Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH didorong untuk memperkuat jaring pengaman sosial guna menjaga daya beli masyarakat. Tujuannya untuk menekan kenaikan inflasi, utamanya pada komponen pangan bergejolak (volatile food).
"Hal yang mesti dilakukan pemerintah adalah memperkuat jaring pengaman sosial, dari sisi daya beli. Di lain sisi pemerintah juga bisa menjaga kenaikan harga tersebut melalui berbagai macam instrumen," ujar Ekonom Makroekonomi dan Keuangan LPEM UI Teuku Riefky saat dihubungi, Senin (1/8).
Riefky menambahkan, upaya untuk menekan peningkatan inflasi juga dapat dilakukan oleh Bank Indonesia. Bank sentral menurutnya dapat menaikan suku bunga acuan secara bertahap dalam rangka mengendalikan inflasi.
Sejalan dengan itu, kata Riefky, pemerintah juga mesti melakukan pengendalian harga-harga baik di pusat maupun di daerah dalam rangka memitigasi kenaikan yang signifikan.
Sebab, melonjaknya harga-harga pangan dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan di Tanah Air. Itu karena sekitar 74% pengeluaran masyarakat, utamanya kelas menengah ke bawah ditujukan untuk membeli pangan.
"Volatile food ini adalah pangan yang memang dikonsumsi oleh banyak masyarakat. Apalagi masyarakat menengah ke bawah porsinya lebih besar dari pada masyarakat menengah ke atas dari sisi spending di volatile food ini. Jadi memang ini kemungkinan berpotensi meningkatkan kemiskinan," jelas Riefky.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan inflasi pada komponen pangan bergejolak. Pada Juli 2022, inflasi komponen tersebut telah mencapai 11,47% (year on year/yoy), tertinggi sejak Januari 2014 yang tercatat sebesar 11,91% (yoy).
Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan, tingginya inflasi komponen bergejolak itu berpotensi mendorong peningkatan kemiskinan di Indonesia. "Kenaikan harga atau inflasi yang cukup tinggi ini, khususny pada kelompok makanan, itu pasti memiliki potensi yang besar pada angka kemiskinan," terangnya. (OL-8)
Purbaya menjelaskan bahwa meskipun kondisi global penuh ketidakpastian, permintaan domestik masih menjadi mesin utama penggerak ekonomi.
LPEI memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia masih diperkirakan tumbuh 4-5 persen dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan perdagangan global dengan catatan
Batam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76% secara tahunan (year-on-year) pada 2025. Angka itu menjadikannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo proyeksikan pertumbuhan ekonomi RI triwulan I 2026 tetap kuat di tengah tantangan global. Simak faktor pendorong dan analisisnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved