Headline

Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.

Puluhan Disabilitas Kursi Roda Tidak Bisa Mudik, Akses Tempat Ibadah Sulit

RO/MIOL
23/6/2017 18:32
Puluhan Disabilitas Kursi Roda Tidak Bisa Mudik, Akses Tempat Ibadah Sulit
(Ist)

PARA peserta Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2017 menyayangkan masih banyak rekan-rekan disabilitas dengan kursi roda yang tidak bisa mudik bertahun-tahun ke kampung halamannya.

"Yang terdata di Jakarta saja 40 penyandang disabilitas dengan kursi roda tidak bisa mudik," kata inisiator MRAD Ilma Sovri Yanti, Jumat (23/6). Kondisi itu salah satunya menimpa Muhammad Subhan yang ingin mudik ke Bangka Belitung.

Artinya, sambung Ilma, banyak disabilitas yang tidak terdata dan berada di kota-kota besar lainnya yang kesulitan atau tidak bisa mudik.

Dia juga merasa bingung dengan banyaknya penyandang disabilitas yang tidak tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi cara mengakses satu gerbong kereta yang katanya dijanjikan Kementerian Perhubungan untuk disabilitas.

"Kapan berangkat, berapa harga dan dimana tiket bisa didapat, jurusan dan di stasiun mana gerbong kereta bisa diakses, tidak jelas informasinya," pungkas Ilma.

Selain masih adanya kesulitan mudik bagi disabelitas, para peserta MRAD 2017 mendapati fasilitas fisik maupun non-fisik yang tidak ramah disabilitas di Rest Area KM 19, Bekasi, Jawa Barat. Hal itu mereka dapati saat mereka beristirahat siang di tengah kemacetan perjalanan dari Wisma Mandiri, MH Thamrin, Jakarta Pusat menuju kampung mereka masing-masing.

Rubini (35), peserta MRAD 2017 yang berencana pulang ke Kebumen Jawa Tengah (23/6) mengatakan situasi fasilitas rest area masih tidak ramah bagi disabilitas, dikarenakan untuk bisa ke toilet harus naik undakan yang tinggi.

"Tangganya tinggi, kondisi WC juga sempit dan tidak ada pegangan buat kami. Jadi harus ada orang lain yang mendampingi untuk mengangkat dan bisa menggunakan toilet dengan nyaman," sesalnya.

Bahkan untuk sampai ke masjid untuk melaksanakan ibadah salat Jumat, di lokasi yang sama, para peserta mudik disabilitas yang laki-laki harus menempuh tanjakan (ramp) yang cukup tinggi, curam. Sedangkan untuk memasuki masjid harus menaiki tangga (trap) sebanyak 20 undakan.

"Tangga sangat curam. Untuk bisa naik, selain sangat tinggi, ruang tangganya kurang luas, terlalu sempit," ungkap Sigit Catur Nugroho (35), salah satu peserta MRAD dengan kursi roda yang juga mudik ke Kebumen.

Padahal, Sigit melanjutkan, tahun lalu dirinya sudah menyampaikan ke petugas jaga di masjid agar tempat berwudu dan desain bangunan masjid mudah diakses teman-teman disabilitas. Sehingga, para penyandang disabilitas tidak harus melibatkan banyak orang untuk mengangkat mereka agar bisa beribadah di dalam masjid rest area KM 19.

Penggagas Jakarta Barriers Free Tourism Trian Gembira ini menambahkan betapa masjid tersebut sulit diakses penyandang disabilitas untuk salat Jumat, karena menggunakan speaker dalam. Buat Trian yang tuna netra, suara speaker susah didengar, bahkan oleh yang pendengarannya tidak lemah.

"Untuk menuju masjid tidak ada guiding block buat tuna netra. Begitupun petunjuk ke arah masjid yang sulit buat kami," ujar Trian.

Watini (32) pemudik MRAD 2017 yang mudik ke Purbalingga sangat berharap pemerintah untuk serius memberi perhatian guna memenuhi hak-hak disabilitas, termasuk ketika mereka mudik.

Ia pun meminta pemerintah segera berbenah menyediakan fasilitas-fasilitas di rest area yang mudah diakses penyandang disabilitas, terutama yang menggunakan kursi roda, misalnya WC khusus disabilitas yang diberikan tanda khusus disabilitas.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya