Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Media Indonesia Dukung Disertifikasi Energi

Nelly Marlianti
27/11/2015 00:00
Media Indonesia Dukung Disertifikasi Energi
(ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Melalui acara uji coba kelayakan mobil Bahan Bakar Gas (BBG) Media Indonesia ingin berkomitmen untuk mendukung diversifikasi energi terbarukan yang saat ini tengah berjalan.

Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia Gaudensius Suhardi menyatakan sebagai pemimpin media pihaknya ingin mengambil peran aktif untuk pembangunan bangsa dalam diversifikasi energi ini. Menurutnya selama ini program diversifikasi energi ini hanya dibicarakan saat harga minyak sedang tinggi. Padahal seharusnya pembicaraan mengenai diversifikasi ini harus terus didorong agar segera terealisasi.

"Kami berharap pembicaraan ini akan terus menurus tidak hanya di atas kertas saja. Saya yakin sebenarnya kebijakan ini sudah dipersiapkan. Hanya saja belum diumumkan," ujarnya.

Dia menilai, peralihan moda transportasi dari BBM menuju BBG ini dapat menjadi inovasi yang sangat baik kedepannya untuk perkembangan transportasi. Apalagi, bila harga kendaraan dengan BBG ini jauh lebih murah dari kendaraan yang menggunakan BBM.

"Tentunya diversifikasi energi ini harus juga didukung daya beli masyarakat. Harga harus terjangkau," tandasnya.

Ditempat yang sama Sekjen Dewan Energi Nasional (DEN) Satri Nugraha menyampaikan, pihaknya sudah lama membicarakan masalah diversifikasi dengan pihak Toyota selaku produsen dari mobil BBG. Saat ini pembahasan tersebut sudah dalam proses penyelesaian di Dirjen Migas. Pihaknya menegaskan, sudah sepakat dengan Diversifikasi kendaraan ini. Hanya saja, pihaknya masih menunggu kesiapan pemerintah dalam menyediakan gas yang ada untuk diversifikasi ini.

"Kami dari dewan melihat soal ini sangat mendukung. Hanya saja, kita harus mengatur dulu bagaimana strateginya, ketahanan energinya harus selalu tersedia. Di Indonesia ini memang baru, tapi di luar sana ini sudah diterapkan negara maju," ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dirjen Migas, I Gusti Nyoman Wiratmaja menegaskan, saat ini pemerintah tengah membangun SPBG di wilayah Jabodetabek, Surabaya, Semarang, Palembang dan wilayah potensial lainnya. Targeetnya, tahun 2019 pemerintah telah membangun 300 SPBG. Untuk wilayah Jabodetabek sendiri sudah ada 18 SPBG yang siap beroprasi.

"Seharusnya untuk wilayah Jabodetabek ini kami membangun 22 SPBG. Tetapi, hanya ada 18 yang bisa dibangun karena kekurangan lahan. Tahun depan, target kami bisa menambah 70 SPBG," ungkapnya.

Dia menilai, selama ini proses Diversifikasi berjalan lambat karena alat konverter kit yang belum bisa didistribusikan Dirjen Migas. Namun, dengan adanya Perpres 125 tahun 2015 mengenai perubahan distribusi Konverter Kit yang sudah dapat didistribusikan kementrian ESDM. Nantinya, untuk kendaraan umum dan dinas Konveter Kit ini akan disubsidi pemerintah. Sementara untuk kendaraan pribadi, pemerintah hanya menyediakan subsidi untuk harga gas sendiri yang akan dijual Rp. 3.100 per liter.

"Kalau untuk harga saat ini nonsubsidi gas diangka Rp4900 an. Ini yang kami subsidi untuk kendaraan pribadi dimana mereka hanya membayar Rp3.100 per liter," terangnya.

Pihaknya juga memastikan, dengan aturan baru mengenai kewenangan Kementrian ESDM yang dapat mendistribusikan Konverter Kit untuk kendaraan agar bisa berkonvesi dari BBM ke BBG, proses Diversifikasi energi ini akan cepat terlaksana.

"Selama ini sudah berjalan, tapi karena menunggu Perpres makanya bejalan lambat. Tapi sekarang Perpres sudah ada, SPBG sedang dimaksimalkan, saya yakin ini akan segera terealisasi," tandasnya.

Lebih lanjut, Direktur Corporate dan eksternal affairs Toyota I Made Dana Tangkas, untuk mobil toyota berbahan bakar BBG yang menjadi prototipe dalam program ini semuanya merupakan pabrikan Indonesia. Menurutnya, seluruh unit tubuh dan sparepart yang ada di dalam mobil di buat asli dari Indonesia, bukan produk import.

"Mobil ini dibuat di Indonesia, seluruh bagian dan suku cadang tidak ada yang import dibuat di Indonesia. Untuk uji coba ini kami membuat 6 unit dan sudah di distribusikan ke Kementrian untuk diuji coba dan dievaluasi," terangnya.

Terkait harga dari mobil bertenaga BBG ini Made, tidak membocorkannya lebih jauh. Bahkan untuk perkiraan lebih terjangkau dari kendaraan jenis BBM pihaknya enggan membuka suara.

"Kalau soal harga nanti saja ada bagiannya tersendiri," tutupnya.(Q-1)








Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya