Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
GELIAT film, termasuk dokumenter, semakin terasa di Tanah Air. Semakin banyak anak muda yang gemar hingga terjun menyeriusi dunia film. Namun, budaya riset sebagai salah satu fondasi pembuatan sebuah karya masih menjadi hal yang kerap diabaikan.
"Budaya riset di Indonesia masih menjadi hal yang lemah," ujar Guru Besar perfilman Institut Kesenian Jakarta, Gerzon Ayawaila, dalam diskusi dan bedah buku berjudul Dokumenter, yang ditulisnya bersama 10 pegiat film lainnya, di Universitas Budi Luhur, Tangerang, Jumat (22/12).
Gerzon mengatakan, dalam sebuah pembuatan karya, khususnya film dokumenter, riset merupakan bagian utama yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap bagian dalam film dokumenter harus sesuai dengan apa yang ada di kenyataan.
"Dokumenter punya kebebasan yang lebih sedikit dibandingkan fiksi. Dokumenter banyak membutuhkan kajian-kajian baru dan juga lebih banyak menimbulkan tantangan," ujar Gerzon.
Wakil Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Budi Luhur, Wenny Maya, mengatakan dibutuhkan upaya dan pembiasaan bagi setiap sineas muda agar terbiasa melakukan riset. Caranya dengan membuat riset sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi para anak muda tersebut.
"Jadi harus ada cara dan tim khusus dalam membimbing yang dapat membuat sineas muda dapat melakukan riset dengan menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan," ujar Wenny.
Sementara itu, tim Eagle Institute, Eko Redjoso mengatakan, dalam membuat film, dibutuhkan manajemen yang baik. Khususnya dalam pembagian waktu dan fokus kegiatan yang akan dilakukan.
"Membuat film dokumenter kerap butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikannya. Pelajarannya ternyata adalah sineas harus bisa melakukan pengelolaan riset," ujar Eko.
Manajemen riset menjadi sangat penting sebagai landasan data, materi, hingga dasar untuk menentukan langkah selanjutnya dalam pembuatan film dokumenter. Dengan kemampuan itu, pembuatan film dokumenter akan dapat berhasil dengan efektif dan maksimal.
"Eagle mencoba untuk membuka wawasan bagi pemula pembuat dokumenter. Kami mencoba menampung keinginan anak-anak muda untuk belajar dokumenter. Kami ajak mereka untuk banyak berdiskusi," tutup Eko. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved