Minggu 28 November 2021, 20:09 WIB

Maybank Catat Laba Bersih RM1,68 Miliar Pada Sembilan Bulan Pertama 2021

mediaindonesia.com | Ekonomi
Maybank Catat Laba Bersih RM1,68 Miliar Pada Sembilan Bulan Pertama 2021

DOK MAYBANK INDONESIA

 

MAYBANK, bank dengan aset terbesar keempat di Asia Tenggara, mengumumkan pendapatan operasional bersih (net operating) untuk kuartal ketiga 2021 yang berakhir pada 30 September 2021. Yaitu tumbuh tipis sebesar 1,2% menjadi RM6,15 miliar dari RM 6,08 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Ini didukung
oleh kenaikan pendapatan net fund based sebesar 14,3% Y-o-Y menjadi RM4,72 miliar. Laba sebelum pajak (PBT) dan laba bersih (net profit) tercatat lebih rendah akibat pendapatan net fee based menurun serta net impairment losses naik, melampaui pertumbuhan pendapatan net fund based.

Grup mencatat PBT sebesar RM2,27 miliar di kuartal ketiga 2021, turun dari RM2,61 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba bersih turun menjadi RM1,68 miliar dari RM1,95 miliar di kuartal
ketiga 2021 akibat penurunan pendapatan fee sebesar 26,6% menjadi RM1,43 miliar, yang terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan investasi dan trading, serta peningkatan net impairment losses akibat pencadangan provisi tambahan secara proaktif yang dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai tingkatan pembatasan mobilitas yang diterapkan di Malaysia, Singapura, dan Indonesia selama kuartal ketiga tersebut.

Laba operasional Grup sebelum provisi (PPOP) tercatat turun menjadi RM3,33 miliar dari RM3,37 miliar pada kuartal ketiga 2020. Sementara itu, net impairment losses berada pada angka RM1,13 miliar dibandingkan RM805,9 juta pada periode yang sama tahun lalu sebagai akibat dari pemberlakuan
pembatasan mobilitas di kuartal ketiga 2021, di mana Grup terus melakukan pencadangan provisi secara proaktif. Yaitu melalui penerapan manajemen overlay bagi debitur yang masuk ke dalam program Repayment Assistance dan memfasilitasi pemutihan (write-off) untuk sejumlah nasabah.

Kinerja 9 bulan pertama 2021 dibanding 9 bulan pertama 2020
Selama kurun waktu sembilan bulan sampai 30 September 2021, Grup mencatatkan pendapatan operasional bersih sebesar RM19,15 miliar. Ini tumbuh 3,8% dari periode yang sama tahun lalu didukung pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 15,5% Y-o-Y menjadi RM14,22 miliar. Net impairment
losses berkurang sebesar 28,3% menjadi RM2,56 miliar dari RM3,57 miliar di tahun sebelumnya, yang merupakan dampak penerapan prinsip kehati-hatian Grup dalam mencadangkan provisi berdasarkan
asumsi dalam jangka panjang.

Alhasil, PBT meningkat 22,5% menjadi RM8,17 miliar dari RM6,66 miliar di tahun sebelumnya. Sedangkan laba bersih meningkat 22,2% menjadi RM6,04 miliar dibandingkan dengan RM4,94 miliar yang
diperoleh dalam sembilan bulan pertama tahun 2020.

Menuju pemulihan berkelanjutan
Dengan memperhatikan dampak pandemi COVID-19 terhadap roda bisnis dan ekonomi global selama dua tahun terakhir ini, disertai dengan kemunculan varian-varian baru virus, dan disusul dengan
pemberlakuan pembatasan mobilitas, Maybank secara konsisten memberi dukungan kepada nasabah melalui berbagai program. Seperti di antaranya, Repayment Assistance dan Restrukturisasi & Penjadwalan Ulang (R&R) yang sudah dijalankan sejak Februari 2020. Ini dilakukan guna meringankan beban arus kas nasabah dan turut membantu penyeimbangan terhadap pendapatan nasabah.

Baru-baru ini, Maybank memberikan dukungan lebih jauh kepada nasabah melalui program Repayment Assistance seperti PEMERKASA Plus dan PEMULIH. Per 12 November 2021, terdapat 30,6% dari total pinjaman/pembiayaan di Malaysia berada di bawah program Repayment Assistance, Relief dan R&R. Sementara di Indonesia sebesar 15,2% dan di Singapura sebesar 3,9%.

Untuk mendorong bisnis UKM, Maybank juga menyediakan dukungan berbagai solusi digital termasuk platform pembayaran. Seperti program ‘Sama-Sama Lokal’, di mana Maybank menyediakan aplikasi ‘Biz online’ dan dukungan pembiayaan SME Digital Financing, dengan biaya rendah atau bahkan tanpa biaya sama sekali. Tujuan dari dukungan ini adalah untuk membantu bisnis UKM bertransisi ke platform digital sehingga dapat mengurangi biaya operasional dan memperluas jangkauan pasar serta basis klien mereka.

Dengan dibukanya kembali perekonomian di Malaysia secara bertahap mulai kuartal keempat 2021, dan diiringi dengan tingkat persentase vaksinasi yang meningkat (mencapai lebih dari 75% populasi), Malaysia saat ini telah mendorong mobilitas dan aktivitas bisnis, sebagai tanda-tanda tengah berlangsungnya pemulihan ekonomi. Untuk mendukung pemulihan ini, sektor perbankan menjalin kerja sama dengan Agensi Kaunseling dan Pengurusan Kredit (AKPK) untuk menggulirkan skema bantuan keuangan yang lebih terarah, khususnya bagi nasabah perorangan yang paling rentan (atau kategori B50) untuk mulai keluar dari program Repayment Assistance, dan dapat kembali melanjutkan kewajiban mereka secara bertahap dan berkontribusi pada perekonomian. Maybank akan fokus kepada pemberian pinjaman tambahan guna mendukung pertumbuhan bisnis nasabah di tengah fase pemulihan
ini.

Chairman Maybank dan Presiden & CEO Grup Chairman Maybank, Tan Sri Dato’ Sri Zamzamzairani Mohd Isa mengatakan bahwa terlepas adanya dampak pembatasan mobilitas pada kinerja kuartal ketiga Grup, namun dengan tingkat likuiditas dan permodalan Grup yang kuat dapat mendorong Grup untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan di
tengah kondisi ekonomi yang mulai bergairah kembali.  “Seiring dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di Malaysia pada kuartal keempat 2021, disertai dengan program vaksinasi yang terus meningkat, dan laju bisnis serta mobilitas masyarakat yang kian
bergairah, kami siap untuk menyambut pertumbuhan baru dan mendukung nasabah untuk dapat memaksimalkan efek pemulihan ekonomi yang mulai berlangsung saat ini,” kata Tan Sri Dato’ Sri Zamzamzairani Mohd Isa.

Sementara itu, Presiden & Grup CEO, Datuk Abdul Farid Alias menyampaikan bahwa Grup akan terus menyediakan solusi keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah saat ini, khususnya dengan memperhatikan aspek pertumbuhan sejalan dengan dibukanya kembali pasar. Di saat yang sama Grup
akan terus memberikan dukungan kepada nasabah yang membutuhkan bantuan keuangan yang lebih terarah.
“Kami akan terus mendukung nasabah untuk dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan di tengah pemulihan yang berlangsung saat ini, agar nasabah dapat menghadapi lingkungan bisnis yang berbeda dari sebelumnya. Ada pun dukungan yang kami berikan termasuk di antaranya dengan mendorong nasabah untuk mengadopsi digitalisasi dalam kegiatan usaha mereka, mengeksplorasi alternatif solusi pembiayaan serta investasi yang dapat mendukung pertumbuhan nilai aset mereka. Sementara itu, kami juga akan terus berupaya untuk terus memperbaiki penerapan agenda terkait perubahan iklim dan keberlanjutan secara bertahap sebagai bagian dari visi kami untuk selalu melakukan hal yang benar," jelasnya.

Kredit dan Simpanan
Total kredit Grup (gross) tumbuh 4,0% Y-o-Y per 30 September 2021, ditopang pertumbuhan kredit di Singapura dan Malaysia masing-masing sebesar 11,3% dan 2,2%, sedangkan kinerja kredit di Indonesia turun 9,9%. Pertumbuhan kredit di kedua pasar tersebut disumbangkan terutama dari segmen Community Financial Services (CFS), yang mencatat peningkatan sebesar 10,7% di Singapura dan 3,8% di Malaysia.

Sejalan dengan strategi Grup untuk mempertahankan likuiditas yang sehat dan memperkuat basis pendanaan berbiaya rendah, Grup mencatat rasio Giro dan Tabungan (CASA) meningkat 12,3%, didorong pertumbuhan CASA di Malaysia sebesar 9,0% dan di Singapura sebesar 26,8%, sedangkan rasio CASA di Indonesia turun tipis sebesar 2,0%. Hal ini berkontribusi kepada peningkatan rasio CASA Grup sebesar 46,0% per September 2021 dibandingkan dengan 42,1% di tahun sebelumnya.

Total simpanan Grup tumbuh 2,8%, didukung terutama dari pertumbuhan CASA di Malaysia sebesar 4,1%, meskipun di Singapura dan di Indonesia mengalami penurunan masing-masing sebesar 5,7% dan 12,9% .

Net interest margin (NIM) atau marjin bunga bersih untuk periode sembilan bulan hingga September 2021 naik 23 basis point menjadi 2,31% dari 2,08% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh menurunnya biaya simpanan, didukung pertumbuhan CASA yang kuat secara kuartalan (Q-o-Q). Akan tetapi, NIM untuk kuartal ketiga 2021 turun 11 basis point menjadi 2,26% dari 2,37% di
kuartal kedua 2021 yang disebabkan oleh dampak penerapan moratorium untuk membantu debitur ritel dan UKM selama kuartal ketiga. Fokus utama Grup adalah untuk terus menerapkan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam mengelola aset, kewajiban, termasuk penetapan pricing, untuk menghadapi tekanan pada NIM.

Modal dan Kekuatan Likuiditas
Maybank terus menjalankan strategi untuk mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang kuat, dengan rasio modal CET1 pada level 14,24%, dan rasio modal total pada level 18,21% per 30 September 2021. Hal ini menjadikan Maybank sebagai salah satu bank dengan kapitalisasi terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Rasio cakupan likuiditas Grup berada pada tingkat yang sehat sebesar 138,1%, jauh di atas angka yang disyaratkan regulator sebesar 100%.

Kualitas Aset
Grup mencatatkan peningkatan pada kualitas aset yang dikontribusikan dari penurunan rasio Gross Impaired Loans (GIL) menjadi 1,93% pada September 2021 dari 2,35% pada September 2020.

Meskipun demikian, Grup secara proaktif akan terus menerapkan manajemen overlay untuk mengantisipasi penurunan terhadap kualitas kredit pada segmen bisnis tertentu atau debitur korporat serta portofolio ritel akibat pemberlakuan pembatasan mobilitas yang berkepanjangan.

Pemantauan ketat terhadap portofolio kredit tetap menjadi prioritas, dan Grup senantiasa secara aktif melibatkan nasabah yang terdampak bisnisnya dengan memberikan bantuan dan nasihat terkait pengelolaan kewajiban mereka.

Pasar Utama
Maybank Indonesia mencatat perolehan laba sebelum pajak (PBT) tercatat Rp1,48 triliun, naik sebesar 2,1% dari Rp1,45 triliun pada periode yang sama tahun lalu didukung oleh penurunan biaya provisi,
biaya dana (cost of funds) dan overhead. Laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (profit after tax and minority interest/PATAMI) turun 3,3% menjadi Rp1,06 triliun pada September 2021 dari Rp1,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu, disebabkan oleh adanya penyesuaian perhitungan pajak tangguhan atau Deferred Tax. (RO/OL-10)

Baca Juga

Dok. DSC12

Kompetisi Wirausaha DSC12 Lahirkan Ide Bisnis Startup Digital Hingga Bisnis Ramah Lingkungan 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Senin 24 Januari 2022, 23:06 WIB
Seluruh pemenang DSC12 ini juga akan mendapatkan kesempatan pendampingan bisnis dari DSC selama 2 tahun ke...
Antara/Asprilla Dwi Adha

Kementerian PUPR Rampungkan 838 Tender Paket Proyek senilai Rp17,5 Triliun

👤Ini Nantika Jelita 🕔Senin 24 Januari 2022, 22:54 WIB
Total anggaran yang dikelola Kementerian PUPR di 2022 adalah Rp100,6 triliun. Sejak Oktober 2021 lalu telah dilaksanakan tender sejumlah...
Dok. Crown Textile

Dukung Pertumbuhan Industri Tekstil, Crown Textile and Tailor Buka Toko di Jakarta 

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 24 Januari 2022, 22:44 WIB
Crown Textile and Tailor siap menjawab kebutuhan pasar Indonesia bahkan Asia. Toko itu juga menyediakan berbagai jenis kain untuk berbagai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya