Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Percikan di Dua Segmen MPV

Insan Akbar Krisnamusi
26/11/2015 00:00
Percikan di Dua Segmen MPV
()
BAK menyulut percikan api di dua titik sekaligus, kemunculan multi purpose vehicle (MPV) All-New Kijang Innova menghadirkan pergesekan tak hanya dengan kompetitor di segmennya, medium MPV (MPV menengah), tapi juga di upper MPV (MPV menengah atas). Pasalnya, All-New Kijang Innova memiliki varian yang berpotensi 'menyenggol' produk-produk di segmen kendaraan di atasnya. Di tengah komposisi pasar MPV menengah yang terus mengerdil di rimba otomotif nasional, All-New Innova hadir. Pada 2012, MPV menengah, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), masih 11,83% dari total pasar nasional yang berjumlah 1.116.230 unit.

Setahun kemudian, saat pasar mobil nasional secara keseluruhan membengkak menjadi 1.229.904 unit, 'kue penjualan' MPV menengah turun ke 10,04%. Ceruk pasar MPV menengah menurun lagi pada 2014 menjadi 6,8% dari 1.208.019 unit. Sepanjang 10 bulan berjalan di 2015, kontribusi MPV menengah pada bobot pasar roda empat Nusantara yang berjumlah 853.292 unit kembali menyusut ke 5,4%. All-New Kijang Innova kemudian diluncurkan pada November. Rentang tipe dan harga yang lebar membuat All-New Kijang Innova tak hanya dijual lebih dari Rp200 juta layaknya MPV menengah, tapi juga Rp400 juta ke atas--seharga mobil-mobil di MPV menengah atas.

"Harga dari tipe terendah, yaitu tipe G, mesin bensin transmisi manual Rp282 juta. Tipe baru, Q, harga tertingginya Rp423,8 juta untuk Q mesin diesel transmisi otomatis," jelas Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor Rahmat Samulo dalam peluncuran All-New Kijang Innova, Senin pekan ini, di Jakarta. "Pada dasarnya, kami mengikuti suara konsumen Kijang Innova. Mengenai pergeseran konsumen dari kelas yang ada di atas (MPV menengah atas) ke Innova memang ada kemungkinan," lanjutnya menanggapi pertanyaan Media Indonesia pascaacara.

Samulo sendiri menjelaskan bahwa sebagai awal, varian tertinggi All-New Innova diperkirakan menyumbang 10%-15% dari target penjualan produk legendaris itu sebanyak sekitar 4.000 unit per bulan. "Jika ternyata lebih besar, kami akan menyusun ulang komposisi target (varian Q)," jelasnya. Saat dimintai komentar terkait dengan 'naik kelasnya' Innova terbaru tersebut, GM Strategi Pemasaran dan Perencanaan Produk PT Nissan Motor Indonesia Budi Nur Mukmin mengatakan konsep produk All-New Kijang Innova berbeda dengan MPV menengah atas yang mereka punya, Serena.

Meski begitu, ia mengakui irisan harga kedua produk bisa jadi membuat konsumen membandingkan All-New Kijang Innova varian Q dengan Serena yang berbanderol Rp369,9 juta-Rp447,8 juta. "Kalau faktanya ternyata konsumen membandingkan, kita justru melihat sebagai poin positif karena pasar Serena (MPV menengah atas) akan membesar," paparnya melalui pesan singkat, Selasa pekan ini.

Karena itu, klaim Budi, Nissan tidak menyiapkan strategi khusus. Mitsubishi juga mengamini kemungkinan pergesekan antara All-New Innova varian Q dan MPV menengah atas mereka, Delica. Sebagai antisipasi, penjualan varian teratas Delica, Delica Royal, yang baru diperkenalkan pada akhir Oktober lalu, akan didorong. Harga Delica varian standar hanya lebih tinggi Rp200 ribu dari All-New Kijang Innova varian Q. Adapun Delica Royal berlabel Rp450 juta.

"Biasanya tipikal konsumen Indonesia ialah mengambil varian tertinggi. Kami belajar dari Pajero Sport. Waktu belum ada varian Dakkar, varian Exceed (penjualannya) maju. Setelah ada Dakkar, rasionya malah Dakkar yang naik," ungkap Kepala Divisi Penjualan Grup Mitsubishi Motors Corporation PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Imam Choeru Cahya, beberapa waktu lalu di Pulomas, Jakarta. Dari target penjualan Delica sebanyak 70 unit per bulan pada 2016, Imam memproyeksikan 60% di antaranya datang dari Delica Royal.

Belum habis

Patut dicermati pula, ada apa di balik senja kala pangsa pasar MPV menengah? Budi Nur Mukmin mengakui penurunan pasar segmen yang dahulu merupakan entry level itu salah satunya disebabkan harga jual mobil-mobil MPV menengah terus naik. Segmen entry level kendaraan tiga baris lalu tergeser oleh low MPV (LMPV), MPV berkapasitas mesin lebih kecil dengan harga lebih rendah yang kini menjadi segmen terfavorit. Pergeseran lanjutan diduga terjadi jika segmen low cost green car (LCGC) kian banyak memunculkan model kendaraan tiga baris.

Budi menilai tahun ini komposisi MPV menengah di jagat otomotif akan berakhir di 5% karena 2015 tinggal menyisakan kurang dari dua bulan. Tahun depan pun segmen itu tidak akan tumbuh signifikan, tetap di kisaran 5%-6%. Rahmat Samulo mengklaim potensi segmen itu belum habis. "Dalam jangka menengah, ekonomi masyarakat akan tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi yang membaik. Saya harap medium MPV bisa bergerak juga." Pandangan soal masa depan MPV menengah masih berlainan. Yang sudah jelas ialah riak kompetisi muncul di dua segmen MPV karena manuver Toyota dengan All-New Kijang Innova.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya