Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kembangkan Inovasi yang Layak Jual

05/12/2017 07:40
Kembangkan Inovasi yang Layak Jual
(MI/BAGUS SURYO)

WAKIL Presiden Jusuf Kalla menyatakan perguruan tinggi harus mengembangkan riset dan inovasi implementatif yang bisa dijual.

"Hasil penelitian itu intinya dijual agar punya dampak luas," kata Wapres kepada wartawan seusai meresmikan Jusuf Kalla Innovation and Entrepreneurship Centre di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, kemarin.

Di kampus itu, Wapres mengungkapkan tantangan bangsa di masa depan sangat besar dan kompleks.

Pendapatan per kapita Indonesia, lanjutnya, baru US$3.700-US$3.800, masih kalah dengan negara tetangga, Malaysia yang sudah US$10.000, Thailand US$7.000, Singapura US$40.000, dan Jepang US$30.000-US$40.000.

Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sangat pesat.

Memasuki revolusi industri ke-4 ini, kemajuan dunia usaha memunculkan hal baru yang disebut sharing ekonomi mirip koperasi.

Contohnya ojek daring dan e-commerce. Pelaku usaha melibatkan banyak orang, secara bersama-sama membangun bisnis saling menguntungkan.

Bisnis seperti itu, sambung Wapres, ada dengan inisiator anak-anak muda. Kalangan perguruan tinggi harus memahami hal itu lantas menjawab tantangan masa depan melalui berbagai riset.

Perguruan tinggi harus bisa memprediksi apa yang akan terjadi setidaknya 20 tahun ke depan serta mempelajarinya untuk investasi masa depan.

"Dulu, saat saya jadi pengusaha merasa heran melihat orang berjualan tanpa toko. Namun, sekarang, justru berkembang model bisnis seperti itu, digerakkan oleh anak-anak muda umur 20-30 tahun," ujarnya.

Menurut Wapres, peran perguruan tinggi sangat vital. Pengalaman selama ini menunjukkan keberhasilan orang-orang terkaya di dunia bermula dari lingkungan kampus.

"Agar Indonesia maju pesat, kuncinya menggabungkan dunia pendidikan, dunia usaha, anak muda, dan manajerial yang bagus. Bila itu digabungkan, saya yakin daerah-daerah bisa maju," tuturnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya Mohammad Bisri mengatakan ada hambatan link and match antara perguruan tinggi dan dunia usaha.

Karena itu, pemerintah diminta menghubungkan agar ada keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dan industri.

"Terkait teknologi, Indonesia sudah sangat mampu. Apa sih yang enggak mampu? Kendalanya hanya link and match antara businessman, perguruan tinggi, dan pemerintah. Itu yang masih lemah," tuturnya.

Bisri mengungkapkan Universitas Brawijaya memiliki 200 hak paten. Namun, yang sudah menjadi produk baru 10%-20% paten.

"Selama ini, hambatannya adalah mengurus perizinan terlalu lama, bisa selama dua tahun." (BN/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya