Kamis 23 September 2021, 09:34 WIB

Petani dan Pedagang Jagung Pertanyakan Peranan Kemendag

mediaindonesia.com | Ekonomi
Petani dan Pedagang Jagung Pertanyakan Peranan Kemendag

DOK

 

SEJUMLAH pedagang jagung mengaku keberatan dengan pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Luthfi yang mengatakan bahwa stok jagung nasional saat ini dalam kondisi tidak tersedia. Menurut mereka pernyataan tersebut sarat kaitannya dengan muatan politis yang pada akhirnya mengambil jalan impor.

Pengumpul, pedagang sekaligus Pengelola Korporasi Petani khusus Jagung di Nusa Tenggara Barat, Dean Novel mengatakan, bahwa stok jagung di sejumlah Provinsi saat ini dalam kondisi yang sangat melimpah alias tidak terjadi kekurangan sedikitpun. Sebaliknya, ia dan petani jagung NTB mempertanyakan peranan Kemendag dalam melakukan distribusi.

"Yang pertama Kemendag jangan melihat kondisi jagung dari musim tanam atau musim kosong. Tapi mereka harus melihat dari momen over suplay. Tidak adil itu namanya. Sekarang kami jadi bertanya ke mana mereka saat petani membutuhkan. Kemendag harus bertanggungjawab karena mereka adalah regulator perdagangan yang mengatur HPP," ujar Dean, Rabu, 22 September 2021.

Di NTB, kata Dean, ukuran Pulau Lombok saja memiliki areal panen 21.000 hektare. Lalu ada 2 Kecamatan yang sejak dulu selalu memasuki masa panen pada akhir Oktober. Dua Kecamatan itu adalah Kecamatan Gerung dan Kecamatan Lembar.

"Di 2 Kecamatan itu saja luasan panennya mencapai 4.000 hektare dan menghasilkan 6 ton pipilan jagung kering per hektare. Jadi rasanya tidak masuk akal kalau Pak Mendag bilang stok jagung tidak ada. Jadi kalau Pak Mendag mau cari 30 ribu ton jagung, datang saja ke NTB dan bawa duit, lalu beli jagung petani sambil nikmati sunset," katanya.

Bagi Dean, pernyataan tidak ada stok jagung memang tidak masuk akal. Apalagi semua daerah sentra jagung di NTB sedang melaksanakan panen raya. Terlebih saat ini ada kecenderungan petani di NTB ogah menjual jagung dalam bentuk batangan.

"Mereka maunya menjual dalam bentuk pipilan kering karena harganya bagus di kisaran 5 ribu. Sekali lagi, saya dan petani di NTB mengundang Menteri Perdagangan datang ke kawasan sentra jagung di Kecamatan Jerowaru, Sambelu, dan Ringga Baya. Mari kita selesaikan jagung dengan cara negarawan," katanya.

Di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, petani sekaligus pedagang jagung Kecamatan Mera Urak, Warno juga mengaku keberatan jika kondisi jagung dikatakan tidak memiliki stok yang cukup. Pernyataan itu, kata dia, hanya akan menimbulkan polemik dan meresahkan petani-peternak.

Karena itu, Ia menantang agar pihak yang merasa tidak percaya untuk mendatangi langsung sentra jagung seperti yang ada di Desa Borehbangle, Mera Urak, Tuban, Jawa Timur. Di sana, kondisi pertanaman jagung sudah memasuki usia 80 hari, yang berarti tidak lama lagi akan memasuki panen raya.

"Jagung di Tuban itu menghasilkan 1 juta ton dalam 1 tahun. Jadi sangat tidak mungkin sekali kalau dikatakan tidak ada," katanya.

Soal kelangkaan, menurut Warno, bisa saja adanya kemungkinan monopoli dari pengusaha besar agar stok yang ada semakin menipis. Setelah itu mereka keluar dan mengatakan jagungnya tersedia.

"Mereka kan sistemnya mencari laba. Kalau dijual langsung kan mereka enggak dapet keuntungan. Tapi kalau stoknya sudah menipis baru mereka jual ke pabrik untungnya bisa lebih besar. Nah soal ini lagi-lagi Kemendag yang mempunyai peranan," katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Grobogan, Sunanto menegaskan bahwa wilayahnya siap menyuplai kebutuhan jagung bagi peternak ayam petelur maupun ayam layer. Menurutnya pada bulan September dan Oktober ini produksi jagung di Kabupaten Grobogan mencapai 170 ribu ton.

"Bulan September ini luas panen ada 26 ribu hektare dengan produksi 170 ribu ton. Kalau dikonversi dengan kadar air 15%-17% maka masih ada 120 ribu ton," katanya.

Sunanto menjelaskan, sejumlah sentra jagung yang bisa dilihat kondisi stoknya adalah Kecamatan Kedungjati, Karangayung, Penawangan, Toroh Geyer, Pulokulon, Karadenan, Gabus, dan kecamatan lain yang sedang melakukan panen raya. "Saat ini harganya juga bagus dan sebagai perwujudan program pemulihan ekonomi nasional," tutupnya. (RO/OL-10)

Baca Juga

Dok.Pertamina

Pandemi Jadi Momentum Akselerasi Tranformasi Bisnis Pertamina

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 22:05 WIB
PT Pertamina (Persero) terus mengejar target program transisi energi meski sektor energi mengalami tiga guncangan atau triple shock selama...
Dok.WMP

Holding Widodo Makmur Unggas Bersiap Melantai di Bursa

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 22:01 WIB
Widodo Makmur Perkasa merupakan perusahaan holding yang membawahi lima lini...
Dok.PPI

PPI Naik Kelas dalam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 21:25 WIB
PT Perusahaan Perdagangan Indonesia meraih anugerah Menuju Informatif yang disampaikan pada penyerahan anugerah hasil monitoring dan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya