Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Pertumbuhan KPR Andalkan Program Subsidi Pemerintah

Yanurisa Ananta
15/11/2018 19:40
Pertumbuhan KPR Andalkan Program Subsidi Pemerintah
(ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

PERTUMBUHAN sektor properti diprediksi melambat tahun depan. Meski demikian, penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap akan bertumbuh. Pasalnya, pangsa pasar produk KPR FLPP, yakni generasi milenial masih terus ada.

Executive Vice President Consumer Loans Bank Mandiri, Ignatius Susatyo Wijoyo, mengatakan KPR FLPP dengan harga Rp300 juta-Rp500 juta masih akan bertumbuh 200%.

"Harga rumah (sampai dengan) Rp500 juta tumbuhnya 200%. Sementara yang harganya Rp500 juta-Rp1 miliar masih akan tumbuh tapi tidak sekencang yang FLPP, cenderung stagnan. Memang agak slow down. Untuk harga rumah di atas Rp2 miliar bahkan cenderung negatif," ungkap Ignatius di Plaza Mandiri, Kamis (15/11).

Secara total, lanjut Ignatius, pertumbuhan penyaluran kreddit kemungkinan akan datar. Pasarnya tetap ada, namun lebih untuk segmen tertentu. KPR FLPP disebut masih akan tetap menjadi primadona karena usia milenial semakin banyak.

Ignatius menjelaskan, generasi milenial saat ini lebih rela menyisihkan uangnya untuk gaya hidup. Padahal, bila dikalkulasi jumlah uang yang digunakan memenuhi kebutuhan gaya hidup sama dengan biaya menicil rumah yang dibutuhkan di masa depan.

"KPR pertama sebenarnya boleh tanpa DP. Tapi tidak semua pengembang mau tanpa DP karena butuh jaminan kalau sampai gagal bayar mereka harus beli balik. Jadi, kita siapkan khusus nasabah payroll Mandiri kalau mau ambil KPR tidak bayar DP," ujar Ignatius.

Untuk bunga kredit tahun depan pun masih akan menyesuaikan dengan suku bunga yang dipatok Bank Indonesia (BI). Kenaikannya diprediksi tidak akan hingga 1% di tahun depan. Paling tidak, lanjut Ignatius, gerakan kenaikan suku bunga hanya sekitar 25-50 basis poin.

Kendati demikian, Ignatius menilai kenaikan suku bunga bukan hal sensitif bagi KPR FLPP. Terutama untuk rumah maksimal seharga Rp500 juta yang lebih sensitif terhadap disetujui atau tidaknya pengajuan kredit.

"FLPP tidak sensitif terhadap bunga. Mereka lebih sensitif terhadap approval. Kecuali rumah Rp2 miliar itu baru bunganya besar. Kalau harga rumah Rp500 juta selisih bunga denan 50 bps itu tidak terlalu besar," imbuhnya.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya mengatakan, pasar FLPP merupakan pasar yang tidak terbatas. Selain untuk kebutuhan dasar, properti merupakan instrumen investasi pilihan terbaik. Walau akan mengalami pelambatan di tahun depan, sektor properti akan tetap menjadi lokomotif ekonomi Indonesia.

"Properti adalah lokomotif di Indonesia karena begitu properti bergerak, lebih dari 140 industri terkait ikut bergerak. Bukan cuma pabrik semen, besi bahkan gorden, lampu, kulkas, mobil dan motor," tutur Bambang.

Di Singapura, lanjut Bambang, FLPP menjadi tanggung jawab pemerintah, sedangkan di Indonesia FLPP dilakukan sebagai bisnis. Di Indonesia, sebesar 70% pengembang adalah pengembang FLPP.

"Itu menunjukkan bahwa potensi FLPP masih akan ada. Di tingkat dunia pun kita gaungkan FLPP itu," pungkas Bambang.

Agar lebih dekat dan memudahkan calon nasabah KPR, Bank Mandiri dan REI akan menggelar pameran perumahan bertajuk REI Mandiri Property Expo. Pameran akan berlangsung dari Sabtu, 17 November sampai 25 November 2018 di Jakarta Convention Center (JCC). Pameran diikuti oleh 40 pengembang dengan total 125 proyek perumahan. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya