indonesia (RBI). Kemen PPPA bekerja sama dengan berbagai pihak, baik dari kementerian/lembaga, sektor swasta, serta pemangku kepentingan lainnya untuk mewujudkan Ruang Bersama Indonesia yang inklusif dan dapat mewadahi seluruh masyarakat, termasuk di dalamnya wirausaha perempuan.
Kedua negara sepakat untuk menindaklanjuti pertemuan bilateral ini dengan pembahasan dokumen nota kesepahaman. Itu akan memuat rencana kerja kemitraan antara Kementerian PPPA dan Kementerian Keluarga dan Layanan Sosial Turki. (Ifa/I-1)
Wawang tidak hanya menjalankan usaha emping singkong, tetapi juga memberdayakan 25 ibu rumah tangga untuk ikut serta dalam proses produksi.
Deretan startup atau perusahaan rintisan yang didirikan dan dikembangkan oleh para perempuan Indonesia diharapkan mampu memadukan inovasi dengan manfaat bagi masyarakat.
Kehadiran sepeda motor listrik Fox 200 turut dilandasi oleh stereotip klasik: perempuan yang sein kanan tapi belok kiri, atau lupa mematikan sein dan terus lurus.
Rani menjalankan usaha minuman segar seperti jus di sekitar arena perlombaan pacu jalur. Sejak tahun 2017, ia menjadi bagian dari keluarga besar PNM melalui pembiayaan Mekaar.
UPAYA memperkuat perlindungan perempuan dan anak dari ancaman tindak kekerasan melalui pengintegrasian sistem antarlembaga terkait harus mendapat dukungan semua pihak.
Kurang tidur menyebabkan kerusakan DNA, melemahnya kekebalan tubuh, meningkatnya peradangan, dan terganggunya ritme sirkadian, yang semuanya bekerja sama membantu sel kanker.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved