Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM Bank Permata Josua Pardede melihat potensi ekonomi global pada tahun depan diperkirakan melandai seiring beberapa risiko perlambatan dari negara maju seperti AS. Selain AS, pertumbuhan Eropa dan Jepang pun diperkirakan akan melandai.
Perekonomian Tiongkok juga diperkirakan kembali melambat sebagai dampak pengenaan tarif impor yang lebih tinggi dari pemerintah AS. "Dengan demikian, sumber pertumbuhan ekonomi global yang akan sustain ditopang oleh negara berkembang antara lain Indonesia, India dan Brazil," ujar Josua saat dihubungi, Selasa (27/11).
Prospek pertumbuhan ekonomi negara berkembang yang stabil tersebut karena ekonomi domestik cukup kuat dan ketergantungan terhadap perdagangan internasional yang tidak terlalu besar. Hal itu melihat dampak ke pertumbuhan marginal mempertimbangkan prospek ekonomi AS dan ekonomi global pada umumnya.
"Prospek tersebut yang mendorong menaikkan posisi saham-saham negara berkembang menjadi overweight," imbuh Josua.
Perekonomian AS juga dapat menghadapi tantangan bahwa dampak ekspansi fiskal terhadap sektor riil juga akan lebih rendah dibandingkan tahun ini.
"Kalau kondisi global khususnya negara maju kembali melambat, secara rasional investor akan memburu yield/return investasi yang secara relatif lebih tinggi sehingga investor global pun akan meningkatkan komposisi investasi di pasar negara berkembang," tutur Josua.
Melihat tren data produk domestik bruto (PDB) Indonesia, kontribusi konsumsi rumah tangga dan investasi (PMTB) saja mencapai sekitar 80-90%-nya. Artinya, ketergantungan perekonomian indonesia pada perdagangan internasional cenderung marginal.
"Dengan kata lain, jika upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga daya beli masyarakat dan menjaga iklim investasi optimal, pertumbuhan ekonomi pun dapat stabil di kisaran 5%," jelas Josua.
Bila dilihat dari sisi perekonomian domestik seperti yang disampaikan oleh Presiden dan Gubernur BI siang tadi pada pertemuan tahunan Bank Indonesia (PTBI), Josua menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter akan meningkatkan ketahanan ekonomi domestik di tengah risiko global.
Di samping itu, reformasi kebijakan struktural yang akan terus dilanjutkan pada tahun depan juga akan meningkatkan iklim investasi domestik. Pada gilirannya, hal itu menarik bagi investasi portofolio dan investasi di sektor riil.
Sebelumnya, bank investasi dan lembaga jasa keuangan Morgan Stanley menyebut saham-saham di pasar negara berkembang bisa berubah secara signifikan tahun depan.
Dalam laporan Global Strategy Outlook 2019, lembaga tersebut menaikkan peringkat saham pasar berkembang dari 'underweight' menjadi 'overweight' (menguntungkan) untuk 2019. Adapun predikat ekuitas AS diturunkan ke 'underweight'.
Dengan begitu, Morgan Stanley lebih memilih saham di pasar negara berkembang dibandingkan AS karena memprediksi akan ada pertumbuhan yang stabil di negara-negara tersebut pada 2019, versus perlambatan ekspansi di Amerika Serikat.
Beberapa pasar negara berkembang yang menurut Morgan Stanley merupakan negara-negara utama dengan predikat 'overweight' adalah Brasil, Thailand, Indonesia, India, Peru, dan Polandia. Mereka memberikan predikat 'underweight' untuk Meksiko, Filipina, Kolombia, Yunani, dan Uni Emirat Arab.
"Kami pikir pasar bearish (menurun) hampir berakhir bagi EM (pasar negara berkembang/emerging market)," kata bank investasi tersebut, dalam laporan tertanggal 25 November itu. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved