Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak produk halal yang tidak hanya laku di dalam negeri tetapi juga sangat potensial diekspor ke pasar global.
Hanya saja, saat ini, peluang ekspor komoditas halal masih terganjal beberapa isu yang datang dari dunia internasional.
Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengungkapkan negara-negara Islam memiliki regulasi, standard dan sistem sertifikasi halal yang berbeda-beda.
"Terkadang, interpretasi halal terhadap suatu produk itu berbeda-beda antara satu negara dan negara lainnya. Itu yang menghambat ekspor produk halal kita," ujar Arlinda di Jakarta, Senin (2/9).
Selain itu, banyak negara-negara Islam yang juga mengenakan tarif bea masuk tinggi kepada produk-produk asal Tanah Air. Hal tersebut membuat barang-barang dari Indonesia tidak mampu bersaing karena harga jual di negara tujuan cukup tinggi.
Baca juga: Halal Park Bisa Tumbuhkan UMKM Produk Kuliner
Dalam upaya menurunkan tarif, Kemendag berusaha mengatasi persoalan itu dengan cara melakukan perjanjian dagang dengan beberapa negara Islam seperti Iran, Turki, Tunisia, Pakistan dan Bangladesh.
"Semuanya saat ini masih dalam proses perundingan. Kita harap bisa diselesaikan dan ditandatangani segera," tuturnya.
Selama pemerintah berjuang menurunkan tarif, ia berharap para pelaku usaha bisa terus meningkatkan kuntitas dan kualitas produk halal. Dengan begitu, ketika Indonesia mendapat keringanan tarif, produk-produk seperti pangan, obat-obatan, kosmetik dan pakaian muslim sudah siap masuk ke pasar-pasar baru tersebut.
Berdasarkan data Statistical, Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries (SESRIC), total penduduk muslim di dunia pada 2017 mencapai 1,8 miliar jiwa atau 24% dari jumlah penduduk dunia. Adapun, angka keseluruhan pengeluaran mereka sebesar US$2,1 triliun dan terus meningkat setiap tahun.
Indonesia, pada 2018, mengekspor produk halal senilai US$45 miliar ke negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam.(OL-5)
Menlu RI Sugiono menegaskan komitmen Indonesia-Turki memperkuat kerja sama industri, produk halal, dan pertanian saat bertemu Presiden Erdogan di Istanbul.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempertegas komitmennya dalam mendukung daya saing pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) sektor perikanan melalui penguatan ekosistem halal.
Tujuan utama dari kesepakatan ini adalah membangun sinergi yang kuat, harmonisasi program, dan kolaborasi yang efektif dalam melaksanakan sosialisasi, edukasi, dan promosi bidang JPH.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal, kehalalan kini tak lagi sekadar syarat, melainkan menjadi simbol kualitas, keamanan, dan tanggung jawab moral.
produk-produk halal memiliki potensi besar untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah global.
Ia menjelaskan, secara global, halal sudah menarik bukan di negara muslim saja, tapi sudah menyasar ke negara non muslim seperti Tiongkok, Jepang, Rusia bahkan negara-negara Eropa
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved