Kamis 19 Agustus 2021, 10:07 WIB

Indonesia Masih Sulit Terbangkan Pesawat Listrik, Ini Sebabnya

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Indonesia Masih Sulit Terbangkan Pesawat Listrik, Ini Sebabnya

Ant
Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto (tengah).

 

DIREKTUR Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Novie Riyanto mengungkapkan Indonesia masih kesulitan untuk menerbangkan pesawat udara bertenaga listrik. Setidaknya ada tiga tantangan yang dia jabarkan atas permasalahan tersebut.

Pertama, pesawat udara listrik yang dikembangkan dunia saat ini menggunakan ukuran baterai yang besar, sehingga menjadi lebih berat jika dibandingkan dengan pesawat udara dengan mesin berbahan bakar fosil atau konvensional.

Baca juga: Menko Airlangga Ungkap Kontribusi Industri Sawit dalam Pemulihan Ekonomi

"Tantangan kedua ialah teknologi baterai yang berkembang saat ini (di Indonesia) belum mampu digunakan untuk jarak tempuh pesawat yang jauh dan waktu penerbangan yang lama," jelas Novie dalam Focus Group Discussion (FGD) virtual dan Peluncuran Perdana Air Power Magz bersama Pusat Studi Air Power Indonesia, Rabu (18/8).

Selain itu, teknologi baterai yang digunakan atau diproduksi di Indonesia dianggap belum dapat digunakan untuk menghasilkan kecepatan setara dengan pesawat udara yang menggunakan bahan bakar fosil.

"Kami sebagai regulator akan bekerja terus untuk bisa menfasilitasi dan meregulasi ketentuan internasional dalam pengembangan pesawat udara bertenaga listrik ini. Pasalnya, beberapa negara berlomba untuk hasilkan pesawat udara listrik yang andal dan efisien," kata Novie.

Dia mencontohkan pesawat bertenaga listrik mana saja yang sudah dan akan melakukan uji coba penerbangan. Seperti pabrikan magniX mengembangkan eCaravan yang menggunakan badan pesawat Cessna Grand Caravan. Pesawat itu memiliki kekuatan 750 horsepower dan bisa diisi kapasitas 4-5 orang. Sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA) untuk pesawat itu akan didapat pada akhir tahun ini.

Berikutnya ada perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin, NASA yang mengembangkan pesawat listrik, X-57 Maxwell. Pesawat ini memiliki bobot seberat 3.000 pon. Kecepatan jelajah pesawat ini, kata Novie, mencapai 172 mph di ketinggian 8.000 kaki dan pesawat listrik lainnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim menuturkan, Indonesia bisa menggunakan pesawat N219 yang merupakan karya anak bangsa sebagai pesawat udara listrik yang bisa diterbangkan.

"Kami mendorong pengembangan N129. Kami pikirkan pesawat ini memiliki potensi yang baik dengan SDM dirgantara yang mumpuni. Upaya ini bisa jadi terobosan yang luar biasa bagi Indonesia yang merupakan sebuah negara besar dengan kemajuan teknologi yang tinggi," pungkasnya. (Ins/A-3)

Baca Juga

DOK PT TAP

PT TAP Tambah Pabrik Pengolahan Sawit di Kalteng

👤Widhoroso 🕔Selasa 07 Desember 2021, 21:47 WIB
PT Triputra Agro Persada Tbk (Perseroan) menambah kapasitas produksi Crude Palm Oil (CPO) dengan meresmikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS)...
MI.M. Irfan

Optimalisasi Ekonomi Digital untuk Pemulihan Ekonomi Nasional 

👤Mediaindonesia.coim 🕔Selasa 07 Desember 2021, 21:31 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi salah satunya ditopang dengan...
Antara/Dhemas Reviyanto

Anggota Dewan Ini Minta Unit Link Dimoratorium Dulu

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 Desember 2021, 21:05 WIB
sejumlah nasabah dari ketiga perusahaan asuransi mengadukan persoalan terkait salah satu produk asuransi, yaitu Unit...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya