Rabu 06 Maret 2019, 18:09 WIB

30% CPO Diproyeksikan untuk Kebutuhan Energi Dalam Negeri

Andhika Prasetyo | Ekonomi
30% CPO Diproyeksikan untuk Kebutuhan Energi Dalam Negeri

ANTARA

 

MASYARAKAT Biohidrokarbon Indonesia (MBI) menargetkan pada 2025 sebanyak 30% produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia dapat masuk ke sektor energi di dalam negeri. Saat ini, serapan yang terealisasi baru sebesar 8%.

Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah mendorong penggunaan bahan bakar solar dengan bauran minyak kelapa sawit. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.

Baca juga: Infrastruktur Penting untuk Geoekonomi

Sebagian besar penjualan CPO, yakni mencapai 78%,  ditujukan untuk mancanegara. Hanya 22% yang digunakan untuk keperluan dalam negeri. Itu membuat harga CPO Indonesia sangat rentan mengalami fluktuasi. Ketika permintaan dari pasar global berkurang, harga akan mengalami penurunan drastis sehingga menimbulkan dampak buruk kepada para petani sawit.

"Tren ini harus diubah. Kita harus mulai mandiri. Stok ditujukan untuk penuhi pasar sendiri. Tidak lagi bergantung pada ekspor," ujar Ketua Umum MBI Sahat Sinaga di Jakarta, Rabu (6/3).

Ia memproyeksikan, dalam beberapa tahun ke depan, porsi serapan CPO untuk dalam negeri bisa mencapai 60% dan untuk ekspor hanya 40%. "Jika itu terjadi, kita akan menjadi pemimpin di dunia. Kita produsen terbesar, penyerap terbesar dan kita yang akan menentukan harga, bukan Malaysia atau Rotterdam," tegasnya.

Ia melihat, dalam beberapa bulan terakhir, tren serapan CPO untuk keperluan biofuel terus menanjak.

Baca juga: Menkeu: RI Hadapi Tantangan dari Negara Berpenghasilan Menengah

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), pada Januari 2019, minyak sawit yang tersalur untuk biofuel mencapai 552 ribu ton. Angka itu lebih tinggi raihan Desember 2018 yang hanya mencapai 507 ribu ton.

Ketika hasil CPO akan diprioritaskan untuk keperluan nasional, volume dan nilai ekspor tentu akan berkurang. Sahat memandang itu tidak akan berdampak buruk pada pendapatan devisa negara. Pasalnya, di sisi lain, pemerintah bisa memangkas impor solar sehingga devisa yang keluar juga dapat ditekan. (OL-6)

Baca Juga

Dok. DSC12

Kompetisi Wirausaha DSC12 Lahirkan Ide Bisnis Startup Digital Hingga Bisnis Ramah Lingkungan 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Senin 24 Januari 2022, 23:06 WIB
Seluruh pemenang DSC12 ini juga akan mendapatkan kesempatan pendampingan bisnis dari DSC selama 2 tahun ke...
Antara/Asprilla Dwi Adha

Kementerian PUPR Rampungkan 838 Tender Paket Proyek senilai Rp17,5 Triliun

👤Ini Nantika Jelita 🕔Senin 24 Januari 2022, 22:54 WIB
Total anggaran yang dikelola Kementerian PUPR di 2022 adalah Rp100,6 triliun. Sejak Oktober 2021 lalu telah dilaksanakan tender sejumlah...
Dok. Crown Textile

Dukung Pertumbuhan Industri Tekstil, Crown Textile and Tailor Buka Toko di Jakarta 

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 24 Januari 2022, 22:44 WIB
Crown Textile and Tailor siap menjawab kebutuhan pasar Indonesia bahkan Asia. Toko itu juga menyediakan berbagai jenis kain untuk berbagai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya