Selasa 26 Oktober 2021, 06:00 WIB

Mengembangkan Wastra Papua dengan Teknik Guta Tamarin

Dr Nuning Yanti Damayanti Staf Pengajar, Prodi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB | Humaniora
Mengembangkan Wastra Papua dengan Teknik Guta Tamarin

Dok. Pribadi
Menggambar Objek

 

PADA April lalu, tim dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB), melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Buti, Samkai, Merauke, Papua. Buti adalah sebuah kampung di Kelurahan Samkai, Kabupaten Merauke. Merauke merupakan kabupaten terluas sekaligus paling timur di Indonesia, sangat dekat dengan perbatasan Papua Nugini. Jarak dari Jayapura ditempuh kira-kira selama 2 jam dengan pesawat atau sekitar 10 jam dengan kendaraan. Wilayah ini berkembang cukup baik dan sedang melakukan pembangunan dengan adanya rencana pemekaran menjadi kota madya.

Sungai-sungai besar merupakan potensi sumber air tawar untuk pengairan dan digunakan sebagai prasarana angkutan antarkecamatan dan desa. Lingkungan geografis dengan dataran subur yang luas menjadi modal bagi mata pencaharian masyarakat untuk bertani. Tidak mengherankan jika wilayah ini merupakan penghasil padi terbesar di Papua. Selain bertani, sebagian penduduk juga bekerja sebagai nelayan. Mereka menjual hasil potensi laut karena dekat dengan pantai yang potensial juga sebagai kawasan wisata. Sayangnya, hal itu belum dikelola maksimal. Selain potensi wisata alam dan pantai, ada wisata lain yang atraktif, yakni kawasan perbatasan dengan negara Papua Nugini. Di wilayah itu ada kondisi yang unik, yakni bagaimana masyarakatnya berinteraksi barter barang dan benda-benda cendera mata dengan penduduk Papua Nugini.

Penduduk di wilayah ini terdiri atas campuran beberapa suku yang cukup beragam karakter dan kebiasaannya. Suku asli yang terbesar populasinya ialah Marind-anim. Selain itu, ada suku Dani, Asmat, Korowai, Huli, dan Muyu. Selain susu-suku asli ini, ada pula para pendatang transmigran dari beberapa wilayah Indonesia bagian barat. Hal tersebut menjadikan penduduk asli Merauke terlihat berbaur dan toleran. Kebanyakan penduduk transmigran bermata pencaharian di bidang kuliner. Ada pula sebagian lainnya yang bertani.

Potensi produk buatan masyarakat Merauke antara lain anyaman lidi berupa alat-alat rumah tangga produk suku Dani dan patung kayu produk suku Asmat yang sangat terkenal ke mancanegara. Budi daya bunga anggrek juga menjadi unggulan utama karena potensi bunga langka dan liar di wilayah ini sangat beragam. Potensi lainnya ialah tradisi merajah dan melukis tubuh yang masih dilakukan di Papua sehingga banyak yang memiliki kemampuan menggambar dengan sangat baik.

Atas dasar pengamatan ini, tim staf pengajar dari Program Studi Seni Rupa ITB tertarik mencari kemungkinan memanfaatkan kemampuan menggambar suku Papua yang potensial ini untuk diterapkan dalam produksi wastra (tekstil/kain) melalui pembelajaran teknik guta tamarin, yakni teknik baru mewarnai kain yang mirip dengan pembuatan motif batik colet (cap/tulis). Teknik inovatif ini sangat mudah dan ekonomis serta ramah lingkungan. Selain itu, belum ada produk kerajinan wastra di Papua. Potensi lainnya ialah motif khas Papua yang diterapkan pada batik tulis/cap/colet. Motif ini sangat diminati oleh turis lokal maupun internasional, tapi sayangnya hanya diproduksi di Jawa.

Kegiatan yang yang dilakukan tim FSRD ini mendapat pendanaan melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat ITB. Tujuannya melaksanakan program pembelajaran membatik teknik wastra guta tamarin yang diikuti puluhan siswa SMP, SMA, remaja putus sekolah, dan ibu rumah tangga yang memiliki kemampuan merajut dan menganyam. Suku-suku di Papua rata-rata memiliki kecakapan dalam seni dan kerajinan. Produk budaya seni dan desainnya berupa patung, senjata, alat musik, dan lainnya yang sudah dikenal luas bahkan ke mancanegara. Dengan begitu, tidak sulit bagi tim ITB untuk mengenalkan dan memotivasi pembuatan wastra guta tamarin ini. Program ini adalah upaya mengangkat kemampuan penduduk Papua untuk mengembangkan wastra khas setempat melalui teknik guta tamarin. Teknik ini memungkinkan untuk dipelajari, diproduksi, sehingga berpeluang memulihkan ekonomi masyarakat di masa pandemi.

 

Tahap kegiatan

Kegiatan ini dipimpin Dr Nuning Y Damayanti mewakili ketua tim yang berhalangan hadir. Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, setiap hari dimulai pada pukul 08.00 hingga 16.00 WIT. Pada hari pertama tim menjelaskan teknik wastra guta tamarin, pengenalan bahan-bahan dasar, dan cara membuat guta tamarin. Caranya dengan mencampur tepung yang dibuat dari biji asam jawa (tamarin) dengan air hangat, minyak nabati/mentega, dan asam cuka dengan takaran tertentu, kemudian diaduk sampai menjadi menjadi gel/pasta. Guta tamarin adalah pengganti lilin panas sehingga teknik ini sering kali juga disebut teknik batik lilin dingin. Guta tamarin berupa gel harus didiamkan minimal 4 jam.

Tahap kedua ialah memberi tugas kepada peserta untuk memilih objek dan menggambar pada kertas, terutama memilih objek-objek sangat khas di Merauke atau Papua. Motif yang digambarkan seperti burung cenderawasih, kasuari, alat musik tifa, bunga anggrek, alat tangkap ikan lokal, atau alam Papua.

Pada tahap ketiga, para peserta diminta membentangkan kain dan menguncinya dengan hekter pada frame kayu yang sudah disiapkan berukuran 40 x 60 cm untuk selendang dan 100 x 200 cm untuk kain sinjang. Selanjutnya memindahkan objek gambar ke permukaan kain. Setelah gambar selesai dibuat, tahap selanjutnya ialah mengalirkan gel guta tamarin pada permukaan kain sesuai dengan gambar yang dibuat. Tahap ini adalah tahap yang tersulit karena peserta belum terbiasa mengalirkan gel pada garis objek gambar. Mungkin karena pada dasarnya mereka sudah terlatih membuat produk kria, kebanyakan peserta dengan mudah menguasainya. Setelah selesai menerapkan guta tamarin, penjemuran harus dilakukan sampai guta merekat dengan baik dan mengering sehingga meyerupai garis-gari seperti lilin kering pada batik tulis.

Pada hari kedua dilanjutkan ke tahap pewarnaan. Peserta diajari cara mengencerkan bibit warna, menggunakan kuas, dan beberapa teknik membuat tekstur dengan garam dan busa untuk mewarnai bidang yang besar. Proses pewarnaan adalah proses yang sangat menyenangkan karena ada unsur surprise. Ketika sudah mengering dan dipanaskan dengan menyetrikanya, warna menjadi sangat kuat dan cerah. Setelah disetrika lalu diplorod dengan cara mencuci tanpa detergen agar guta tamarin dibilas dan menjadi bersih. Selanjutnya dikeringkan dan bisa langsung kering dengan cara dijemur. Setelah kering, harus disetrika kembali dan pekerjaan selesai.

Sayangnya, di hari ketiga atau hari terakhir kegiatan, ada kendala karena tiba-tiba hujan lebat sehingga ada sebagian karya yang belum kering dan terpaksa harus dikeringkan tanpa matahari. Meskipun ada kendala hujan, melihat dan menilai hasil program pelatihan tahap pertama ini sungguh di luar dugaan. Peserta membuat karya-karya yang unik dan tidak ada yang gagal. Pelatihan dan pembelajaran teknik wastra guta tamarin bisa dengan cepat bisa dipelajari dan dipraktikkan langsung oleh semua peserta.

Melihat antusiasme yang tinggi dari peserta, Tim FSRD merasa optimistis apabila program ini berkelanjutan dan peserta dibekali bahan dasar untuk terus berkarya, mereka bisa mengembangkannya secara mandiri. Hal itu sangat memungkinkan karena teknik ini sangat mudah dipelajari dan sangat efisien serta ekonomis. Efisiensi waktu didapat karena pengerjaannya lebih cepat selesai daripada pembuatan batik tradisional. (M-4)

 

 

Tentang Penulis

Dr Nuning Yanti Damayanti

- Staf Pengajar, Prodi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

- Sekretaris Jurusan Seni Murni (1997-1999), implementator Program Magister Seni (1999-2002), anggota SPI ITB 2007-2010, Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD (2010-2012), Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FSRD ( 2012-2016), anggota dan Sekertaris SPI ITB (2016-2020)

- S-1 Seni Rupa, FSRD ITB (1989)

- S-2 Seni Rupa, HBK Braunschweig, Jerman (1996)

- S- 3 Ilmu Seni, FSRD ITB (2007)

Baca Juga

ANTARA/Foto: Humas UP

Matching Fund 2021, Universitas Pancasila Beri Pelatihan Dua Hari

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Desember 2021, 03:09 WIB
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa bagaimana membuat laporan keuangan dengan sederhana bagi...
DOK MI

Edukasi Literasi Gizi Di Daerah Harus Libatkan Tokoh Masyakarat

👤Widhoroso 🕔Selasa 30 November 2021, 23:50 WIB
Edukasi dan sosialisasi literasi gizi di daerah membutuhkan keterlibatan tokoh...
Dok. Pribadi

KONI-UT Kolaborasi Beri Pendidikan Tinggi bagi Atlet Berprestasi 

👤Mediaindoensia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 23:39 WIB
Ojat Darojat, mengatakan kampusnya telah ditunjuk sebagai Ketua Konsorsium Pembelajaran dalam Jaringan Nasional dan menyediakan 100...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya