ZAMAN sekarang, siapa yang tidak kenal ponsel pintar? Berbagai macam aktivitas bisa dilakukan hanya dengan sebuah ponsel, seperti jual beli di toko daring, atau e-commerce.
Seperti Varsha Deervaul, 32, baginya berbelanja bukan lagi hal yang sulit dan memakan waktu, sebab hanya dengan ponsel pintarnya, dia tidak perlu lagi mengorbankan perjalanan akhir pekannya hanya untuk membeli baju yang diinginkan.
"Jika saya ingin beli pakaian, biasanya saya harus mengunjungi beberapa toko sebelum memutuskan mana yang dibeli, itu sungguh makan waktu. Kini saya bisa dengan mudah melihat 20-30 pakaian ditambah diskon di dalamnya," ujar Deerpaul.
Syahdan, konsumen seperti Deerpaul menciptakan kemungkinan sektor e-commerce India semakin maju lewat platform mobile (m-commerce).
Contohnya, Flipkart, pemain e-commerce terbesar di India yang sudah mengembangkan situs web mobile yang baru pada 9 November lalu, dan diakui mampu memberikan pengalaman yang sama seperti menggunakan standalone apps.
Kepala Pemasaran Produk Flipkart Punit Soni mengatakan, pada Juli 2014, sebanyak 15% peningkatan transaksi datang dari mobile, dan dalam setahun semakin membesar menjadi 70%. "Revolusi ini hampir tidak terlihat dan kami harus muncul kembali dengan produk baru."
Berdasarkan laporan yang dirilis pada April oleh firma analisis pasar Zinnov, pada 2019, pasar m-commerce India dapat membengkak menjadi US$19 triliun atau naik 850% dari yang sebelumnya hanya US$2 triliun, membuat peningkatan jumlah penjualan ponsel pintar di negara yang memiliki kepadatan penduduk terbesar kedua tersebut.
"India memiliki kesempatan besar untuk m-commerce. Ini pertama kalinya penduduk mayoritas India terkoneksi dengan internet. Mereka antusias, sebab bisa menemukan produk yang harganya jauh lebih murah dan dengan lebih mudah ketimbang yang pernah mereka temukan selama ini," ujar Co-Founder Free Charge Sandeep Tandon.
Namun, pengembangan m-commerce di India bukan tanpa halangan. Analis mengatakan persoalan pertama ialah fokus 'Negeri Bollywood' itu pada penggunaan kas, dan masalah keamanan tentang e-transaction menciptakan gesekan pasar toko daring yang sedang berkembang.
Selain itu, infrastruktur penunjang logistik India yang buruk menantang para penjual untuk menawarkan jasa pengantaran yang cepat kepada konsumen. Kurangnya sarana telekomunikasi yang stabil di seluruh dunia juga dapat menjadi pembatas perkembangan.
Meski begitu, menurut Tandon, dengan melihat potensi yang cukup besar di India, kompetisi akan semakin memanas.
"Baik pemain toko daring lama maupun yang baru sama-sama mencari keunikan masing-masing yang mampu membedakan diri mereka, dan memberikan varian baru dari m-commerce," terang Tandon. (CNBC/Arv/E-3)