Kamis 20 Januari 2022, 06:00 WIB

Memasarkan Produk Kriya di Pasar Digital

Fathurozak | Ekonomi
Memasarkan Produk Kriya di Pasar Digital

Dok. Dekornata
Pendiri Dekornata, Giovanni Warli

 

GIOVANNI Warli memulai Dekornata pada 2018. Ketika itu, ia baru bekerja sama dengan tiga perajin kayu di Bogor selatan, Jawa Barat. Dengan mulai produksi karya kriya seperti tatakan gelas untuk kafe hingga peralatan lain berbahan dasar kayu, semuanya dia pasarkan lewat lokapasar elektronik (e-commerce). Upayanya pun berbuah manis. Kesadaran publik mulai terbangun atas mereknya. Pesanan secara luring pun juga meningkat.

Ketika itu, Gio melihat peluang saat semua orang berbelanja di lokapasar elektronik. Karena itu, produk kriya berbahan kayu yang diproduksinya bersama para perajin pun ditujukan menyasar mereka yang memang biasa menggunakan platform tersebut. Karena kesadaran publik atas mereknya kian terbangun, pesanan di lapaknya pun kian ramai.

“Nah, pas 2020 itu, kan, pandemi covid-19 menyerang. Pesanan dari klien yang offline pun, ya, tertunda semua, sementara yang di lapak e-commerce itu meningkat drastis. Bisa tiga-lima kali lipatnya,” kata Gio saat berbincang dengan Media Indonesia melalui konferensi video, kemarin.

Bagi Gio, keberadaan platform lokapasar elektronik menjadi krusial. Menurutnya, itu menjadi bagian penting dalam perjalanan mereknya yang berfokus pada produk kerajinan tangan. Dari yang semula hanya memiliki tiga mitra perajin, kini sudah ada 200 perajin di berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, hingga Sumatra. Keragaman produknya juga kian bervariasi. Ia tidak saja berfokus pada material kayu, tetapi juga bambu hingga keramik.

“Karena e-commerce itu, kan, sudah sangat dipercaya orang. Dari segi pembayaran hingga keamanannya. Meski dari segi biaya ada potongan, menurut kami, itu sepadan karena secara jangkauan pasarnya sudah besar dan dipercaya pembeli. Jadi, kami fokus ke engagement orang saja untuk ajak mereka membeli produk kami,” tambah Gio.

Namun, pandemi bukan pula tanpa tantangan. Produk kerajinannya juga nyaris sepi pembeli. Ia pun bersama ke-200 perajinnya mengalihkan fokus pada produksi peralatan masak. Hal itu didasari pertimbangan banyaknya orang yang jadi hobi masak di awal pandemi. Menurut Gio, produk rolling pin yang jadi salah satu komponen membuat kue menjadi salah satu yang paling laris di Dekornata pada 2020.

Saat ini, selain berjualan di lokapasar elektornik, per 2021 Dekornata telah meluncurkan situs resmi dan punya aplikasi yang memiliki fitur realitas berimbuh (augmented reality/AR). Jadi, boleh dibilang pemasaran produk mereka makin lengkap di ranah digital: layanan aplikasi perpesanan, aplikasi yang dikembangkan sendiri, melapak di lokapasar, dan situs resmi, serta menggaungkannya di media sosial.

 

Fokus AR dan furnitur

Kelak, salah satu yang juga menjadi fokus Dekornata ialah mengoptimalkan fitur realitas berimbuh (AR) mereka dan semakin banyak memproduksi karya yang bisa memanfaatkan fitur tersebut, seperti furnitur.

Fitur AR itu, kata Geo, ditujukan bagi calon pembeli yang memang masih ragu terkait dengan spesifikasi produk. Jadi, pelanggan bisa melakukan proyeksi lewat AR di hunian mereka.

“Saat kami merilis fitur AR di aplikasi, pembayaran memang belum bisa ditautkan ke e-commerce. Nah, harapannya ke depan itu sudah bisa diselesaikan. Rencana akhir Januari sudah ada pilihan itu di aplikasi Dekornata.”

Peran sebagai pemasar digital diambil Gio lewat Dekornata karena dirinya melihat salah satu yang masih jadi kekurangan di bidang produk kriya ialah pemasarannya, terutama pemasaran digital. “Jadi, kemitraan kami dengan perajin adalah supaya produk mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas.”

Menurut Gio, salah satu keuntungan berjualan dan memasarkan produk lewat platform digital ialah kemudahan dan peluang menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, ia juga mengakui ‘perang harga’ menjadi sesuatu yang jadi kekurangannya.

“Sebenarnya menurut saya, adanya marketplace itu mempermudah UMKM untuk digitalisasi. Cuma ke depan yang harus diperhatikan juga adalah digital marketing-nya seperti SEO, fotografi produknya, copywriting, iklannya. Itu yang harus lebih difokuskan ke depannya. Untuk menjadi lebih kuat lagi fondasi UMKM go digital. Belajar dari segi marketing-nya,” kata Gio. (M-4)

Baca Juga

Ist

Sandiaga Uno Ajak UMKM Berkolaborasi dengan Platform E-commerce

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 08:14 WIB
Pelaku UMKM diminta berkolaborasi dengan platform digital agar dapat semakin menciptakan peluang usaha, membangkitkan ekonomi, dan...
MI/HO

Mendag Sebut Harga Komoditas Tinggi Peluang bagi Investasi dan Inovasi

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 05:11 WIB
“Ini bagian dari oprtunity. Harga komoditas tinggi ini menyebabkan banyak investasi dan inovasi untuk menciptakan nilai tambah bagi...
MI/ Susanto

Kemenkeu: Kondisi Utang Indonesia Lebih Baik dari Negara Lain

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Rabu 25 Mei 2022, 23:57 WIB
Selain itu, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga disebut masih berada di bawah batas...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya