Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH siap memacu industri otomotif dengan harmonisasi skema Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Dalam aturan baru, PPnBM tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin namun berdasarkan emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor.
Dengan kata lain, semakin rendah emisi, semakin rendah tarif pajak yang dikenai.
"Jadi sekarang PPnBM dihitung berbasis emisi. Skema itu yang tengah dikonsultasikan pemerintah kepada parlemen," ujar Airlangga di Jakarta, Rabu (13/3).
Airlangga berharap skema harmonisasi itu bisa mengubah tren produksi kendaraan di dalam negeri, dari semula mayoritas konvensional menjadi rendah emisi, bahkan hingga electric vehicle atau yang lebih dikenal dengan mobil listrik.
Baca juga: Sri Mulyani Usulkan Ubah Skema Pajak Barang Mewah
Dalam aturan baru itu, mobil listrik akan mendapat manfaat PPnBM 0%. Saat ini, Indonesia memang tengah memacu industri tersebut demi menjadi pemasok terbesar di kawasan ASEAN.
"Kalau di Asia, India menargetkan diri menjadi induk. Ada juga Jepang. Kita mencoba bersaing dengan Thailand di kawasan. Kita harap kebijakan ini bisa membuat kita lebih di depan," tuturnya.
Airlangga menambahkan, perubahan skema PPnBM diproyeksikan berlaku pada 2021. Hal tersebut mempertimbangkan kesiapan para pelaku usaha.
Dengan tenggat waktu dua tahun, pelaku usaha diharapkan akan mampu melakukan penyesuaian dengan teknologi atau bisa memenuhi syarat untuk mendapatkan tarif PPnBM yang lebih rendah.
"Kami sudah berdiskusi dengan para pelaku usaha. Mereka sudah minta waktu dua tahun untuk menyesuaikan. Pabrikan Jepang yang sudah eksisting di industri otomotif sudah siap, juga pabrikan dari Eropa," tuturnya.(OL-5)
Industri makanan dan minuman Indonesia tumbuh 6,4% pada Triwulan III 2025. Namun, konsumsi susu nasional masih rendah dan ketergantungan impor bahan baku jadi tantangan utama.
PENGUATAN pendidikan vokasi merupakan strategi utama dalam membangun industri nasional yang bernilai tambah tinggi, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
KEPALA Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Doddy Rahadi menyebutkan bahwa pendidikan vokasi menjadi tulang punggung industri.
KEPALA Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat pendidikan vokasi industri.
Guna mencetak SDM industri yang kompeten, salah satu langkah strategis yang dilakukan Kemenperin adalah penyelenggaraan Pelatihan Industrial-Based Curriculum (IBC).
Program ini merupakan peta jalan strategis untuk mengimplementasikan revolusi industri keempat di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved