Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kado Kedua untuk Bumi dari Pawang Rinjani

10/12/2017 12:30
Kado Kedua untuk Bumi dari Pawang Rinjani
(MI/YUSUF RIAMAN)

PAWANG Rinjani Lombok kembali menggelar gerakan penghijauan. Setelah sukses menanam dan menyebar 40 ribu flamboyan, organisasi pegiat alam Lombok itu kembali memberikan kado kedua untuk bumi.

Adalah Gawe Gawah 2017 yang merupakan kelanjutan dari program Daulat Pohon Pawang Rinjani. Melalui program tersebut, organisasi yang fokus menggarap konservasi ini siap merilis dua juta pohon, yakni pohon sengon, gatep, flamboyan, dan beragam jenis pohon endemis khas pulau Lombok.

Gawe gawah, dalam bahasa Sasak bermakna syukuran untuk hutan ini, dihajatkan semata untuk merawat dan melestarikan lingkungan, terutama di kawasan Lombok Utara yang seluruh lahannya masuk kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Dua juta pohon akan dibagikan kepada sekitar ribuan warga dan perwakilan kelompok masyarakat di lima kecamatan se-Lombok Utara yang akan dilaksanakan pada 24 Desember 2017, di Green Camp Pawang Rinjani, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Rencananya, sebar tanam dua juta pohon akan dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, anggota DPD NTB, para pegiat, dan pecinta alam NTB.

Program tersebut mendapat sokongan bibit dari BPDAS Dodokan Moyosari NTB, PDAM Lombok Utara, dan Galuh Foundation.

Selain melestarikan lingkungan, Gawe Gawah merupakan gerakan bersama mewujudkan mimpi Pawang Rinjani merancang hutan mini kota di kawasan nonstrategis. "Ruang nonstrategis bagi Pawang Rinjani menjadi bagian utuh dari program Daulat Pohon sebagai aplikasi bersama," kata Apink Alkaff, Humas Pawang Rinjani di Lombok, kemarin.

Ruang nonstrategis dalam pengolahan lingkungan di Lombok dihajatkan untuk memberikan sudut pandang baru dalam satu pergerakan untuk alam.

Pengelolaan tersebut dilakukan melalui lingkungan dari rumah tangga dan lingkungan sekitar.

Dikatakan Apink, sinergi dan strategi diharapkan dapat membangun sistem yang pengelolaannya bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Ruang nonstrategis bisa diartikan Pawang Rinjani sebagai ruang nonarea publik yang terdiri atas hutan lindung, HKM, hutan konservasi, daerah tangkapan air, DAS, area perkebunan masyarakat baik di zona sabuk hijau, lahan kritis maupun lahan lain yang ditumbuhkan kembali dapat memberikan dampak dan manfaat yang lebih luas.

Selain itu, ruang nonstrategis dihajatkan sebagai ruang multimanfaat, yakni sebagai daerah resapan air, kilang oksigen, juga untuk sumber daya alam lain. Selain itu, mempunyai fungsi ekonomis secara luas dan tak berbatas dengan tetap menjaga tegakan tetap tumbuh sebagai sumber penghasilan multikultur.

Menyulap lahan nonstrategis menjadi hutan mini kota terbukti bisa dilihat di base camp Pawang Rinjani. Di sana, lahan seluas 1 hektare disulap menjadi hutan mini dengan aneka ragam pohon endemis Lombok. Gerakan ini juga sudah mendapat sambutan dari sejumlah sekolah tingkat SMA yang siap merancang hutan mini di sekolah.

Sejauh ini, mengubah ruang nonstrategis dan kering menjadi hutan mini telah siap diwujudkan SMA Kayangan dan MA Sunan Kali Jaga Tanjung. "Insya Allah, sekolah-sekolah lain menyusul," kata Apink. (YR/S-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya