SEBAGAI negara kepulauan, infrastruktur sebagai penghubung antarpulau menjadi keharusan. Untuk menghubungkan antarpulau itu, Indonesia sebenarnya telah memiliki sedikitnya 2.100 pelabuhan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bobby R Manahit di Jakarta, Rabu (13/5) lalu mengatakan, saat ini pelabuhan-pelabuhan itu telah mampu melayani kedatangan kapal sandar dan aktivitas bongkar muat.
Keseluruhan pelabuhan itu dikelola oleh Kemenhub, swasta, dan badan usaha milik negara (BUMN) yang dimiliki Indonesia, yakni PT Pelabuhan Indonesia (Persero) I, II, III, dan IV.
Pelabuhan dan infrastruktur yang melengkapinya kini menjadi perhatian serius Kabinet Kerja Joko Widodo yang menargetkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Buktinya untuk transportasi laut, Kemenhub memprioritaskan pembangunan 170 pelabuhan laut yang sebagian besar sebagai pelabuhan singgah kapal perintis.
''Pemerintah juga berencana menambah rute perintis menjadi 193 dari 96 yang sudah dilayani saat ini,'' terang Bobby.
Rencana lain yang disiapkan ialah pembangunan 93 kapal perintis dengan rincian 1 unit kapal khusus ternak, 20 unit kapal rede transport, 9 unit kapal barang ''multipurpose'' dan ''docking repair'' 47 kapal negara perintis.
Bobby optimistis, ketersediaan kapal maupun rute perintis mampu menambah konektivitas. ''Dengan adanya peningkatan layanan, maka kebutuhan masyarakat akan terlayani,'' ujarnya.
Ia menambahkan, setiap rencana pengembangan sarana dan prasarana di sektor maritim dilakukan melalui kajian ataupun studi. Misalnya, rencana peningkatan kapasitas pelabuhan yang harus tetap memperhitungkan aspek komersialisasi, khususnya dalam aktivitas kedatangan ataupun keberangkatan kapal dari pelabuhan tersebut.
Terminal Teluk Lamong Salah satu rencana besar untuk meningkatkan kapasitas pelabuhan adalah dengan pembangunan Terminal Teluk Lamong di Surabaya, Jawa Timur. Terminal tersebut berada di Pelabuhan Tanjung Perak yang dibangun dan dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero).
Terminal Teluk Lamong
Kapasitas total Terminal Teluk Lamong akan dikembangkan hingga 5,5 juta TEUs (twenty feet equivalent units). Untuk tahap I, kapasitas terpasang sebesar 1,5 juta TEUs dan telah beroperasi secara komersial sejak November tahun lalu.
Di samping menambah kapasitas, Terminal Teluk Lamong juga akan mengusung konsep ''green port'' atau pelabuhan ramah lingkungan yang berstandar internasional. Program tersebut merupakan bentuk kontribusi perseroan dalam mengurangi emisi gas karbon yang berdampak pada efek rumah kaca.
Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto menjelaskan, konsep pelabuhan hijau ini sudah disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan di pelabuhan dan sudah mendapat respons positif.
''Nantinya, akan ada batasan atau ketentuan kendaraan yang memasuki Terminal Teluk Lamong. Seperti akses bagi kendaraan yang berbahan bakar gas karena itu lebih bersih dan bisa mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM),'' ungkapnya.
Menurut Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Rahmat Satria, konsep keselamatan (safety), produktivitas (productivity), dan pangsa pasar (market share) akan diterapkan di Terminal Teluk Lamong.
Pelindo III yang mengelola 43 pelabuhan di Indonesia akan mendapatkan sertifikasi internasional dalam rangka memenuhi standar yang ditetapkan secara global.
Untuk produktivitas, tambahnya, Pelindo III menggunakan alat-alat yang bekerja secara secara otomatis. Sedangkan promosi dilakukan untuk menarik minat masyarakat dalam menggunakan jasa kepelabuhan di dalam negeri sehingga pangsa pasar pun naik. (Bow/S-25)