Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Peran Perempuan Mesti Dimaksimalkan

Indriyani Astuti
05/12/2017 10:50
Peran Perempuan Mesti Dimaksimalkan
(ANTARA/ARIF FIRMANSYAH)

POSISI perempuan di tengah keluarga maupun masyarakat harus lebih dikuatkan.

Perempuan dapat menjadi agen perubahan, inisiator diplomasi, serta mediator dalam penyelesaian konflik sosial melalui pendekatan yang berbeda dengan laki-laki.

Namun, peran perempuan masih sering luput dari narasi penyelesaian konflik di masyarakat.

"Perempuan mempunyai peran penting dalam mengubah perilaku kekerasan menjadi budaya perdamaian," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise dalam simposium nasional Peran Ibu dan Ulama Perempuan sebagai Pencipta dan Penggerak Perdamaian di Jakarta, kemarin.

Turut hadir Ibu Negara Afghanistan Rula Gani.

Menurutnya, Indonesia mempunyai pengalaman dalam manajemen konflik sosial.

Karena itu, Indonesia bekerja sama dengan Afghanistan untuk melibatkan peran perempuan dalam menangani konflik.

Rula Gani menyampaikan, perempuan Afghanistan mengalami keletihan dan ketidaknyamanan dalam menghadapi perang.

Kaum perempuan di negerinya, ujar Rula, kesulitan mengakses pendidikan, kesehatan, dan layanan lain.

"Hal itu menghambat mereka dalam aktivitas ekonomi. Suasana kekerasan di lingkungannya juga memicu banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga," tuturnya. Meski begitu, ia percaya perempuan berperan penting dalam keluarga.

Dalam simposium terungkap pula, terdapat sejumlah kendala terkait dengan peran perempuan dalam memberikan pendidikan dasar kepada anak, khususnya pendidikan mengenai sikap toleransi dan perdamaian.

Salah satu kendalanya ialah masih ada budaya di masyarakat yang membuat perempuan tidak maksimal menjalankan peran tersebut.

Radikalisme

Peneliti dari Women Development Center Universitas Syah Kuala Suraiya Kamaruzzaman menuturkan ada budaya lain yang dipraktikkan dalam keluarga, di antaranya, budaya kekerasan, intoleran, serta perlakuan diskriminatif terhadap kaum perempuan sehingga menghambat upaya menumbuhkan nilai-nilai toleransi kepada anak.

Selain itu, ujarnya, tradisi berpengaruh. Suraiya mengungkapkan, di Aceh, tempat kelahirannya, para ibu masih sering menyanyi hikayat Perang Sabi untuk anak mereka.

Pada masa penjajahan, syair hikayat itu digunakan untuk membakar semangat generasi muda dalam berperang.

Di masa sekarang, tuturnya, lirik itu sudah tidak relevan.

"Anda bayangkan, usia di mana anak merekam dan bawah sadarnya sangat kuat, buaian ibunya mengajak dia perang. Syair ini harus diubah karena saat ini kita merawat dan membangun perdamaian," ujarnya.

Menurutnya, peran ibu sangat penting untuk mengajarkan nilai-nilai dasar toleransi dan keberagaman.

Namun, wawasan mereka juga perlu diperluas, tidak sekadar diajari keterampilan yang berkaitan dengan tugas rumah tangga.

Pada kesempatan yang sama, Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan, berdasarkan survei yang dibuat lembaganya, sekitar 0,4% masyarakat Indonesia pernah melakukan tindakan radikal.

Selain itu, 7,7% penduduk Indonesia bersedia melakukan tindakan radikal. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya