Selasa 13 April 2021, 12:01 WIB

Senyawa Bioaktif Hasil Ekstraksi Hijau untuk Kesehatan&Pengobatan

Faustinus Nua | Humaniora
Senyawa Bioaktif Hasil Ekstraksi Hijau untuk Kesehatan&Pengobatan

MI/Bagus Suryo
Ilustrasi: Plasma Nutfah Indonesia untuk pengobatan penyakit

 

GURU Besar Universitas Indonesia Prof. Kamarza Mulia yang baru dikukuhkan pada Sabtu (10/4), mengungkapkan, Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati dengan jumlah tumbuhan obat asli tertinggi kedua, setelah hutan hujan Amazon. Sebagian tanaman herbal Indonesia mengandung berbagai senyawa bioaktif yang baik bagi kesehatan maupun untuk pengobatan.

"Jamu adalah salah satu bukti kearifan lokal bangsa Indonesia yang diformulasikan dari berbagai tanaman herbal yang mengandung senyawa bioaktif seperti kurkumin pada kunyit dan 6-gingerol," ungkapnya dalam keterangan resmi UI, Selasa (13/4).

Untuk mengoptimalkan kekayaan tersebut, tentu saja ada tantangan. Ekstraksi senyawa bioaktif dari sumber daya alam biasanya melibatkan penggunaan pelarut organik dalam jumlah besar. Sebagian besar pelarut organik ini memiliki toksisitas dan volatilitas relatif tinggi sehingga menghasilkan limbah yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Lantas, dalam pidato yang berjudul 'Enkapsulasi dan Pelepasan Terkendali Senyawa Bioaktif Hasil Ekstraksi Hijau untuk Kesehatan dan Pengobatan', Kamarza menyampaikan gagasan dan hasil karya ilmiah. Hal itu berhubungan dengan aneka senyawa bioaktif yang melimpah, deep eutectic solvent (DES) sebagai pelarut hijau, sistem pelepasan terkendali senyawa bioaktif dan obat hasil enkapsulasi atau penyatuan menggunakan polimer yang terdegradasi secara hayati (biodegradable).

Lebih lanjut, dosen Fakultas Teknik UI itu mengatakan pencarian pelarut hijau sebagai pengganti pelarut organik berbahaya mengarah pada penggunaan DES. DES terdiri atas hydrogen-bonding acceptor (HBA) dan hydrogenbonding donor (HBD) yang keduanya membentuk ikatan hydrogen.

Baca juga:  IPB Ungkap Tanaman Lokal Bisa Jadi Obat Asam Urat

DES dapat dibentuk antara garam amonium kuaterner seperti kolin klorida atau betain sebagai HBA dengan amida, asam karboksilat, atau alkohol sebagai HBD.

"DES yang stabil sebagai cairan pada suhu kamar, memiliki karakteristik tidak beracun dan ramah lingkungan, berpotensi berguna sebagai pelarut untuk ekstraksi senyawa bioaktif dari tumbuhan," jelasnya.

Penyalutan atau enkapsulasi akan melindungi senyawa bioaktif maupun organ tubuh manusia, memperbaiki sifat organoleptik serta meningkatkan bioavailability senyawa bioaktif.

"Manfaat penting lainnya dari enkapsulasi senyawa bioaktif atau obat adalah diperolehnya sistem penghantaran (drug/bioactive delivery system) untuk meningkatkan kesehatan dan efikasi pengobatan," pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

Ist

Arsitek Muda Didorong Ciptakan Desain Masjid Dengan Teknologi Terbaru

👤Widhoroso 🕔Sabtu 19 Juni 2021, 00:27 WIB
KEUNIKAN arsitektur masjid di Indonesia tidak telepas dari filosofi yang melatarbelakangi bangunan yang mewadahi kegiatan umat beribadah...
Antara/Rony Muhamrman

Patuh Protokol Kesehatan Jadi Kunci Tekan Laju Penularan Covid-19

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 18 Juni 2021, 23:16 WIB
Demi menekan laju peningkatan Covid-19, pemerintah juga kembali meningkatkan operasi yustisi untuk mengawasi penegakan protokol...
Dok. Metro TV

Lonjakan Covid-19 Diprediksi Hingga Juli, Masyarakat Jangan Lengah Prokes

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 18 Juni 2021, 22:58 WIB
"Pascaliburan Idul Fitri banyak orang yang masih nyolong-nyolong mudik. Kalau banyak orang bergerak, banyak mobilitas, tetap...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pungli Tetap Marak Pak Satgas!

Pungli di berbagai layanan publik terus menjadi masalah yang dialami masyarakat, bahkan di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya