Senin 05 Desember 2022, 11:00 WIB

10 Ilustrasi Khotbah Natal yang Menarik 2022

Meilani Teniwut | Humaniora
10 Ilustrasi Khotbah Natal yang Menarik 2022

ANTARA/Aditya Pradana Putra
Sejumlah umat Kristiani menyanyikan lagu pujian dalam perayaan Natal Gereja Tiberias Indonesia di SUGBK, Senayan, Jakarta.

 

SETIAP tahunnya, tanggal 25 Desember dirayakan umat Kristiani sebagai Hari Natal. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, bahwa pada Hari Raya Natal, kita merayakan hari lahirnya Yesus Kristus. Kita merayakannya dengan pergi ke gereja, memajang pohon natal di rumah, tukar kado, makan bersama, dan menonton film tentang Sinterklas. Meski telah terbiasa merayakan hal ini bertahun-tahun, kita sering kali lupa akan makna natal sesungguhnya.

Tentu makna kelahiran Yesus Kristus ke dunia tentu lebih daripada sekadar perayaan tukar kado dan makan bersama. Setiap tahun kita diajak kembali merenungkan kehadiran Yesus Kristus di dunia.

Baca juga: Tradisi Natal Unik di Berbagai Belahan Dunia

Yuk, berbagi renungan natal bersama linkungan di komunitas atau gereja kita!

Berikut ini adalah rangkuman khotbah natal menarik yang bisa kita renungkan bersama menjelang Hari Raya Natal.

1. Tuhan dapat memakai orang yang lemah untuk menggenapi rencananya (Matius 1:1-17)

Dalam injil Matius terdapat silsilah Yesus, yang merupakan bagian paling awal dari injil tersebut.

Hal ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Yesus, yang menjadi pusat pemberitaan Injil Matius, mempunyai garis keturunan dari Abraham, suku Yehuda, dan Daud.

Hal yang menarik dari silsilah Yesus ini adalah disebutnya 4 tokoh perempuan Perjanjian Lama di dalamnya (selain Maria, Ibu Yesus), suatu hal yang tidak lazim dalam silsilah Yahudi.

Perempuan, selain jarang disebut dalam silsilah, sering dianggap lebih rendah dari pada laki-laki.

Tetapi keempat perempuan dalam silsilah Yesus ini lebih lemah lagi, sebab mereka masing-masing mempunyai kekurangan lain, yakni bukan orang Israel asli atau keturunan Abraham yang menyembah Tuhan, dan atau mempunyaui cacat moral.

Tetapi hal itu tidak membuat mereka menjadi tidak berharga. Allah justru memakai mereka sebagai sarana bagi keselamatan manusia. Mereka adalah nenek moyang juruslamat.

2. Cara Tuhan Mengabulkan Doa (Lukas 1:5-25)

Khotbah natal yang mengajak kita merenung di hari raya ini adalah kisah ketekunan Zakharia dalam berdoa.

Meski bukan seorang nabi, Zakharia adalah salah satu tokoh penting yang menjadi jalan pembuka bagi kedatangan Mesias.

Maka dari itu, tidak heran jika kisah Zakharia terus dibacakan dalam ibadat perayaan Natal.

Zakharia merupakan seorang imam yang taat dan sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk bertugas di Bait Suci.

Dikisahkan, ketika Zakharia dan istrinya, Elisabeth, menginjak usia yang cukup tua, mereka belum dikaruniai seorang anak.

Namun, di usia yang sangat tua, Elisabeth malah mengandung seorang bayi.

Bayi inilah yang kemudian tumbuh menjadi Yohanes Pembaptis.

Sebelum mengetahui bahwa sang istri hamil, Zakharia sempat melihat malaikat Tuhan menampakkan dirinya kepada Zakharia.

Lalu, bagaimana Tuhan mengabulkan doa Zakharia melalui ketaatannya dalam beriman?

Berikut beberapa hal yang dapat direnungkan dari kisah hidup Zakharia.

a. Selalu Hidup Saleh

Setiap orang yang sangat menginginkan sekali memiliki keturunan, tentu akan merasa kecewa ketika permohonannya tidak dikabulkan.

Meski tidak memiliki keturunan selama puluhan tahun, Zakharia dan Elisabeth tidak pernah menyatakan kekecewaannya pada Tuhan.

Bahkan, Zakharia dan Elisabeth terus konsisten hidup dalam kesalehan.

Hal inilah yang harus kita teladani, untuk tetap setiap pada Tuhan meski perjalanan hidup terasa sulit.

b. Setia dalam Pelayanan

Sebagai seorang imam, Zakharia tentu harus siap ketika sewaktu-waktu dipanggil bertugas di Bait Allah.

Zaman dulu, untuk mendapat giliran bertugas di Bait Suci, seorang imam harus menunggu berdasarkan urutan undian.

Bisa saja seorang imam bertugas setahun sekali atau bahkan hanya sekali seumur hidup.

Menunggu giliran bertugas di Bait Suci dibutuhkan kesetiaan akan pelayanan dan iman.

Maka dari itu, sama seperti Zakharia, apa pun pergumulan hidup yang sedang dihadapi, tidak boleh mengurangi kesetiaan kita dalam pelayanan.

c. Rajin Berdoa

Meski selama puluhan tahun tidak kunjung juga dikaruniai seorang anak, Zakharia tetap tekun berdoa untuk meminta keturunan.

Suatu hari, ketika sedang bertugas di Bait Suci, Zakharia dihampiri malaikat.

Malaikat tersebut memberikan kabar bahwa sang istri, Elisabeth akan mengandung seorang anak.

Malaikat juga memberi tahu agar memberi nama anak itu Yohanes.

Yohanes inilah yang kemudian menjadi perintis jalan bagi Yesus Kristus.

Yohanes juga yang membaptis Yesus di Sungai Yordan.

Kisah ini sering disampaikan kembali dalam khotbah natal sebagai renungan bahwa jika kita terus berdoa, Tuhan akan mengabulkan doa itu entah bagaimana caranya dan bahkan melalui cara yang dirasa tidak mungkin bagi akal manusia.

3. Jati Diri Yesus (Lukas 1:32-38)

Dalam setiap khotbah natal, kita juga diingatkan tentang jati diri Yesus sebenarnya di dunia ini.

Saat Malaikat Gabriel menampakan dirinya kepada Bunda Maria, dia menjelaskan tentang tiga jati diri Yesus.

a. Yesus adalah Anak Tuhan Maha Tinggi

Dalam iman Kristen, semua pengikut Yesus disebut sebagai anak Tuhan.

Namun, dalam konteks Yesus, kita berbicara Anak Allah dalam makna keilahian.

Dalam Lukas 1 ayat 32a disebutkan, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya,”.

Dalam konteks keilahian, Malaikat Gabriel ingin menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang turun ke dunia menjadi manusia.

b. Raja yang Kekal

Saat bertemu Maria, Malaikat Gabriel juga mengatakan bahwa Yesus adalah raja yang kekal.

Raja yang dimaksud Gabriel adalah raja dalam artian secara rohani, bukan politis.

Malaikat Gabriel juga mengatakan bahwa Yesus adalah mesias yang dijanjikan Tuhan.

Namun, sayangnya, banyak orang Israel menyalahartikan janji Tuhan tersebut dengan mengira bahwa mesias adalah raja untuk orang Israel saja.

c. Kekudusan Yesus

Malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria bahwa anak yang akan dikandungnya adalah Kudus.

Dalam Lukas 1 ayat 35, berbunyi seperti ini, “Jawab malaikat itu kepadanya (Maria): “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah,”.

Dalam ayat tersebut, diartikan bahwa Yesus bukanlah anak yang dilahirkan dari hubungan suami-istri.

d. Yesus lahir karena kehendak Tuhan.

Melalui Maria, Tuhan hadir ke dunia dalam wujud Yesus Kristus.

Hanya Tuhan sendirilah yang dapat menjadi juru selamat umat manusia dan menghapuskan semua dosa.

Maka dari itu, dalam setiap khotbah natal, kita akan selalu diingatkan tentang jati diri Yesus ini.

4. Berserah Kepada Tuhan (Lukas 1:26-32)

Salah satu renungan natal yang paling penting adalah kita harus mengingat untuk selalu berserah kepada Tuhan.

Dalam banyak khotbah natal, kita sering diingatkan bagaimana Maria secara tiba-tiba diberi tahu bahwa dia mengandung bayi dari Tuhan.

Tidak hanya Maria yang kaget, sang tunangan, Yosef, juga kaget dengan kabar ini.

Stigma hamil di luar nikah tentu dianggap sebagai aib yang memalukan pada masa itu dan terancam hukuman mati.

Lalu bagaimana Maria dan Yosef sanggup menghadapi pergumulan ini?

a. Bertanya kepada Malaikat

Saat diberi tahu bahwa dalam perutnya mengandung bayi seorang mesias, Maria tidak diam begitu saja.

Kepada Malaikat Gabriel, Maria menanyakan cara untuk menghadapinya.

Dalam Lukas 1 ayat 34-35 disebutkan, “Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

“Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab itu, anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut Kudus, Anak Allah,”.

b. Rendah Diri dan Pasrah

Dalam setiap renungan natal, kita juga diajak untuk rendah diri di hadapan Tuhan.

Meski gundah saat diberi tahu Malaikat Gabriel bahwa dirinya akan mengandung Yesus, Maria dengan rendah hati mengatakan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu,” (Lukas 1:38).

Dari ayat ini, kita diajarkan bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, kita tidak memiliki kuasa apa pun.

Namun, seperti yang disampaikan Malaikat Gabriel (Lukas 1:37), bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

5. Makna Kelahiran Yesus Kristus (Lukas 1:67-75)

Khotbah natal yang paling utama adalah untuk merenungkan tujuan Yesus Kristus lahir di dunia.

Setidaknya ada beberapa tujuan Yesus lahir ke dunia.

a. Menggenapi Janji Tuhan

Dalam Kitab Perjanjian Lama, sering disebutkan bahwa Tuhan menjanjikan akan turunnya seorang mesias yang menjadi juru selamat.

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berfirman bahwa akan lahir seorang juru selamat dari keturunan Daud.

Dengan begitu, kelahiran Yesus Kristus ke dunia adalah sebagai penggenapan atas nubuat nabi-nabi di Perjanjian Lama.

Dalam Kitab Kejadian 12:1-3, Tuhan berjanji kepada Nabi Abrahan, bahwa seluruh bumi akan diberkati dan diselamatkan.

b. Menebus Dosa Manusia

Renungan natal yang selalu diulang adalah mengenai karya penebusan dosa yang dilakukan oleh Yesus.

Melalui perayaan Natal, kita diajak untuk bersukacita karena kelahiran Yesus berarti melepaskan umat manusia dari dosa.

Kita harus mengingat bahwa Tuhan rela merendahkan dirinya datang ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa umat manusia.

c. Mengajarkan Manusia untuk Beribadah secara Baik

Renungan khotbah natal yang terakhir adalah mengingatkan bahwa Yesus lahir ke dunia agar manusia dapat beribadah secara baik kepada Tuhan.

Melalui teladan Yesus, kita diajak untuk beribadah dan menyerahkan diri secara total kepada Tuhan.

“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran,” (Yohanes 4:24).

6. Sikap yang benar dalam menghadapi pergumulan hidup (Lukas 1: 26- 38)

Maria adalah perempuan sederhana yang tinggal di kota Nazaret, Galilea. Ia masih gadis dan sedang bertunangan dengan Yusuf, seorang laki-lai dari keturunan Daud.

Suatu ketika malaikat Gabriel datang kepadanya untuk memberitahukan bahwa ia akan melahirkan juruselamat dunia.

Ketika Maria mendengar ia akan mengandung, maka ia sangat terkejut.

Tentu hal ini sangat tidak wajar sebab Maria belum menikah.

Dan hamil di luar nikah adalah sebuah aib besar yang sangat memalukan, bahkan pada masa itu bisa diganjar dengan hukuman mati karena dianggap berzinah.

Hal inilah yang menjadi pergumulan batin bagi Maria.

Dalam menghadapi ini maka Maria melakukan tiga hal, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita.

a. Bertanya kepada Tuhan (ayat 34)

Ketika mendengar berita yang mengejutkan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak, Maria tidak hanya diam.

Maria bertanya kepada Tuhan melalui malaikat Gaabriel, bagaimana caranya dia bisa mengandung dan melahirkan anak jika dia belum bersuami ?

Maria tidak hanya bertanya di dalam hatinya (ayat 29), melainkan bertaya langsung kepada malaikat yang membawa berita kepadanya.

Ketika kita menghadapi pergumulan hidup kadang kita bertanya-tanya di dalam hati.

Tetapi itu tidak cukup. Kita perlu langsung kepada Tuhan lewat doa-doa kita untuk menemukan solusi.

b. Merendahkan diri di hadapan Tuhan (ayat 38 a)

Setalah malaikat Gabriel menjawab kegundahan hati Maria, maka Maria berkata, "Aku ini adalah hamba Tuhan."

Ini adalah bentuk kerendahan hati seseorang di hadapan Tuhan.

Maria tahu memposisikan dirinya di hadapan Tuhan. Dia hanyalah seorang hamba yang tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan.

Maria yakin bahwa Tuhan itu berdaulat dan maha kuasa. Dia dapat melakukan apa pun yang kelihatannya mustahil bagi manusia.

Sebab, seperti yang disampaikan oleh malaikat Gabriel kepadanya, tidak ada yang mustahil bagi Allah (Lukas 1:37).

Allah lebih daripada sanggup untuk membuat Maria yang belum bersuami mengandung Roh Kudus.

Inilah yang disadari penuh oleh Maria.

Ketika kita diperhadapkan pada sebuah pergumulan hidu, kita dapat berkata seperti Maria, "Aku ini adalah hamba Tuhan."

c. Berserah di hadapan Tuhan (ayat 38b)

Sejalan dengan sikap Maria yang merendahakan diri di hadapan Tuhan, Maria juga berserah kepada Tuhan.

Maria berkata, "Jadila padaku menurut perkataanmu itu."

Ini bukanlah pasrah terhadap keadaan, melainkan memasrahkan diri kepada Tuhan.

Karena Maria sadar bahwa dia hanyalah seorang hama, maka dia pun mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.

Maria tahu bahwa Tuhan baik kepadanya, bahwa ia tidak mungkin akan merencanakan hal buruk kepadanya. Dia yakin bahwa Tuhan dapat dipercayai.

Karena itulah dengan penuh keyakinan ia mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan.

Jika kita percaya pada kasih dan kuasa Tuhan, maka seharusnya kita tidak perlu lagi ragu untuk memasrahkannya seluruh hidup kita kepadaNya.

7. Meneladani Karakter Yusuf (Matius 1:18-25)

Yusuf adalah ayah Yesus secara manusia. Dia merupakan keturunan Daud, yang berasal dari Betlehem tetapi tinggal di kota Nazaret.

Pekerjaan Yusuf adalah seorang tukang kayu. Tampaknya Yusuf sudah meninggal ketika Yesus resmi memulai pelayananNya di depan publik, sebab namanya tidak pernah lagi disebutkan setelah kelahiran Yesus.

Karena itu tidak terlalu banyak hal yang dapat kita ketahui dari pribadi Yusuf.

Tetapi dalam kisah-kisah natal di Alkitab, kita dapat melihat karakter Yusuf, karena ia cukup sering disebut, bahkan ketika Yesus berusia 12 tahun.

Salah satu bagian Alkitab yang mencatat karakter Yusuf adalah Matius 1:18-25, yang berkaitan dengan kelahiran Yesus Kristus.

Dari Matius 1:18-25 kita bisa mengetahui 4 karakter Yusuf yang dapat kita teladani.

a. Orang yang tulus hati (ayat 19a)

Alkitab memperkenalkan pribadi Yusuf sebagai orang yang tulus hati.

Yusuf adalah orang yang lurus, yang tidak neko-neko, dia tidak punya motif-motif yang tidak baik terhadap orang lain.

Hal ini selaras dengan kehidupan Yusuf yang sederhana sebagai seorang tukang kayu.

Meskipun Yusuf termasuk keturunan raja Daud, raja Israel terbesar sepanjang masa, namun Yusuf hidup secara sederhana dan tulus hati.

Tuhan Yesus juga mengajar kita untuk tulus seperti merpati.

b. Orang yang menjaga martabat orang lain (ayat 19b)

Yusuf juga orang yang menjaga martabat dan kehormatan orang lain, dalam hal ini Maria.

Ketika Yusuf tahu bahwa tunangannya, Maria, sedang hamil, maka dengan diam-diam ia ingin membatalkan pertunangannya dengan Maria.

Pada masa itu pertunangan sudah dianggap seperti suami istri, tetapi belum hidup sebagai suami istri.

Rencana Yusuf membatalkan pertunangannya adalah karena ia tidak ingin mencemarkan nama Maria jika sudah mengandung padahal masih bertunangan.

Yusuf tidak ingin Maria dituduh sebagai perempuan yang tidak baik, yang hamil di luar nikah darinya.

Sikap dan perbuatan kita sudah seharusnya tidak membuat orang lain kehilangan martabat, kehormatan, dan harga diri di depan umum.

c. Orang yang rela memikul beban (ayat 24)

Ketika Yusuf berniat membatalkan pertunangannya dengan Maria, malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya agar ia jangan ragu menerima Maria sebagai istrinya, sebab kandungannya itu berasal dari Roh Kudus.

Hal ini ditaati oleh Yusuf, ia mengambil Maria yang sedang mengandung sebagai istrinya.

Dengan keputusan Yusuf menaati Tuhan maka ia terbukti rela menanggung beban.

Yusuf harus hidup dengan istri yang telah mengandung bayi yang bukan anaknya! Ia harus turut merawat bayi itu sejak dalam kandungan dan ketika kelak sudah lahir.

d. Orang yang bisa menahan diri (ayat 25)

Menarik, Alkitab menceritakan bahwa Yusuf tidak melakukan hubungan suami istri dengan Maria hingga kelahiran Yesus.

Tentu hubungan suami istri di antara Yusuf dengan Maria adalah biasa setelah kelahiran Yesus.

Catatan Alkitab ini dimaksudkan untuk menegaskan kekudusan bayi Yesus, Sang Juruselamat, sejak dari kandungan.

Tetapi hal ini juga menunjukkan sifat Yusuf yang bisa menahan diri dalam segala hal, termasuk dalam hal hubungan suami istri.

Yusuf baru saja menikah, hidup serumah dan sekamar dengan istrinya, tetapi ia tidak boleh melakukan hubungan dengan istrinya!

Hanya orang yang bisa menahan diri yang dapat melakukan hal tersebut.

Dalam hidup ini penguasaan diri dibutuhkan dalam segala hal, apalagi dalam konteks hal-hal yang dilarang Tuhan. Hal itu mutlak dilakukan oleh orang percaya.

8. Makna Natal yang Seseungguhnya (Lukas 2:8-15)

Setelah Yesus lahir, maka seorang malaikat Tuhan menampakkan diri kepada para gembala yang sedang menggembalakan kambing domba mereka di padang Efrata, tidak jauh dari tempat kelahiran Yesus.

Malaikat tersebut memberitahukan kepada para gembala perihal kelahiran Sang Juruselamat di Betlehem.

Para bala tentara surga juga tampak sedang memuji- muji Tuhan.

Setelah para malaikat kembali ke surga, para gembala itu pun pergi ke Betlehem dan bertemu dengan bayi Yesus di palungan bersama kedua orang tuaNya.

Dari kisah ini kita dapat belajar tentang 3 makna natal (kelahiran Yesus) yang sesungguhnya.

a. Natal Adalah Sukacita Besar (ayat 10)

Peristiwa natal lebih dari 2000 tahun yang lalu, adalah kabar sukacita bagi manusia.

Malaikat mengatakan kepada para gembala di padang Betlehem bahwa ia membawa kabar baik yang merupakan kesukaan besar.

Mengapa natal merupakan sukacita besar? Sebab manusia yang sedang terbelenggu oleh dosa akan diselamatkan oleh seorang Juruselamat yang baru lahir, Yesus Kristus, serta memberikan kita hidup yang kekal.

Itulah sebabnya para bala tentara surga bersukacita dengan nyanyian/puji-pujian saat peristiwa natal.

Kita patut bersukacita di hari natal, dengan memuji-muji Tuhan yang berkenan datang ke dunia dan berdiam di antara manusia serta menyelamatkan kita dari dosa.

b. Natal adalah untuk semua orang (ayat 10)

Natal adalah bagi semua orang dari segala bangsa.

Hal ini tampak dari pemberitahuan malaikat kepada para gembala di padang Efrata. Malaikat tersebut mengatakan bahwa kabar yang dibawanya ditujukan bagi segala bangsa.

Jadi natal ditujukan bukan hanya kepada bangsa Israel saja sebagai umat pilihan Tuhan, tetapi kepada semua bangsa di bumi.

Kita dapat mengundang setiap orang untuk menerima kasih natal tersebut. Siapa saja yang mau percaya dan menerima bayi natal, dapat turut merayakan natal.

c. Natal Adalah Kesederhanaan (ayat 11-12)

Natal adalah kesederhanaan.

Anak Allah yang kudus lahir bukan di ibu kota Israel, Yerusalem, atau di ibu kota kekaisaran Romawi, Roma, namun di kota kecil Betlehem.

Dia juga tidak lahir di istana yang mewah, namun di dalam kandang hewan dan dibaringkan di dalam sebuah palungan, atau tempat makan ternak.

KelahiranNya juga tidak diberitakan kepada para raja, bangsawan dan orang kaya, melainkan kepada para gembala yang sederhana.

Kita patut merayakan natal secara sederhana, bukan dengan kemewahan, sebab peristiwa natal yang pertama pun sangat sederhana.

9. Respons yang benar saat melihat Yesus (Lukas 2:25-35)

Ketika Yesus dibawa ke Bait Suci oleh orang tuaNya pada masa pentahiran (40 hari setelah kelahiran), ada dua orang yang menyambutNya dan bernubuat tentang Nya di hadapan orang banyak.

Mereka adalah Simeon dan Hana, yang dua-duanya telah berusia lanjut.

Simeon adalah seorang Israel yang saleh dan menanti-nantikan Mesias. Kepadanya Roh Kudus telah mengatakan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Juruselamat.

Jadi ketika bayi Yesus dibawa ke Bait Suci ia menatang bayi Yesus lalu berbicara dalam bentuk nubuatan.

Dari kisah Simeon yang menyambut bayi Yesus di Bait Allah serta dari kata-kata yang diucapkannya, kita dapat belajar dua hal tentang apa yang dilakukan Simeon.

a. Memuji Allah (ayat 28)

Setelah Simeon datang ke Bait Allah dan bertemu dengan bayi Yesus, maka ia menatang Nya sambil memuji Allah.

Alkitab tidak mencatat apa pujian yang dikatakan oleh Simeon.

Tetapi yang jelas Simeon pasti bersyukur kepada Allah karena dia telah benar-benar bertemu dengan Sang Juruselamat yang dijanjikan oleh Roh Kudus untuk dilihatnya.

Kita patut bersyukur dan memuji-muji Allah yang telah memberi kita kesempatan untuk "melihat" Yesus.

Kita bersyukur dapat mengenal Nya dan percaya kepadaNya, sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita.

Setiap kali kita "melihat" Yesus dalam perayaan Natal, sudah seharusnya membuat kita memuji-muji Allah.

b. Merasa puas dan sudah siap meninggalkan dunia ini (ayat 29-32)

Sementara Simeon menatang bayi Yesus, Simeon juga berkata kepada Allah agar Ia membiarkannya pergi, sebab ia telah melihat Sang Juruselamat.

Yang dimaksud Simeon dengan "pergi" tentu bukan pergi dari Bait Allah, tempat di mana ia sedang berdiri menatang bayi Yesus, tetapi pergi dari dunia ini.

Hal ini berarti bahwa Simeon telah merasa puas karena ia telah melihat bayi Yesus.

Dia merasa bahwa kerinduannya selama ini untuk melihat Yesus telah terpuaskan dan janji Roh Kudus kepadanya untuk bertemu Yesus telah tergenapi.

Karena itu, terlebih di usianya yang telah uzur, Simeon telah siap mati.

Orang yang telah "melihat" dan "bertemu" Yesus dalam hidupnya, seharusnya sudah terpuaskan melebihi kepuasan apa pun yang ada di dunia ini.

Sebab di dalam Yesus kita telah memiliki segalanya. Terutama, kita telah memiliki kehidupan kekal di surga.

Karena itu orang percaya sudah seharusnya tidak takut lagi untuk meninggalkan dunia yang fana ini, sebab ia akan mengalami kehidupan kekal bersama Kristus di surga.

10. Belajar dari orang-orang Majus (Matius 2:1-12) 

Kisah tentang orang-orang majus memang tidak terlalu banyak dibahas di Alkitab, hanya dicatat di dalam Injil Matius, yakni dalam Matius 2:1-12..

Namun kisah singkat tersebut memberi makna yang sangat berharga bagi umat kristiani, khususnya di saat mengenang kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruselamat.

Ada banyak hal menarik yang bisa kita ketahui dan pelajari dari kisah tentang orang-orang majus yang dicatat di Alkitab.

Dari kisah orang-orang majus yang datang kepada Yesus, setidaknya kita dapat belajar 4 hal.

a. Ketaatan kepada tuntunan ilahi (ayat 1, 2, 9, 12)

Dalam tradisi orang majus dari Timur, ketika sebuah bintang besar muncul maka akan ada seorang raja yang lahir. 

Kendati demikian, bintang itu jelas bukan bintang biasa, ada campur tangan ilahi di situ.

Mengapa melalui bintang? Karena orang- orang majus ini sangat mungkin adalah para ahli perbintangan/astronom.

Jadi Tuhan memakai keahlian/profesi mereka sebagai sarana untuk mengkomunikasikan dirinya kepada mereka, sehingga mereka lebih mudah memahaminya. 

Bintang itu menuntun mereka hingga tiba di Yerusalem, lalu di Betlehem, tepat di rumah di mana bayi Yesus berada.

Para majus ini bisa tiba di Betlehem tentu karena mereka taat pada tuntunan ilahi. Jika tidak, mereka tidak mungkin bisa tiba di Betlehem.

Ketaatan orang majus juga dapat dilihat tatkala mereka langsung pulang ke negerinya seperti perintah Tuhan, dan tidak menghiraukan perkataan Herodes untuk kembali kepadanya di Yerusalem.

Hal ini tentu sangat berisiko, sebab bisa saja Herodes marah kepada mereka dan membunuh mereka.

Namun para majus ini dengan tetap hati lebih memilih menaati Tuhan ketimbang mendengar siasat busuk Herodes yang ingin membunuh bayi Yesus.

Kita harus memilih lebih taat kepada Tuhan ketimbang kepada manusia.

b. Kerinduan besar untuk bertemu Yesus (ayat 10)

Setelah para majus tahu bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, maka mereka pun berangkat dari Yerusalem ke sana.

Dan bintang yang menuntun mereka dari negeri mereka ke Yerusalem muncul lagi dan berhenti tepat di atas rumah di mana Yesus berada.

Ketika mereka melihat bintang itu maka para majus tersebut pun sangat bersukacita.

Orang-orang majus bersukacita karena mereka sudah sampai pada tujuan mereka. Keinginan orang-orang majus untuk menemui Yesus segera akan terkabulkan. Mereka akan bertemu dengan Raja di atas segala raja!

Apalagi mereka melakukan perjalanan panjang dari negeri mereka di Persia ke Betlehem, Israel, tidaklah mudah.

Perjalanan yang mereka tempuh adalah perjalanan yang berat. Mereka harus menempuh jarak ribuan kilometer, melewati padang gurun yang tandus, serta bahaya perampokan di jalan.

Tetapi kini segala jerih lelah mereka untuk bertemu Mesias terbayarkan lunas. Itulah sebabnya ketika mereka berhasil tiba di rumah tempat Yesus tinggal, mereka sangat bersukacita.

Hati mereka dikuasai oleh sukacita dan damai sejahtera karena kelahiranNya.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya kerinduan mereka untuk bertemu Yesus, sehingga mereka sangat bersukacita ketika kerinduan tersebut sudah tercapai. 

Kerinduan kita kepada Sang Juruselamat sudah seharusnya melebihi kerinduan kita akan apa pun di dunia ini.

c. Penyembahan kepada Yesus (ayat 11a)

Setelah orang-orang majus tiba di rumah tempat Yesus tinggal, mereka masuk ke dalam dan berjumpa dengan bayi Yesus serta Maria, ibuNya. Lalu mereka sujud menyembahNya.

Penyembahan ini sangat mungkin punya makna religius, bukan penyembahan biasa. Jadi para majus pasti menganggap Yesus lebih dari raja biasa, ia adalah Tuhan.

Keyakinan orang-orang majus bahwa orang yang mereka sembah adalah Pribadi yang maha kuasa mungkin muncul setelah mereka melihat bintang Nya, yang sanggup menuntun mereka dari negeri mereka sampai di tempat sang Raja.

Mereka pasti berpikir bahwa itu bukan bintang biasa, itu adalah bentuk penyataan ilahi.

Orang-orang majus ini adalah orang-orang bijaksana, orang-orang terpelajar, dan juga ahli perbintangan, seperti yang banyak dijumpai di negeri Timur.

Singkatnya, orang-orang yang cerdas secara intelektual.

Pada masa itu, orang-orang majus mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Mereka biasa bertindak sebagai konselor bagi para raja.

Namun hal ini tidak membuat mereka merasa gengsi dan sungkan untuk menyembah Yesus sang Juruselamat, sekalipun Dia masih bayi.

Sebab mereka sadar bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang layak disembah.

Hanya Yesus yang layak menerima penyembahan kita. Hendaklah kita senantiasa hidup dalam penyembahan kepadaNya.

d. Pengorbanan secara materi (ayat 11b)

Selain menyembah Yesus, orang-orang majus juga memberikan persembahan- persembahan kepadaNya, yakni emas, kemenyan, dan mur.

Pada masa itu, emas, kemenyan, dan mur merupakan benda-benda yang langka dan mahal.

Emas adalah lambang kekayaan. Memiliki emas berarti ia orang kaya. Emas biasa dipakai sebagai persembahan bagi raja-raja pada masa itu.

Kemenyan juga dianggap berharga seperti emas. Kemenyan sering digunakan dalam upacara keagamaan.

Sementara mur, pada zaman dahulu digunakan sebagai bahan untuk parfum dan pedupaan. Sangat besar nilainya, bahkan sering kali lebih mahal daripada emas.

Hal ini berarti bahwa para majus ini mempersembahkan yang terbaik bagi Yesus, sang Raja yang mereka akui dan sembah.

Inilah bentuk penyembahan terdalam mereka kepada Yesus.

Mereka tidak menyembah Yesus dengan tangan hampa. Mereka merasa tidak cukup hanya memberi penyembahan kepadaNya, tetapi juga persembahan.

Seberapa banyak pun harta dan kekayaan kita, tidak akan mampu menggantikan karya keselamatan yang dikerjakan Tuhan Yesus bagi kita.

Muliakanlah Tuhan Yesus dengan segala yang kita miliki.

Itulah renungan dan khotbah natal terbaik yang bisa dibagikan kepada teman-teman dan saudara. (OL-1)

Baca Juga

dok.Ist

IHLC Gelar Bussiness Meeting Indonesia-Uzbekistan

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 09:45 WIB
INDONESIA dan Uzbekistan mengadakan pertemuan bisnis bertema "Tourism and Creative Economy Bussiness Meeting & Cultural...
MI/Ramdani

Mengabadikan Karya dari Hulu ke Hilir

👤Ihfa Firdausya 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 09:45 WIB
buku itu merupakan hasil kurasi artikel-artikel di halaman jurnal kopi yang terbit setiap Minggu di Media...
MI/R Muhammad Zen

Bisnis Berkembang berkat Digitalisasi

👤Ihfa Firdausya 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 09:30 WIB
“Selanjutnya digitalisasi dilakukan untuk proses branding dan marketing untuk menunjukkan ada toko kopi kecil di Cipete dengan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya