Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
WILL Smith diterpa kontroversi di tengah upaya comeback rap-nya. Sebuah video promosi di kanal YouTube resminya menampilkan lautan penonton yang bersorak serempak. Warganet menilai adegan itu terasa artifisial: ada glitch, pola gerak yang sinkron dan berulang, serta papan tulisan dengan ejaan janggal, semua memicu dugaan “kerumunan buatan” lewat AI.
Di kolom komentar, nada sinis berdatangan.
“Oke, orang ini jelas punya fetish penghinaan,” tulis satu akun, menyebut video tersebut “aneh” karena memamerkan papan-papan pujian berlebihan. Komentar lain tak kalah tajam:
“Bayangin udah sekaya dan seterkenal itu, tapi masih pakai kerumunan AI dan komentar bot.”
“Tragis, bro. Dulu kamu keren.”
Dugaan ini muncul di momen sensitif bagi Smith, 56. Ia memulai karier pada pertengahan 1980-an bersama DJ Jazzy Jeff & the Fresh Prince, mendorong hip-hop ke arus utama lewat “Parents Just Don’t Understand” dan “Summertime,” yang meraih Grammy.
Di akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Smith melepas hits solo seperti “Gettin’ Jiggy Wit It” dan “Miami,” sebelum absen lebih dari satu dekade dari proyek rap besar.
Kembalinya Smith ke musik terjadi berbarengan dengan upaya memulihkan citra pasca Insiden Oscar 2022, ketika ia menampar komedian Chris Rock di panggung. Ia dihukum larangan hadir di Oscar selama satu dekade dan menuai kritik luas, dampak yang masih terasa meski ia sudah kembali ke layar lewat Bad Boys: Ride or Die.
Kontroversi “kerumunan AI” berpotensi menggerus kesan autentik yang ingin ia bangun, sekaligus memunculkan kesan ragu pada daya tariknya di panggung. Hingga berita ini ditulis, pihak Smith belum memberi tanggapan. Video-video terkait masih dapat diakses di kanal resminya. (Yahoo Entertainment/Z-10)
YouTube resmi merevisi kebijakan monetisasi iklan bagi kreator di seluruh dunia. Melalui aturan terbaru ini, konten yang membahas isu sensitif seperti aborsi, hingga KDRT
Sejak akhir 2025 hingga awal 2026, platform milik Google ini merilis dan menguji berbagai fitur menarik.
YouTube bukan sekadar aplikasi menonton video, tapi platform lengkap untuk hiburan, edukasi, dan kreasi konten.
Akademi Film umumkan YouTube sebagai pemegang hak siar eksklusif Piala Oscar mulai 2029 hingga 2033.
Video-video ini bisa berupa hiburan, edukasi, musik, vlog, tutorial, game, berita, dan banyak jenis lainnya.
Dengan YouTube, pengguna dapat menonton jutaan video dari berbagai kategori hingga mengunggah video sendiri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved