Minggu 22 Maret 2015, 00:00 WIB

Ritual Nyepi Seimbangkan Jiwa dan Alam

OL/PO/X-10 | Humaniora
Ritual Nyepi Seimbangkan Jiwa dan Alam

ANTARA/Panji Anggoro
Pecalang berpatroli di Tol Bali Mandara saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1937 di Desa Adat Tuban, Badung, Bali, kemarin.

 

SEBAGAI destinasi wisata dunia, kehidupan di Pulau Bali berlangsung selama 24 jam, terutama di kawasan favorit wisatawan. Namun kemarin, sejak pagi hingga malam, tidak lagi terlihat keriuhan. Pulau Dewata dalam keadaan sunyi senyap dan gelap di malam hari karena umat Hindu melaksanakan catur brata penyepian.

"Sangat diharapkan, dengan tidak menyalakan lampu tersebut, akan semakin menambah kekhusyukan umat Hindu untuk berdoa, menyepi, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan dunia," ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Dr I Gusti Ngurah Sudiana di Denpasar, kemarin.

Bagi umat Hindu, ritual Nyepi yang menandai Tahun Baru Saka 1937 itu memiliki empat keutamaan yang harus dilakukan, yakni amati karya (tidak bekerja), amati geni (tidak menyalakan api), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Masyarakat Bali sejak pagi hari telah mengurung diri di dalam rumah masing-masing. Pada malam hari, hanya tampak terang bintang diselimuti suara jangkrik. Di tengah kegelapan malam itu, hanya terlihat petugas keamanan desa adat (pecalang) dan tokoh masyarakat di setiap desa adat (pakraman) memantau wilayah masing-masing.

Tidak hanya aktivitas warga yang berhenti, kegiatan bisnis dan perkantoran diminta menghormati perayaan Nyepi. Selain itu, beberapa pusat aktivitas yang menghasilkan polusi juga dihentikan sama sekali, seperti pelabuhan, bandara, dan jalan tol.

Dengan tidak adanya aktivitas transportasi dan industri, lingkungan udara di Pulau Bali pun bebas polusi. Selain bebas polusi, esensi amati geni dengan memadamkan lampu juga mencerminkan hemat energi yang pada akhirnya juga akan menyeimbangkan lingkungan.

Tokoh spiritual Bali, Ida Bagus Wiana, menjelaskan Nyepi sebenarnya tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga berdampak pada lingkungan alam semesta.

"Di Bali sebenarnya agama dan spiritual dengan praktik hidup berjalan berdampingan. Nyepi itu juga membawa dampak besar bagi alam dan juga bagi diri sendiri atau orang yang merayakannya," ujarnya, kemarin.

Selain di Bali, rangkaian perayaan Nyepi juga dilakukan warga umat Hindu di Kabupaten Ende, NTT. Mereka juga menggelar kirab ogoh-ogoh sebelum Nyepi.

Baca Juga

dok.Biro Pers Setpres

Omicron Masuk Singapura, Jokowi Ingatkan Antisipasi

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Jumat 03 Desember 2021, 13:55 WIB
PRESIDEN mengingatkan kewaspadaan terhadap ancaman varian Omicron yang sudah menyebar ke banyak negara termasuk tetangga...
Istimewa

Jelang Siaran Analog ke Digital, Kominfo Dorong Konten Positif Banjiri Ruang Digital

👤Faustinus Nua 🕔Jumat 03 Desember 2021, 13:55 WIB
PERALIHAN siaran analog ke digital pada tahun depan disertai harapan akan lebih banyak konten positif yang akan membanjiri ruang...
dok.tangakapn layar

PBI-UHAMKA Galang Kampanyekan Pengobatan Islam

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Desember 2021, 13:47 WIB
PENGOBATAN thibbunabawi tumbuh seiring dengan kesadaran umat Islam akan pentingnya...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya