Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

OJK Minta Bank Utamakan Efisiensi Ketimbang Naikkan Bunga

Fetry Wuryasti
23/11/2018 17:45
OJK Minta Bank Utamakan Efisiensi Ketimbang Naikkan Bunga
(MI/AGUS UTANTORO)

PENAIKAN suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7 Day Reverse Repo Rate membuka potensi mulai terkereknya suku bunga deposito dan bunga kredit perbankan. Hal ini, kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, memang tidak terhindarkan.

"Suku bunga (naik) ini sifatnya sementara. Ini sudah berkali-kali terjadi. Dahulu di Mei 2013, suku bunga naik, kemudian pelan-pelan turun. Kami harapkan nanti normalnya cepat," ujar Wimboh saat ditemui di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (23/11).

Meski begitu, Wimboh meminta perbankan menerapkan penaikan bunga mereka secara terukur dengan mempehitungkan secara saksama kompetisi yang terjadi. Likuiditas dinilainya masih cukup longgar sehingga tidak perlu panik untuk menaikkan suku bunga.

"Kami minta perbankan menaikkan bunga juga lebih secara terukur. Meningkatkan efisiensi lebih prioritas daripada menaikkan suku bunga. Ini otomatis kompetisi akan terjadi," tukas Wimboh.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan persoalan likuiditas pada perbankan lebih kepada masalah pendistribusiannya yang tidak merata antarbank. Oleh karena itu, BI merevisi porsi besaran giro wajib minimum (GWM) yang diserahkan oleh perbankan.

Pemenuhan GWM yang selama ini pada porsi rerata yang diserahkan dalam dua minggu sebesar total 2% menjadi 3% dari total GWM primer yang sebesar 6,5%. Dengan demikian, porsi jumlah GWM yang wajib diserahkan bank tiap hari menurun dari 4,5% menjadi 3,5% dari total dana pihak ketiga (DPK).

"Maka, likuditas harian di perbankan jadi ada tambahan 1% dari total DPK Rp4.500 triliun. 1% itu sekitar Rp4,5 triliun nilai tambahan, sehingga menjadi lebih leluasa untuk perbankan," jelas Dody pekan lalu.

Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pengaruh penaikan bunga acuan sebenarnya sudah mulai terasa di pola konsumsi masyarakat yang menahan untuk membeli properti lewat kredit pemilikan rumah (KPR). Kredit kendaraan bermotor juga melambat.

Bank pun lebih berjaga-jaga di tengah bunga kredit yang mahal. Mereka akan sangat selektif memilih calon debitur dengan risiko kredit yang rendah.

"Perang suku bunga bank mencapai puncaknya 1-4 bulan ke depan, tidak hanya berebut dana simpanan sesama perbankan tapi juga dengan perusahaan dan pemerintah," jelas Bhima.

Akhir tahun pemerintah menggenjot penerbitan surat berharga negara (SBN) untuk memenuhi lebih awal kebutuhan belanja pemulaan 2019. Imbal hasil SBN menjadi lebih menarik di 8,3% untuk tenor 10 tahun.

Crowding out effect bisa terjadi, dana akan pindah dari bank masuk kantong pemerintah. Deposan juga mulai melirik perusahaan swasta yang mencari pendanaan alternatif seperti menerbitkan obligasi atau right issue saham.

"Perangnya akan sangat brutal. Saat ini saja rata-rata LDR bank sudah 94%. Untuk bank yang modalnya cekak situasi ini repot," tukas Bhima. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya