Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKNOLOGI kecerdasan buatan (artificial inteligence) kini mampu menggantikan peran manusia di beberapa sektor pekerjaan. Perkembangan tersebut mendorong terciptanya babak baru, yaitu economic singularity.
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin berkembang berdampingan dengan kecerdasan manusia. Ini merupakan salah satu tantangan sekaligus peluang dalam revolusi industri generasi keempat atau industri 4.0.
Prof Dr Djisman Simandjuntak Rektor Universitas Prasetiya Mulya mengatakan kecerdasan buatan mungkin akan mengurangi lapangan pekerjaan atau membuat banyak pekerjaan menjadi tidak lagi diperlukan. Kebanyakan lebih kepada pekerjaan standar dan berulang. Hal tersebut akan memberikan waktu dan kesempatan yang lebih banyak untuk mengejar karier yang lebih kreatif dan menyenangkan.
"Sejatinya kita tidak perlu takut akan kehilangan pekerjaan.Saya optimistis kita mampu dapat menghadapi era digital yang kompleks ini, "kata Djisman Simanjuntak seusai mewisuda dan melepas 925 lulusan mahasiswa Prasetiya Mulya, di gedung Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (11/12).
Menurut Djisman, institusi pendidikan sebagai lini terdepan dalam peningkatan kulitas generasi penerus harus mampu beradaptasi dengan cepat. Utamanya, menyesuaikan dengan keterampilan yang wajib dimiliki di masa depan.
Pendidikan di universitas harus membuka diri pada era baru dan memimpin, atau paling tidak mengikuti perubahan yang ada. Misi dari pendidikan tinggi tidak hanya untuk melatih dan mengembangkan bakat-bakat untuk masa kini juga mempersiapkan mereka untuk masa depan.
Dikatakan Djisman, Prasetiya Mulya mengajak para lulusannya untuk bersama mendukung Indonesia memanfaatkan economic singularity. Di antaranya mengedepankan kolaborasi antara sains, teknologi, dan kewirausahaan dan mendorong munculnya industri start up baru yang berbasis sains dan teknologi.
Tahun ini Prasetiya Mulya juga menginisiasi program studi baru, yaitu program MM New Ventures Innovation (NVI). Program ini merupakan fondasi untuk membentuk pola pikir terstruktur yang dibutuhkan, khususnya untuk mengambil keputusan strategis yang cepat dan inovatif dalam bisnis startup, sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.
Selain itu, tahun ini Prasetiya Mulya juga menginisiasi hadirnya Collaborative STEM Laboratories untuk mendorong terciptanya iklim kolaborasi antara sains, teknologi, dan kewirausahaan.
Ben Shenglin,, Guru Besar Zhejiang University, yang menjadi pembicara utama pada acara wisuda tersebut menjelaskan bahwa 'singularity' telah diperluas dari matematika ke ranah kecerdasan visual melalui buku oleh Raymond Kurzweii yang berjudul The Singularity Is Near.
Buku tersebut merujuk pada momen penting ketika kecerdasan buatan melampaui kemanusiaan dan memicu perubahan drastis dalam lingkungan sosial. Menurut Shenglin, dampak transformatif dari kecerdasan buatan pada aktivitas ekonomi sudah tidak terbantahkan, begitu juga pada pasar tenaga kerja.
"Akan tetapi sebagai teknologi yang masih baru, adaptasi dari kecerdasan buatan dalam bidang ekonomi dan finansial masih pada tahap awal dan akan memiliki dampak positif pada aktivitas ekonomi, lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan manusia, bila ada tuntunan dari peraturan yang positif dan efektif,” papar Ben Shenglin. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved