TAHUN ini, musim kemarau kering di dunia berlangsung cukup panjang akibat El Nino.
Di Indonesia, meski memasuki November hujan mulai datang, hari-hari terik dan gerah masih berlangsung.
Tentu saja situasi tersebut bukan tanpa keluhan.
Mulai dari para petani yang lahannya mengering sampai ibu rumah tangga yang kesulitan air untuk mandi dan memasak.
Namun, cuaca terik juga membawa rezeki untuk pelaku usaha tertentu.
Produsen produk elektronik Panasonic Gobel Indonesia umpama, melaporkan terjadinya lonjakan penjualan mesin pendingin ruangan, alias AC.
Tidak tanggung-tanggung, penjualan AC Panasonic melejit 130% dari setahun lalu.
Padahal, penjualan kebanyakan barang elektronik lain justru turun akibat pengaruh kurs dan melemahnya daya beli masyarakat.
"Kurs mata uang global yang turun naik dan perekonomian yang melambat membuat pasar elektronik turun. Namun, kami tetap optimistis di tengah persaingan yang makin ketat dengan terus mengeluarkan produk-produk inovatif," ujar Tadaharu Taguchi, Executive Vice President PT Panasonic Gobel Indonesia, kepada Media Indonesia di sela Ajang International HVACR/Pumps/Valves/Compressors Indonesia ke-4 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, kemarin.
Panasonic sendiri baru merilis AC anyar yang mampu beroperasi di temperatur tinggi hingga 52 derajat celsius, tapi diklaim mampu menghemat energi sampai 20%.
Saat ini, pangsa pasar produk pendingin ruangan Panasonic berkisar 20%, disumbang dari penjualan ritel, juga business to business (B2B) dan juga business to government (B2G).
Bicara soal pemakaian AC di lingkup global, masyarakat pemakai AC terbanyak ternyata bukan di negara bersuhu hangat macam Indonesia, atau panas bak Afrika.
Menurut Stan Cox, periset khusus pengaturan suhu dalam ruang (indoor), Amerika Serikat merupakan pengonsumsi energi AC terbesar di dunia.
Environmental Protection Agency mencatat permintaan AS terhadap AC terus meningkat dalam sedekade terakhir.
Fanatisme publik 'Negeri Paman Sam' terhadap AC bahkan mendapat cibiran dari orang-orang Eropa.
Profesor Universitas Cambridge, Gwyn Prins, menyebut kecintaan publik 'Negeri Paman Sam' terhadap AC ibarat epidemi yang paling menyebar dan tersamar.
"Amerika ialah negara besar, kaya, dan panas. Namun, kalau negara dengan populasi terbesar seperti India, Indonesia, dan Brasil, yang semuanya panas dan lembap, memakai energi per kapita untuk AC sebanyak AS, itu akan memakan 100% suplai listrik mereka, plus listrik yang dihasilkan Meksiko, Inggris, Italia, dan seluruh Afrika," ucap Cox kepada Washington Post.