Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Apakah Deflasi Harus Disyukuri? Memahami Dampak Penurunan Harga bagi Ekonomi

mediaindonesia.com
10/2/2026 19:45
Apakah Deflasi Harus Disyukuri? Memahami Dampak Penurunan Harga bagi Ekonomi
- Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin (2/2/2026).(ANTARA/Uyu Septiyati Liman)

Secara kasat mata, melihat harga kebutuhan pokok seperti cabai, beras, atau tarif layanan publik menjadi lebih murah adalah berita menggembirakan. Namun, dalam kacamata ekonomi makro, fenomena deflasi ini sering kali dianggap sebagai alarm peringatan yang perlu diwaspadai.

Deflasi: Berkah atau Bencana?

Deflasi adalah periode di mana harga barang dan jasa turun secara terus-menerus. Meski daya beli meningkat, deflasi yang berkepanjangan bisa menjadi sinyal ekonomi sedang mendingin.

Sisi Positif: Mengapa Harus Disyukuri?

  • Peningkatan Daya Beli: Nilai riil rupiah meningkat, memungkinkan masyarakat menjangkau nutrisi dan layanan kesehatan lebih baik.
  • Efisiensi Biaya Hidup: Penurunan tarif transportasi dan energi memberikan ruang napas finansial bagi rumah tangga.

Sisi Gelap: Risiko Spiral Deflasi

Jika masyarakat menunda belanja karena berharap harga akan terus turun, perputaran uang akan melambat. Hal ini berisiko memicu:

  1. Penurunan Pendapatan Perusahaan: Akibat stok barang tidak laku.
  2. Risiko PHK: Perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja untuk menutupi kerugian.
  3. Beban Utang Meningkat: Secara riil, nilai utang terasa lebih berat karena nilai uang yang menguat.
"Syukuri deflasi jika ia datang dari kelimpahan stok pangan dan efisiensi, namun waspadai jika ia lahir dari keengganan masyarakat untuk berbelanja."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya